TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
AKU SUDAH MEMBERINYA TALAK 3



YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


======================================================================  


Keluar dari toko buku, tak sengaja Ilyas melihat toko perlengkapan bayi. Jiwanya seakan langsung tersedot untuk memasukinya. “Anaknya lelaki atau perempuan Pak, usia berapa?” tanya pegawai yang menyambutnya di depan pintu.


“Laki-laki usia tiga bulan, tapi badannya besar,” jawab Ilyas dengan pasti. Untuk anak usia 3 bulan memang Ilham cukup besar.


“Baik, mari saya tunjukkan lokasi pakaian untuk anak laki-laki seusia anak Bapak,” pegawai itu membantu Ilyas menunjukkan lokasi yang sesuai kebutuhannya. Lalu dia mundur kembali ke pintu depan untuk menyambut konsumen berikutnya.


Banyak pakaian, sepatu, topi hingga alat mandi dan mainan yang Ilyas beli untuk Ilham.  Dan dia pun menyudahi belanjanya lalu segera membayar ke kasir. Padahal awalnya hanya ingin beli buku untuk dirinya, akhirnya malah beli buku untuk Nindi. Eh tak sengaja malah juga beli baju untuk Ilham, padahal tak ada niatan selalu berlaku adil pada keduanya.


‘Teteh dan ade harus sama-sama dibelikan. Teteh dapat buku dan ade dapat baju. Adil!’ pikir Ilyas.


***


“Bu,” Wulan sengaja mendekati Laura malam ini. Siang tadi Laura baru kembali dari Jakarta sehingga baru malam ini dia mengunjungi panti asuhan miliknya.


“Hai Lan, selamat ya atas kelulusanmu. Dan yang pastinya selamat karena dede sudah aman sekarang,” Laura menyodorkan tangan memberi ucapan selamat atas kelulusan Wulan yang diumumkan kemarin pagi.


“Terima kasih Bu. Saya mau memberi tahu soal kelanjutan kuliah saya,” Wulan menerima tangan  Laura.


“Kenapa? Kamu mau tinggal di Jakarta? Kemarin saya sudah memberi tahu pada mama dan maminya Tommy. Mereka senang koq kalau kamu mau tinggal dengan mereka,” Laura menjawab dengan cepat. Kemarin saat di Jakarta mami dan papi Tommy memang datang menjenguk opa Greg.


“Bukan Bu. Sepertinya jawaban doa saya adalah saya tetap di sini. Saya akan ambil kuliah di fakultas Hukum,” jawab Wulan.


“Padahal hatimu berat ke Kebidanan ‘kan? Saya lihat itu dengan jelas,” Laura mencoba mengorek hati Wulan.


“Benar Bu. Saya lebih berat ke Kebidanan. Tapi tak pernah sekali pun ada petunjuk untuk mengambil kuliah disana,” balas Wulan.


“Allah lebih tahu, maka saya minta kamu mantabkan hatimu. Kamu atur pikiran dan perasaanmu agar kamu bisa nyaman menerima garis hidupmu,” nasihat Laura.


“Jadi kapan kamu mau mulai mendaftar kuliah?” tanya Laura.


“Setelah copy ijasah saya terima, saya akan melapor ke universitas Bu,” Wulan menjelaskan langkah awal yang akan dia tempuh.


“Ok. Kamu harus terus bersemangat. Kamu enggak boleh putus asa. Kalau ada batu sandungan, kamu harus share pada saya,” Laura terus berjalan melihat anak-anak asuhannya yang mayoritas sudah tidur. Setiap kamar bayi atau balita ada seorang pegawai yang tidur berjaga tergantung jadwal. Itu untuk melayani bila bayi atau balita itu menangis tengah malam.


“Mom, sepertinya Faisal demamnya tinggi, sejak siang sudah diberi obat tapi belum ada penurunan signifikan,” lapor Wida yang bertugas malam di ruang balita 3.


“Baik, kamu beri kompres instan ya, saya tanya dokter yang bisa kita kunjungi malam ini,” jawab Laura.


“Wa’alaykum salam,” Laura menjawab salam dari orang yang dihubunginya. “Dok, apa kami bisa ke rumah? Karena ada balita demam sejak siang. Sudah diberi obat turun panas. Siang tadi yang menangani dokter Sandi, tapi saat itu panasnya belum seperti sekarang,” Laura berkata formal.


“Abang aja yang ke panti. Sebentar Abang ganti baju dan nyiapin obat yang mungkin ada stocknya,” Syahrul yang dihubungi Laura segera bersiap.


“Tunggu saja, dokter Syahrul akan datang kesini sehingga kita enggak perlu membawa Faisal keluar,” Laura mengusap lengan Faisal dengan lembut. Lalu Laura kembali berkeliling menengok para kurcaci kesayangannya. Dia menatap penuh cinta pada semua anak dan bayi disana. Selesai memeriksa semua anak, Laura kembali ke rumahnya. Dia tak ingin bertemu Syahrul di panti, karena tak ingin para pegawai mendengar apa yang mereka bicarakan dan para pegawai tentu akan tahu kedekatan dirinya dengan Syahrul. Selain pegawai yang di rumah, memang pegawai panti tak ada yang tahu kalau Syahrul sering ngobrol diluar urusan panti dengan Laura.


***


“Sebenernya, Aku enggak suka dengan rencana Nazwa. Tapi kalau hanya itu yang bisa menghentikan action mantan istrimu, ya mau bagaimana lagi?” Laura memberi pendapat setelah Syahrul menceritakan semua hasil diskusinya dengan anak-anaknya.


“Abang juga bingung. Tapi Ida memang keras kepala. Tak ada yang bisa menghentikan. Abang ancam, dia malah langsung datang ke anak-anak. Dan sedihnya membuat mereka salah paham. Mereka enggak cerita ke Abang katanya biar Abang dan Ida tenang kalau mau rujuk. Mereka enggak akan menghalangi, tapi tetap enggak akan mengakui Ida adalah ibunya. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka soal Ida. Mereka bilang ibu mereka hanya kamu,” Syahrul sambil menatap lekat mata Laura.


‘Ternyata anak-anak mengatakannya pada dia,’ batin Laura mendengar cerita Syahrul. “Lalu, belum ada info dari teman Abang di Lampung?” tanya Laura. Dia tak mau membahas masalah opini anak-anak tentang dirinya.


“Sampai saat ini belum, tapi Abang yakin Rido akan mencari info yang Abang butuhkan,” jawab Syahrul.


“Kalau anggapan anak-anak benar, ‘kan bagus Bang,” pancing Laura.


“Anggapan soal apa?” Syahrul malah bingung.


“Soal Abang mau rujuk dengan mantan,” ejek Laura.


“Abang sudah memberinya talak 3 padanya. Abang enggak akan sudi kembali dengannya, walau saat itu belum tahu tentang keburukkannya pernah hamil duluan dan selingkuh. Tapi perbuatannya meninggalkan 2 balita buat Abang sudah bukan sikap ibu yang baik. Buat Abang itu tak termaafkan! Dan yang pasti dia mendekati anak-anak bukan untuk rujuk, tapi untuk memiliki hak asuh. Karena sampai saat ini dia juga masih menikah dengan suami sahnya.” Syahrul menjawab dengan sedikit marah. Bukan marah pada Laura, tapi dia kesal pernah ditipu mantan istrinya. Dia baru tahu semua kebusukan ida 2 tahun lalu saat Rido bertemu dengannya di Jakarta.


***


Malam ini infus Bastian dibuka. Tinggal melihat hasil perkembangan terakhir, kemungkinan besok sore atau lusa Bastian bisa pulang. Tentu saja bu Tuti dan pak Achdiyat yang menerima telepon dari Julia sangat senang. “Besok dari rumah sakit, aku langsung pulang ke rumah ya?” Julia memberitahu Bastian soal keinginannya.


“Kenapa?” tanya Bastian lembut. Ini sudah sangat berubah. Dulu dia pasti tak akan bertanya, tapi langsung melarang tanpa perlu tahu alasan kekasihnya itu.


“Aku harus packing kiriman konsumenku dulu. 2 hari ini aku mbolos ngirim pesanan,” jawab Julia.


‘Oh iya, sekarang dia punya kewajiban pada konsumen yang sudah membeli dagangannya,’ Bastian langsung menyadari pengorbanan Julia untuknya. “Iya, terima kasih sudah nemani,” Bastian mencoba merengkuh kekasihnya. Sekarang dia bebas memeluk tak terganggu selang infus.


\=========================================================


Sambil nunggu cerita ini update besok, kita buka cerita TAMAT milik yanktie yooook


Judulnya CINTA KECILNYA MAZ


Sejak SMP Anto mencintai Dini. Orang akan menganggap cinta mereka cinta monyet anak ingusan. Tapi itu bukan cinta tak berarti. Saat Dini terpaksa menikah karena hamil akibat diperkosa, Anto pun menyetujui usul sang mama untuk menikah dengan Shinta.


Siapa sangka Anto mendapat sampah. Saat itu Shinta sedang hamil 2 bulan tanpa tahu siapa ayah biologis bayi dalam kandungannya itu.


Saat Anto dan Dini sudah sama-sama sendiri, mereka bertemu lagi. Kali ini Anto tak mau kehilangan cinta sejatinya itu. Mampukah Anto menyatukan cinta mereka, sedang Dini sudah takut akan pengkhianatan?



*CeritaKESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCURadalah sequel dari kisah*CINTA KECILNYA MAZ


Berkisah tentang Steve sahabat Anto yang terpana kecantikan Sari adik sahabatnya. Steve ingat saat terakhir melihat Sari, gadis itu masih SD sedang dia sudah kuliah.


Mampukah Sari menyingkirkan banyak kerikil dari mantan Steve yang bahkan hampir membunuhnya?