TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
PULANG



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 “Almarhum suaminya dulu wakil lurah Yah,” Namira memperjelas posisi Misah.


“Kalau calonnya orang mana ya?” goda Almi pada sang bibi.


“Ha ha ha, besok lah langsung kenalan,” jawab Misah malu karena digoda keponakannya.


“Sebentar lagi kita kondangan ya Yah,” Namira menambah panas obrolan dengan memasang kompor.


“Eh belum. Belum undangan. Aduuuuuuuh belum,” Misah jadi serba salah.


“Makanya kasih tahu calonnya,” desak Almi.


“Orang kecamatan wae lah,” Misah menyerah dan menjawab desakan dua keponakannya itu.


Namira dan Almi tertawa senang berhasil menggoda bibi mereka.


***


Kemarin siang Nenden dan Prabu terpaksa pulang ke Jakarta karena ada kegiatan Nenden yang tak bisa diwakilkan. Dan pagi ini dokter membolehkan Wulan untuk pulang.


“Paklek, siang ini kami bisa pulang ke rumah. Sore nanti paklek, Riesty dan uwak Jum saya tunggu dirumah ya. Uwak Jum dan Riesty naik taxi saja, nanti saya bayar taxi di rumah. Paklek ngawal pakai motor,” August yang sedang mengurus pembayaran administrasi rawat Wulan langsung menghubungi Paklek Suparman.


“Iya, nanti sore kami akan kesana,” sahut paklek cepat. Dia senang keponakannya sudah sembuh.


“Kami pulang siang ini Pi. Terima kasih udah nemani selama ini,” August menjawab telepon yang Prabu lakukan persis saat menutup telepon untuk paklek Suparman.


“Ini aku lagi urus administrasi. Sekalian minta surat keterangan kalau Wulan harus bed rest. Jadi kampus akan memberi keringanan. Kalau dia alpa tanpa keterangan kan bisa enggak dapat keringanan,” sahut August.


“Paklek dan tenaga kerja yang buat nemani Wulan kalau siang sudah kamu kabari?” tanya Prabu. Dia benar-benar khawatir menantunya sendirian selama August bertugas.


“Sudah barusan aku telepon dan mereka akan ke rumah setelah paklek pulang kerja,” jawab August.


“Kasih tahu Wulan, jangan marah kalau mami akan selalu pantau dia selama kamu kerja. Mami sangat sayang ke Wulan. Dia beneran kepikiran,” Prabu akhirnya menutup sambungan telepon dengan menyampaikan salam. Dia sedang meeting, taapi bila Nenden atau August yang menghubungi, dia selalu akan angkat.


“Sweety, semua surat sudah siap. Sebentar Ayah beberes dulu. Ibu diam aja ya. Nanti Ayah pinjam kursi roda buat bawa barang dan Ibu ke mobil. Ibu harus bersabar menekan ras pengen ngerjain semuanya,” August mengecup kening istrinya. Dia tahu Wulan serasa ingin turun dan membereskan semua barang mereka diruangan ini.


“Mas tahu aja. Aku pengen beberes barang-barang kita,” jawab Wulan jujur.


“Pasti tahu lah. Kalau Ibu enggak sayang Dede ya silakan aja beberes. Nanti di rumah sendirian juga enggak ada yang ngawasin. Jadi semua tergantung ama keinginan Ibu aja,” sahut August dan dia mengecup bibir Wulan.


“Enggak. Ibu enggak akan ngelanggar larangan dokter,” sahut Wulan patuh. Dia tahu akibatnya bagi dede bila dia melanggar aturan dokter. Dan dia tak ingin itu terjadi.


“Ayah tahu pasti berat, tapi harus sabar ya,” pinta August sambil memasukkan baju mereka berdua ke tas baju besar miliknya.tas baju milik Wulan sudah penuh.


“Sekarang Ayah mau masukin ini ke mobil dulu. Sekalian cari dus besar untuk masukin barang yang masih tersisa. Ibu sabar. Jangan turun sendiri ke kamar mandi. Ponsel sudah di Ibu kan? Hubungi Ayah kalau ada apa-apa,” walau hanya akan ke parkiran August pamit dan mencium kening istrinya.


“Sabar ya De, sebentar lagi kita pulang ke rumah,” August mengusap perut istrinya lalu berlalu membawa tas besar miliknya dan milik Wulan.


August kembali membawa dua kardus yang dia beli di toko seberang rumah sakit berikut tali rafia. Dia pun memasukkan semua barang dan kembali ke mobil untuk sekalian meminjam kursi roda.


Mereka pulang setelah Wulan dan August selesai makan siang. Karena dari rumah sakit Wulan masih mendapat jatah makan dan sejak tadi August sudah membeli makanan untuknya.


“Kita pamit ke dokter Syahrul dan Laura dulu ya. Waktu itu mereka datang tapi pas Ibu sedang tidur jadi enggak bisa ketemu,” ajak August pada Wulan. August tak memberitahu kalau saat itu dokter sempat melarang Wulan tak boleh menerima tamu karena kondisi pikirannya yang tak baik.


“Ini buah yang kita beli untuk dokter Syahrul,” August memberikan bingkisan buah untuk dipangku Wulan.


Wulan memegang pipi dan rahang suaminya tanpa menoleh. “Bismillah, semoga aku enggak harus dirawat karena sakit lagi. Ayoooook,” ajak Wulan.


“Aaamiiiin Allohuma aamiiiiin,” jawab August cepat. Dia lalu melangkah mendorong kursi roda menuju ruang rawat dokter Syahrul.


***


“Haiiiiiiiiii … senangnya, sudah boleh pulang?” tanya Laura ketika membukakan ruangan rawat Syahrul.


“Iya Bu, alhamdulillah sudah boleh pulang walau harus bed rest,” jawab Wulan.


“Bagaimana kondisi Uda?” tanya August sambil mendorong istrinya mendekati sofa. Karena Laura dan Syahrul sedang duduk disana.


“Lumayan. Bi cara mulai lan car. Dan kaki juga cukup baik perkem bangannya,” jawab Syahrul dengan senyum manisnya.


“Semoga juga cepat bisa pulang ya Da,” August tulus mendoakan Syahrul.


“Aaamiiiiiin,” sahut Laura dan Syahrul bersamaan.


“Maaf, kami tidak bisa lama. Wulan masih harus banyak tiduran,” August langsung pamit.


“Iya. Kamu jaga kesehatan Lan. Ikuti anjuran dokter biar aman bayi kalian,” Laura memberi nasihat pada Wulan.


“Iya Bu. Terima kasih. Assalamu’alaykum,” pamit Wulan.


***


“Mau mampir beli sesuatu? Biar Ayah turun kalau mau beli-beli,” August bersiap menyalakan mesin mobilnya.


“Beli lauk aja buat malam ini Yah. Kan katanya ada Riesty, paklek dan uwak Jum. Nasi nanti Ayah bisa masak kan?” tanya Wulan.


“Bisa. Masak nasi pakai dandang aja Ayah bisa koq,” sahut August sambil menjalankan mobilnya keluar parkiran rumah sakit.


“Buah ada enggak Yah?” tanya Wulan.


“Enggak tahu buah kita di kulkas masih bagus enggak selama kita tinggal satu minggu. Sekarang yang kamu inginkan buah apa. Itu aja dulu yang kita beli,” sahut August. Dia sudah tertular kebiasaan Wulan tak boleh membuang makanan. Jadi lebih baik dia lihat dulu stok buah yang masih bagus di kulkas nanti.


“Melon yang isi kuning aja,” sahut Wulan.


Akhirnya August membeli lauk matang di warung makan padang yang mereka lewati. Juga membeli melon serta snack untuk Wulan yang hobby ngemil. Tak lupa suusu coklat cair di kotak besar. Tak tanggung-tanggung dia membeli satu dus suusu coklat cair ini. Selain susuu ibu hamil memang minuman Wulan hanya suka itu.


“Kalau yang kemasan botol kecil belum Ayah belikan karena Ibu belum berangkat kuliah. Kalau dirumah minum yang ini aja ya,” August menerangkan mengapa dia membeli kemasan kotak besar bukan botol kecil seperti biasa.


\======================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL WANT TO MARRY YOU  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta