
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
tiap kalai Yanktoe suka minta setangkai mawar baik sebelum atau sesudah bab yang yanktie update.
Terima kasih, untuk beberapa nama pembaca setia yang rajin kasih lie dan hadia setangkai bunga seperti foto dibawah ini yaaa
Tapi jangan lupa, Yanktie juga menunggu secangkir kopi sebagai pemacu semangat seperti foto dibawah ini
SELAMAT MEMBACA EPISODE HARI INI
“Memang kamu kapan mulai kerja Gust?” tanya Prabu.
“Senin depan Pi,” sahut August.
“Aku saranin ada pembantu di rumah untuk temani Wulan selama aku kerja. Tapi dia enggak mau. Dia ingin kami berdua dulu buat lebih dekat. Jadi ya aku setuju aja dia akan menginap di panti asuhan selama aku kerja. Karena aku enggak mau dia sendirian tanpa teman dirumah,” August menerangkan mengapa WSulan akan tidur di panti asuhan selama dia bekerja.
August dan Wulan tak ingin keluarganya mengira yang salah tentang kebijakan yang mereka ambil.
“Mengapa tidak minta temani paklekmu?” tanya oma penasaran.
“Kasihan paklek Oma, jarak sekolah Riesty jauh kalau dari rumah kami. Nanti dia harus berangkat pagi-pagi sekali selama lima hari. Selama kami masih bisa, kami tak ingin merepotkan orang lain,” tukas Wulan dengan percaya diri.
‘Saat perempuan lain aji mumpung. Menantuku malah tak mau diberi kenyaman berlebih. Dia memilih menyumbangkan waktu dan tenaganya tanpa bayaran daripada tidur nyaman dengan pembantu dirumahnya sendiri,’ Nenden bisa menilai seperti apa istri yang putranya peroleh.
Sesudahnya Prabu, Bagas dan August terlibat pembicaraan serius masalah perusahaan. Sesuai kesepakatan, August boleh menikahi Wulan dan tinggal di Bandung asal mau bekerja memimpin perusahaan milik Prabu. Walau memang tidak secara tiba-tiba. Tapi August harus memulainya sedikit demi sedikit.
Sedang kaum perempuan termasuk oma pergi shopping.
***
“Kalau anda tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi, jangan asal bicara mengenai istri saya!”
Almira masih memikirkan kejadian kemarin siang di mall. Dia baru dua hari tiba di Indonesia. Lalu dia tidak pulang ke Bogor, karena dia tahu sudah tak ada rumah di kota itu. Suaminya entah kemana. Awalnya dia percaya pada adiknya yang mengatakan rumah disita karena suaminya menggadaikan rumah itu lalu tak pernah bayar angsuran.
Tapi akhirnya dia mendengar dari temannya kalau suaminya selingkuh dengan Namira adik kandungnya.
Padahal selama ini dia full mengirim biaya hidup untuk suami dan anak mereka. Entah mengapa rumahnya harus digadaikan. Apakah digunakan Halim untuk foya-foya dengan Namira. Dia juga tak tahu. Dan sekarang Almira tak mau tahu.
Kemarin dia melihat Namira berjalan keluar dari rumah makan bersama seorang anak perempuan kecil dan seorang lelaki yang menggendong bayi didadanya. Dengan geram Almira langsung memaki-maki Namira. Baru beberapa kalimat dia lontarkan, lelaki muda yang tampan, yang bersama adiknya menyeret dirinya ke pos satpam mall itu.
“Saya suami Namira. Kalau anda tak tahu apa-apa dan hanya mendengar berita sampah tentang istri saya anda jangan asal bicara. Atau saya akan menuntut anda dan melaporkan anda ke polisi!”
‘Suami? Beberapa kali aku dengan lelaki itu menyebut dirinya menyebut Namira adalah istrinya!’ Almira berpikir berulang-ulang.
“Anda tahu, suami anda yang ba-jingan itu menggadaikan rumah untuk main judi, main perempuan dan mabuk. Saat mabuk dia memperkosa adik kandung anda!”
‘Lalu dimana Halim dan Nindi anak mereka? Apa benar Halim memperkosa Namira sehingga hamil?’ Almira makin puyeng mencerna kalimat yang dia dengar kemarin.
“Dan saat rumah disita, adik anda hamil karena perkosaan itu. Saat hamil dia harus menghidupi anak perempuan anda. Anak yang telah anda terlantarkan! Masih mau bilang istri saya pelakor? Tanpa istri saya menjadi buruh cuci, anak anda sudah mati kelaparan atau jadi pengemis!”
Almira ingin tak percaya berita yang keluar dari mulut lelaki itu. Tapi dia merasa kalau kalimat itu adalah kebenaran. Tak mungkin lelaki itu begitu marah bila kenyataannya Halim selingkuh dengan Namira. Lelaki itu marah pasti karena berita perselingkuhan itu yang tidak benar. Yang benar adalah apa yang lelaki itu katakan.
Walau sejak Nindi lahir dia tak pernah mengurus anak itu. Walau tak pernaha da rasa cinta pada anak kandungnya. Tapi kalau anak itu harus mengemis atau mati kelaparan tentu dia tak rela. Karena selama ini dia selalu mengirim uang pada Halim sebelum dia mendengar soal perselingkuhan suaminya itu.
“Anda tanpa cek kebenaran langsung percaya kalau adik kandung anda berkhianat pada anda. Padahal dia berjuang untuk menghidupi anak kandung anda. Anda perempuan breng-sek tak bermoral!”
“Satu kali lagi saya melihat anda bicara buruk tentang istri saya, saya tak akan memandang anda adalah kakak kandungnya. Saya akan geret anda ke kantor polisi. Camkan itu baik-baik. Dan jangan pernah lagi temui atau tegur istri saya bila kita bertemu. Karena sejak saat ini saya katakan dengan tegas, anda bukan kakaknya. Seorang kakak akan bertanya dulu baik-baik bukan langsung menuduh tak berdasar.”
‘Benar! Aku tak bermoral seperti yang lelaki itu katakan. Aku tak mencari kebenarannya langsung menuduh. Besok aku harus kembali ke Bogor untuk mencari info yang sebenarnya sekalian mengurus surat pindah domisiliku ke Bandung,’ Almira berniat mencari kebenaran tentang adik dan putrinya.
Walau nanti setelah aku tahu kebenarannya, Namira dan Nindi tak mau bertemu lagi denganku. Setidaknya aku tak akan salah lagi menuduh Namira.
Aku bersyukur dia mendapat lelaki gagah yang sangat mencintainya. Walau baru melihat satu kali, tapi aku yakin lelaki itu sangat mencintai Namira dengan sepenuh hati.
***
Pagi ini selesai sarapan, Namira sibuk menyiapkan makanan Ilham juga makan siang untuk bibik dan Nindi. Dia tak ingin bibik repot. Semua dia siapkan secara sempurna. Sejak bangun subuh tadi Namira sudah memberitahu rencana kepergiannya siang ini pada bibik.
Ilyas dan Namira berangkat jam sepuluh pagi. Mereka hendak mencari sepatu dan tas untuk pelengkap gaun guna menemani Ilyas diacara wisuda lelaki itu. Tentu juga mereka akan makan siang dan belanja yang lain.
“Janji ya Yah, jangan bohong!” Namira sudah mengancam Ilyas agar tidak membohonginya karena dia tak ingin mereka ribut di mall.
“Iya Honey, cintaku, istri sholehahku, Ayah enggak akan ngelanggar janji ama Bunda,” jawab Ilyas sambil menyalakan mesin mobilnya.
Semalam Namira mau pergi berdua dengan Ilyas asal tidak nonton bioskop dan Ilyas harus selalu merespon apa yang Namira tanya. Dia kapok saat belanja dengan Ilyas lalu dijawab terserah.
***
“Ayah inget enggak warna gaun itu, lebih dekat ke yang ini atau ini?” bisik Namira pada Ilyas sambil memperlihatkan dua buah tas.
“Ini Bund, semoga bisa membantu,” Ilyas memperlihatkan foto gaun pemberian Laura. Sengaja sebelum berangkat tadi dia membuat foto, takut istrinya tanya warna yang sesuai. Dan ternyata memang diperlukan.