
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
“Kamu beli apa?” tanya Bastian, sebenarnya dia ingin membahas masalah August barusan. Dia juga ingin membahas masalah resignnya Julia dan dia juga ingin membahas tentang lamaran yang sudah orang tuanya siapkan. Tapi Bastian tak ingin salah langkah lagi. Perempuan dihadapannya ini lebih garang dari singa dan lebih gesit dari cheetah. Dia tak ingin ditinggal pergi lagi oleh Julia. Karena larinya cheetah tak terkejar.
“Buat mamah aku belikan ayam geprek. Dan buatku tadi aku beli mie ayam jamur juga pangsit rebus 2 porsi. Kalau kamu mau, nanti bisa tambah makan pangsit rebus tanpa saos sambal,” jawab Julia. Dia masih ber aku kamu, belum mau memanggil A’a pada Bastian.
“A’a mau banget kalau pangsitnya boleh pakai sambal walau sedikit,” pinta Bastian.
“Habiskan dulu jatah dari rumah sakit ya, soal sambal kita bahas nanti,” jawab Julia diplomatis.
Kembali Julia menunggu beberapa saat untuk memberikan obat pada Bastian. Tadi sehabis menyuapi Bastian, Julia langsung makan mie ayam jamurnya. Sesekali Julia menyuapi Bastian untuk mencicipi pangsit rebusnya. Tentu saja ada sedikit rasa sambal. Tapi Julia berpikir pencernaan Bastian tidak sakit, jadi makan sambal tentu tak masalah. Bastian sangat merasa bersyukur Julia mau mengurusi saat dia sakit seperti sekarang. Apalagi tetap dimanja dengan memberikan makanan yang dia inginkan. Dan dengan telaten Julia membuatkan dirinya serta 2 keponakannya puding jambu biji. ‘Aku berharap, Julia tak lagi meninggalkanku.’
Bastian ingat semalam ayahnya berpesan, dia harus merubah sikapnya terhadap Julia agar gadis itu bisa merasa nyaman berada di sisinya. Bastian sadar dirinya tidak kasar, tapi terlalu posesif. Kalau sudah cemburu dia bisa hilang akal. Itu yang membuat Julia merasa tak nyaman dengan dirinya. “Honey, kamu rebahan sini aja,” Bastian meminta Julia berbaring disisinya untuk beristirahat.
“Aku enggak mau. Kamu cepat pulih dan cepat pulang. Nanti aku akan berbaring disisimu menemanimu recovery di rumah,” sekali lagi Julia memberikan tantangan untuk Bastian agar bersemangat untuk sembuh. Julia ingat perkataan suster ketika pertama kali dia menjenguk Bastian. Lelaki ini tak bersemangat hidup.
“Promise?” tanya Bastian tak percaya.
Julia mengangguk sambil tersenyum dan mengangkat jari tengah dan telunjuknya sebagai tanda berjanji. “Tapi kamu tidak boleh minta dokter untuk mengijikanmu pulang sebelum waktunya. Bila aku tahu kamu pulang karena kamu merengek minta pulang. Aku enggak akan datang menjengukmu lagi.”
“Kenapa sih satu kaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii aja kamu enggak ngancem A’a?” protes Bastian. Dia tidak suka karena Julia bisa mengetahui keinginannya minta pulang paksa dari dokter.
“Karena aku tahu otak licikmu itu,” skakmat dari Julia tak mampu dibantah Bastian. “Sekarang kamu tidur dulu.” Bastian yang sudah sangat mengantuk karena pengaruh obat tetap memaksa bertahan. Dia takut Julia pergi meninggalkannya ketika dia tertidur. Rupanya Julia tahu ketakutan Bastian. Dia peluk lelaki itu dan dia berbisik lembut. “Aku akan menunggumu bangun, aku enggak akan meninggalkanmu!”
“Berjanjilah tak akan pernah meninggalkanku lagi,” rengek Bastian.
“Aku akan selalu disisimu dengan syarat, kamu harus ingat semua janjimu dan tak melanggar janji itu dan satu lagi yang tak termaafkan adalah perselingkuhan!” tegas Julia menyatakan dia akan selalu bersama Bastian dengan dua syarat tadi. Karena Bastian paling mudah mengucap janji tapi sering melanggar janjinya itu. Kalau soal pengkhianatan memang sejak dulu Julia sudah mengatakan tak pernah ada kata maaf untuk pengkhianatan.
“Maafkan A’a yang sering lupa akan janji yang A’a ucapkan. A’a hanya cinta kamu. A’a hanya butuh kamu. Enggak akan ada perempuan lain. Never!” tak lama Bastian tertidur. Julia segera duduk di sofa dan membuka ponsel khusus berdagang. Dia memposting foto dagangannya yang akan datang besok. Dia juga menjawab semua pesanan yang masuk. Julia cukup serius bekerja tanpa dia sadar sedang diperhatikan oleh Bastian yang sudah bangun dari tidurnya. ‘Dia punya ponsel lain?’ pikir Bastian karena dilihatnya ponsel Julia tergeletak di meja sedang yang dipegangnya adalah ponsel yang baru dia lihat kali ini.
“Honey,” panggil Bastian lirih.
“Kamu sudah bangun?” tanya Julia sambil meletakkan ponsel di tangannya ke meja di sebelah ponselnya. Julia langsung mengambilkan Bastian air putih. “Banyak minum air putih ya. Habis ini makan puding jambu bijinya.”
“Kamu punya nomor lain?” tanya Bastian.
Bastian melihat ponsel yang Julia berikan. Sambil menerima suapan puding dari kekasihnya itu. “Kamu buka usaha online?”
“Iya,” jawab Julia sambil memandang dalam mata Bastian. Dia ingin melihat reaksi di mata elang milik lelaki pujaan hatinya.
“Kamu enggak mau lagi kerja mendampingi A’a?” rajuk Bastian.
“Aku suka kerja kantoran, tapi aku enggak suka karakter boss aku yan terlalu ambigu. Bossku senangnya menang sendiri. Enggak mau melihat kesalahan dirinya. Lebih baik aku keluar dari pada stroke ngadepin dia,” jawab Julia jujur.
“Honey … please maafin A’a. A’a janji enggak akan begitu lagi,” jawab Bastian enteng. Kembali dengan mudah dia berjanji.
“Ini nih yang aku enggak suka dari boss aku. Gampang banget ngobral janji. Habis itu dia lupa pernah janji enggak akan ngulangin lagi. Begitu seterusnya!” protes Julia. “Kamu diam ya, aku akan ingetin janji kamu yang bikin aku marah. Diam dulu dan simak baru kamu membela diri,” pinta Julia.
“Saat perpisahan dengan August, kamu marah dan lebih dulu diam tak mau bicara. Padahal sebelumnya kamu yang bilang kita harus selalu bicara agar tak ada ganjelan antara kita. Setelah kita ribut, kamu kembali janji enggak akan berbuat mendiamkan aku.” Julia menarik napas menjeda uneg-unegnya siang ini. Tangannya tetap aktiv menyuapi Bastian.
“Kamu ingat saat terakhir aku di kantor? Aku pulang makan siang, bawakan kamu makan dan bersiap menyuapimu. Apa yang kamu lakukan? DIAM! Tak ada satu kata pun keluar dari bibirmu. Juga tak membuka mulutmu untuk makan. Kamu pikir siapa aku? Kamu enggak mikir betapa aku merasa sangat rendah di matamu? Apa kamu pikir aku kuat bertahan mendampingi hidupmu yang arogan?” Julia mulai terisak mengenang betapa Bastian memperlakukannya secara buruk.
“Sayank …, honey please jangan seperti itu,” Bastian merengkuh bahu Julia yang terus terisak. Bastian sadar, sikap egoisnya sangat menyiksa Julia. Dia akan belajar merubah sikap buruknya itu. “Maafin A’a. A’a terlalu egois. A’a bodoh melakukan hal itu. Ajari A’a bersikap dewasa. A’a terlalu bodoh,” Bastian mengakui kelemahannya. Dibalik pintu bu Achdiyat yang ingin melihat kondisi putra bungsunya terkesiap mendengar mengapa Julia mundur karena perlakuan buruk anaknya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil nungggu yanktie update bab baru, baca cerita milik teman yangktie ini yaaaaaa
judul cerita AKU JUGA INGIN BAHAGIA penulis M ANHA pastinya hanya di NOVELTOON/MANGATOON ya
Cerita ringkasnya seperti ini :
Zahra memutuskan untuk menikah dengan pria yang baru saja hadir di hidupnya, cinta pandangan pertama itulah yang dialaminya hingga Ia memutuskan hal penting tanpa tahu terlebih dahulu pria yang akan dijadikan sebagai imamnya.
Kebahagiaan dirasakan di awal pernikahannya, hingga semua hancur karena sebuah kecelakaan yang merenggut bayi yang ada di dalam kandungannya.
Zahra mengalami keguguran dan di hadapan pada kenyataan jika kesempatan untuk menjadi seorang ibu sangatlah kecil karena kecelakaan yang dialaminya.
Mampukah Zahra mengembalikan kehidupan rumah tangganya yang harmonis?
Akankah Zahra bisa merasakan menjadi seorang ibu?