TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
SIAPA ARIANO?



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


***YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.  Jangan lupa tinggalin komen manisnya  ***


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


“Jadi hari Kamis besok jadwalnya kamu menceritakan kronologi kejadian?” tanya  Syahrul.


“Iya, aku akan menceritakan awal kejadian dan juga sekalian aku mau nge boom biar langsung vonis aja. Malas bertele-tele,” sahut Laura.


“Kamis jam berapa?” Syahrul ingin datang.


“Sama dengan tadi. Jam sembilan,” jawab Laura.


“Laura,” sapa seorang pemuda ganteng yang kebetulan melewati saung yang diduduki Laura dan Syahrul.


“Eh Pak Ariano, makan disini juga?” tanya Laura sopan. Sedang Syahrul memandang dengan penuh curiga. Sebalnya tanpa tahu malu Ariano langsung copot sepatu dan masuk ke saung itu.


“Eh kenalkan, ini dokter Syahrul, dia dokter relawan di panti asuhan. Dan ini Ariano, yang kemarin menangani renovasi panti asuhan,” Laura memperkenalkan keduanya.


“Kamu baru datang? Dengan siapa?” tanya Laura pada Ariano.


“Enggak, Abang sudah selesai makan koq. Barusan pas ke toilet lihat kamu,” jawab Ariano dengan pedenya membahasakan dirinya ABANG sesuai keinginannya.


‘Abang? Apa maunya anak kecil ini? Kalau hanya berhubungan dengan pekerjaan, biasanya Laura akan menjaga jarak. Dengan August saja mereka bisa akrab setelah bertemu dirumah Laura di Jakarta. Siapa dia?’ radar Syahrul langsung menangkap signal tak beres dengan sosok Ariano.


“Kasihan dong teman makannya ditinggal lama kalau kamu mampir kesini,” tanpa sengaja Laura mengusir Ariano. Tapi Ariano adalah sosok pejuang tangguh. Dia tak akan mundur walau badai menghadang.


“Sabtu libur ‘kan? Abang jemput ketempatmu ya. Kita hang out,” ajak Ariano tanpa malu didepan Syahrul.


“Maaf, hari Sabtu dan Minggu jadwalku sudah penuh. Aku punya acara sejak sarapan,” jawab Laura. Dia ingat ada janji dengan anak-anak Syahrul di hari Sabtu. Dan hari Minggu dia ingin bermalasan, persiapan untuk sidang hari Senin.


“Baiklah, Abang akan jemput hari lain sore setelah Abang pulang kerja,” sahut Ariano. Tak terbebani dengan penolakan yang Laura berikan.


“Pak dokter, saya duluan. Sampai jumpa lain waktu,” Ariano pamit pada Syahrul yang menatapnya dengan geram.


“Abang pergi dulu ya, tunggu kedatangan Abang di panti,” Ariano pun pamit pada Laura.


“Keren ya cowoq itu, bisa langsung dapat sebutan akrab ABANG. Padahal baru sebentar bekerja sama dengan panti. Aku dan Ilyas yang bertahun-tahun dipanti aja enggak bisa cepat dapat panggilan akrab. Bahkan sampai saat ini, Ilyas masih tetap disebut dokter dan aku hanya kamu sebut Abang diluar panti itu pun jarang-jarang,” sarkas Syahrul sambil menghabiskan juice sirsak miliknya.


“Enggak usah jealous enggak jelas seperti itu. Apa dari tadi dengar aku panggil dia abang? Dia yang nyebut dirinya abang. Dan kalau aku mau, bisa aja ‘kan Sabtu sore atau hari Minggu besok jalan ama dia? Tapi aku malas membuka diri.” Laura menjeda kalimatnya.


“Dengan August kemarin jalan makan berdua karena dia emang sering datang ke panti. Bukan janjian. Dia sering ke panti bukan ketemu aku. Kemaren pas ketemu dan dia ajak makan bareng, ya aku turuti. Aku cape Bang. Padahal selama ini aku aku hanya berani terima ajakan jalan berdua yang sengaja janjian itu cuma denganmu,” Laura semakin merasa Syahrul mengekangnya.


Syahrul menggeser duduknya dan memeluk pundak Laura. Dia tahu telah cemburu tak beralasan. Tapi mengingat sudah menunggu hampir satu tahun balasan cinta dari Laura, tentu dia khawatir. “Serius Abang khawatir Ra. Abang khawatir kamu telah siap membuka hati, dan itu bukan untukku,” dikecupny puncak kepala perempuan yang sejak tiga tahun terakhir selalu menemani dirinya juga Nazwa dan Fahri.


“Suatu saat, bila aku membuka diri. Dan bukan Abang yang ada didepan pintu. Aku akan lebih dulu jujur mengatakannya. Agar kamu siap. Enggak akan aku menerima sosok lain sebelum aku memberitahu dirimu. Keep my promise,” jawab Laura.


“Abang enggak bisa bayangin kalau bukan Abang pemilik hatimu. Tapi Abang akan berbesar hati menerima kekalahan itu,” sahut Syahrul.


***


“Ini, semua aku masukkin sini,” Julia memperlihatkan plastik klip yang berisi passport tiket serta KTP mereka. Plastik itu ada didalam tas kecil Bastian.


“Oke, ada lagi yang mau kamu siapin? Dolar sudah?” tanya Bastian lagi.


“Dolar hanya secukupnya. Nanti selama disana lita pakai kartu aja ‘kan? Tanya Laura. Biasanya dia melakukan transaksi dengan kartu debet atau kredit miliknya. Jarang pakai cash.


“Iya. Enggak perlu banyak-banyak. Paling pas buat jajan aja,” sahut Bastian. Lalu mereka keluar kantor seperti pulang hari-hari biasa. Tak ada yang tahu kalau mereka akan pergi ke Singapore. Ups … tentu saja genk lima sekawan plus Harun tahu. Mereka malah sudah request oleh-oleh lebih dulu.


‘Kang, jadi jemput di bandara? Kalau enggak bisa, enggak usah dipaksa. Aku naik taxi aja,’ Julia mengirim chat pada Dade.


‘Bisa koq. Sekarang masih dikantor. Nanti saat kamu tiba di bandara pas Akang keluar kantor. Kamu tunggu aja sebentar. Jadi sekalian kita makan malam diluar aja,’ sahut Dade dalam chat dengan adik terkasihnya itu.


‘Nuhun nyak Kang. Ini kami sedang on the way ke bandara,’ Julia pun menyampaikan terima kasih pada Dade.


‘T**ake care geulis,’ jawab Dade dan dia kembali serius menatap laptopnya.


Julia dan Bastian membawa tiga koper besar. Padahal kalau mau, pakaian mereka cukup hanya dengan satu koper saja. Itu memang sengaja Julia lakukan. Agar dia bisa membawa beberapa belanjaan yang urgent sampai di Indonesia dan oleh-oleh tanpa perlu membeli koper lagi. Sedang belanjaan lain nanti akan dia kirimkan via kargo seperti biasa.


“Kang Dade akan jemput kita?” tanya Bastian saat mereka sudah di bandara SOETA. Mereka sudah check in.  Dan mereka melenggang karena semua koper sudah masuk ke bagasi pesawat.


“Dia bilang dia akan jemput sepulang kerja. Kalau dia belum datang, kita diminta nunggu. Lalu nanti kita makan malam bareng. Gitu katanya tadi,” sahut Julia sambil menjawab chat teman genks nya.


Mereka pun siap boarding saat terdengar panggilan untuk penerbangan ke Singapore. Bastian menggandeng erat Julia. Dia sangat senang bisa mewujudkan impiannya pergi ke Singapore berdua tunangannya ini. “A’a enggak nyangka impian A’a ketika sakit bisa terwujud. Terima kasih Honey,” Bastian mencuri ciuman di pipi Julia sambil jalan.


“Ih, sempet-sempetnya nyium,” Julia menepuk lembut pipi Bastian. Yang dibalas dengan cengiran oleh tunangannya itu.


“I love you Babe,” bisik Bastian gemas.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sambil nunggu Yanktie update bab berikut, coba mampir ke cerita milik teman baik yanktie ini ya.


Napennya : AYU ANDILA


Judul cerita : MENJADI MADU SAHABATKU


Cerita singkatnya seperti ini :


Viola Rinjani, seorang gadis muda berusia 23 tahun harus terpaksa menikah dengan seorang pria yang merupakan suami dari sahabatnya sendiri.


Awalnya, Viola menolak tawaran pernikahan itu. Namun, keadaan yang terus memburuk terasa mencekik leher Viola hingga membuatnya harus mengambil keputusan untuk menjadi istri kedua.


Biduk rumah tangga pun dimulai, akankah Viola berhasil melewatinya ?


Atau terpuruk dengan segala siksaan dan hinaan yang dilayangkan oleh semua orang ?


Yuk ikuti kisahnya hanya di Noveltoon !