TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
KALAU DIA JATUH, AKU YANG SALAH. BUKAN BUNDANYA!



JUMPALAGI DI UPDATE BAB KEDUA UNTUK HARI INI


SELAMAT MEMBACA YAAAAAAAAAAAA



Nindi bangun saat Novia bersiap untuk pulang. Dia sedih karena adik-adiknya akan pulang kembali ke Bogor. “Besok kalau ayah libur kita ke rumah dede Gilang dan dede Galang,” hibur Novia. Dia ingin sekali memilik anak perempuan.


“Bener Yah?,” tanya Nindi pada Ilyas.


“Iya sayang, kalau Ayah libur barengan Teteh juga libur, kita akan menginap di Bogor,” janji Ilyas.


Selesai Gilang dan Galang serta Nindi sarapan Novia meninggalkan rumah adiknya.


Sekarang Namira dan Ilyas sudah ‘sendirian’. menjadi keluarga yang sebenarnya. Sejak pulang dari KUA, Ilyas dibantu Namira memindahkan barang Namira dan Ilham ke kamar Ilyas. Wlau belum semua.


“Teteh mau dikamar itu atau pindah kekamar khusus Teteh?” tanya Ilyas. Dia berencana merubah kamar yang lebih kecil menjadi kamar pribadi Nindi. Dengan warna kesukaan gadis kecilnya juga pernak pernih anak seusianya.


“Emang kamar untuk Teteh dimana?” tanya Nindi.


“Itu nanti kamar yang kemaren dipakai uwah Pia diubah aja jadi kamar Teteh. Catnya diganti kuning. Dan nanti Ayah belikan meja belajar juga rak buku,” sahut Ilyas. Sementara Namira istrinya hanya diam tak memberi reaksi apa pun.


Andai Ilyas diskusi lebih dulu tentang rencananya, dia bisa memberi saran. Tapi sekarang dia mau apa? Ilyas sudah mengatakannya. Dia tak bisa sembarangan melarang atau memberi masukan. Akan ada dua kepala yang marah bila saran atau pendapatnya tak sama dengan ucapan Ilyas. Maka dia memilih diam.


Namira hanya tersenyum melihat si chubby Ilyas yang baru selesai dia beri tambahan buah naga. Mukanya seperti drakula yang menghisap darah karena mulutnya belepotan merah. Dia foto dan dia jadikan foto profil chatnya.


“Den, itu ada kiriman,” bibik memberi Ilyas sebuah box sangat besar yang tidak terlalu berat.


“Kiriman apa Bik?” tanya Ilyas. Dia mengira kado pernikahan dari rekannya. Dia baca nama yang dituju adalah Ilham Prakosa.


“Bund, kamu beli sesuatu secara online?” tanya Ilyas bingung. Mengapa istrinya harus beli online? Mengapa tidak memintanya untuk mengantar membeli sesuatu. Dan dipengeluaran kartu yang ia berikan pada Namira tak ada pembelian apa pun.


Dia hanya melihat beberapa kali Namira mengambil cash untuk belanja rutin mingguan. Jumlahnya tetap seperti yang rutin dia berikan ke bibik sebelum mereka tunangan dan dia memberi wewenang pada Namira untuk memegang uang itu.


Bahkan saat belanja kebutuhan Ilham juga semua pakai uang Namira sendiri karena tak menggunakan kartu itu.


“Owh iya, itu kursi makan Dedek,” sahut Namira santai. Dia sedang membersihkan wajah Ilham. Namira memang membeli high chair untuk Ilham. Dia membeli pada hari yang sama saat dia kesal karena Ilyas tak peduli saat dia minta pendapat soal alat masak bubur Ilham. Dia memutuskan membeli sendiri semuanya untuk anak lelakinya itu.


“Koq kamu enggak bilang Ayah? Koq semua kamu putusin sendiri?” Ilyas kecewa dan dia langsung masuk kamarnya.


Namira yang keras kepala juga tak mau kalah. Untung baju dan peralatan Ilham belum semua pndah ke kamar Ilyas. Maka sampai makan siang dia tak mau membujuk suaminya dia menidurkan Ilham dikamar yang biasa dia tempati.


“Teh, waktunya makan siang. Pause dulu tontonannya dan panggil ayah dikamar buat makan,” Namira mengatur makan siang. Menu kali ini dia buat pecel dan lele goreng saja. Tentu tak lupa tahu goreng kegemaran Ilyas.


‘Setelah sejak tadi tak menyusulku ke kamar, sekarang dia mengetuk pintu?’ Ilyas mendengar kamarnya diketuk.


“Masuk,” jawab Ilyas ketus.


“Ayah, ayok makan,” Nindi menjulurkan kepala dan mengajak Ilyas makan. Dia tak pernah masuk kamar itu.


“Bunda kemana Teh?” tanya Ilyas. Dia sedang melihat foto profil Namira terbaru.


Ilyas pun keluar kamar. Dia tak ingin pertengkaran terjadi diawal pernikahannya.


Bik iyah merasa ada ketegangan antar kedua tuannya. Dia makan dalam diam. Sesekali dia membantu Nindi bila gadis kecil itu ingin mengambil sesuatu.


Bik Iyah membereskan mejak makan dan mencuci piring kotor. Namira masih diam dan tak peduli terhadap kemarahan suaminya. Dia mulai unboxing paket yang dia beli.


“Apa itu Bund?” tanya Nindi penasaran. Dia lupa terhadap tontonannya.


“Ini buat Dede kalau makan. Jadi Bunda gampang nyuapinnya karena Dedek duduk sendiri enggak perlu dipegangin,” jawab Namira sambil mulai merakit kursi makan batita yang dia beli itu.


“Yeeeeaay. Habis tidur Dede langsung maem disitu ya Bund?” Nindi gembira akan melihat adiknya duduk sendiri saat makan siang nanti.


Namira baru selesai merakit kursi Ilham tanpa Ilyas membantunya. Suaminya tak peduli dan meninggalkannya keruang tengah menonton televisi saat dia mendengar Ilham menangis.


“Teh, jaga Dede dulu. Bunda ngeberisin kardus bekas bungkus kursi dan cuci tangan,” Namira meminta Nindi menjaga Ilham karena box Ilham sudah dikamar Ilyas. Jadi tadi Ilham dia tidurkan dikasur yang biasa dia pakai dikelilingi bantal dan guling.


Ilyas ikut lari ketika melihat Nindi berlari ke kamar. Dia kaget melihat Ilham sudah hampir jatuh dipinggiran kasur.


‘Kalau dia jatuh, aku yang salah. Bukan bundanya! Andai aku tak marah, tentu Ilham akan ditidurkan di box nya. Sedang box itu sekarang ada dikamarku. Bundanya tak berani masuk kamar karena kelakuanku,’ Ilyas kecewa pada dirinya sendiri. Karena emosinya, hampir saja putranya terjatuh.


‘Aku tak akan bisa memaafkan diriku yang egois,’ keluh Ilyas lagi. Dia segera menggendong Ilham dan membujuknya agar diam.


“Anak Ayah enggak nangis dong. Jagoan itu kuat ya Teh?” bujuk Ilyas sambil menepuk lembut punggung putranya.


Nindi menggelitiki telapak kaki adiknya agar tertawa. Namira menyiapkan makan siang Ilham. Tadi saat akan masuk kamar dia melihat Ilyas sudah menggendong putra mereka. Sehingga dia tenang dan kembali ke dapur.


Dia letakkan high chair Ilham diruang tamu dan dia siapkan makanannya disana. “Yok kita emam dulu,” Namira meminta Ilham pada Ilyas.


“Biar Ayah yang gendong aja,” Ilyas malas memberikan Ilham. Dia membawa keluar jagoannya dan melihat dimana Namira akan menyuapi sikecil. Dia dudukkan Ilham disana.


“Bismillah. Kita mulai emam lagi ya?” Namira pun memegang mangkuk makan milik Ilham. Dia juga sudah menyiapkan tissue dan air putih.


“Enak ya Yank?” goda Ilyas melihat Ilham lahap membuka mulutnya. Ilham tidak rewel menerima suap demi suap. Kadang dia meraih sendok yang disuapkan kemulutnya sehingga menyulitkan Namira. Dan itu membuat Ilyas dan Nindi tertawa.


Suasana sedikit mulai mencair. Tapi Namira masih tak mau bicara dengan Ilyas. Dan seperti saat mereka belanja kebutuhan Ilham. Bila Namira sudah marah, maka Ilyas lah yang kalang kabut.


‘Semalam aja enggak berhasil. Eh sekarang dia malah marah. Bagaimana mau sukses malam pertama?’ pikir Ilyas galau.


\===================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta