TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
FANNY~MENGUAK LUKA LAMA



“Iya Mom, aku udah senang bisa ketemu Mommy sore ini,” jawab Nazwa.


“Apa ibumu masih datang ke sekolah?” pancing Laura.


“Enggak pernah lagi. Mungkin sedang sibuk di Lampung. Semoga aja dia enggak balik lagi ke sini,” Nazwa malas bila membicarakan perempuan yang melukai hati ayahnya itu.


“Kabari Mommy bila dia datang lagi ya?” pinta Laura tulus.


“Oke Mom. I will.” Nazwa tentu akan memberitahu Laura tanpa diminta.


“Mommy …,” seru Fahri yang tidak menyangka Laura datang ke rumahnya.


“Hallo sayang, Mommy cuma antar kakak. Mommy enggak bisa lama ya?” Laura memeluk dan mengecup puncak kepala jagoannya Syahrul itu.


‘Barusan aku mampir ke rumahmu, antar Kakak. Habis jenguk Ilyas,’ Laura mengirim pesan pada Syahrul sebelum menyalakan mesin mobilnya untuk kembali ke rumahnya. Setibanya di rumah Laura segera mandi dan melihat sang uwak yang sedang kurang sehat. Akhir-akhir ini uwaknya sering sakit. Itu sebabnya minggu lalu tidak ikut ke Jakarta saat Laura menengok opa Greg.


“Obatnya sudah diminum Wak?” Laura melihat sang uwak sedang berbaring sambil menonton televisi di kamarnya.


“Sudah. Uwak sudah enakan koq,” jawab sang uwak, sejak dulu uwak malas minum obat dokter. Oleh sebab itu harus diingatkan terus.


“Kalau sudah enakan, bukan berarti obat berhenti diminum,” Laura menyodorkan juice alpokat yang baru dia bikin. Uang senang juice alpokat dengan banyak su5u coklatnya.


“Besok kita tetap teraphy ‘kan?” tegas Laura, dia takut sang uwak lupa.


“Iya, udah kuat koq buat berangkat teraphy,” balas sang uwak. Hari Senin dan Kamis uwak Ganis memang harus teraphy kakinya yang mulai sulit untuk berjalan.


“Oke, habiskan juicenya, lalu langsung istirahat biar besok enggak terlalu capek,” Laura pun meninggalkan kamar uwaknya. Perempuan sebatang kara tanpa suami atau anak.  Laura mandi dan lalu mulai mencoret-coret design di meja kerja dalam kamarnya.


***


Fanny memarkir mobilnya di cafe tempat dia janjian dengan mantan tunangannya. Cinta pertama dan satu-satunya sampai saat ini. Karena sejak Harun selingkuh, hingga saat ini Fanny tak pernah mau mengenal cinta lagi. Empat tahun lalu dia pernah bertunangan dengannya, tapi sayang hanya bertahan delapan bulan saja. Tiga tahun berlalu dari pemutusan pertunangan mereka, dan sekarang pria itu minta waktu untuk bicara. Sebelum turun dia sudah melihat mobil Harun ada di area parkir ini. Artinya lelaki itu sudah datang lebih dahulu. Padahal dari kantor dia langsung kesini. Tapi lelaki itu sudah lebih cepat datang. Fanny melangkah ke dalam cafe. Dia mencari posisi Harun. Ternyata lelaki ini duduk di sudut. ‘Setidaknya kami akan bebas bicara, tidak menarik perhatian seperti bila duduk ditengah,’ pikir Fanny.


“Kamu mau makan?” tanya Harun. Ditatapnya wajah cinta sejatinya. Perempuan yang sejak dirinya duduk di kelas dua belas sudah menarik hatinya. Saat itu Fanny siswa baru masuk dan duduk di kelas sepuluh.


“Enggak,” jawab Fanny cepat. “Huzzel nut coffee aja Mas, sama tambah salmon and cream chesse croissant satu ya. Fanny menyebutkan pesanannya pada server yang berdiri didekat meja mereka.


“Baik, Uda minta kamu dengarkan dulu dan jangan disela agar Uda tidak lupa atau ada yang terlewat,” Harun menyesap sedikit kopi miliknya.


“Sehari sejak kita bertemu tak sengaja, Paman Bibi dan Ayahmu datang ke rumah. Mereka memutuskan pertunangan kita. Saat itu Uda baru tahu tentang niat ayah menjodohkan Uda dengan Cellia. Saat ayah bicara pada mama, uda belum diberitahu. Jadi kamu lah yang pertama tahu. Uda tahu kamu datang ke rumah karena diberitahu pamanmu. Sore itu Uda memang melihat bingkisan buah yang kau bawa, tapi mama dan ayah tak tahu siapa pemilik bingkisan buah itu,” kembali Harun menyesap sedikit kopi untuk menghilangkan rasa gugupnya mengingat kejadian pahit tiga tahun lalu.


“Ketika kita bertemu, Uda dan Celia tidak janjian, kami bertemu didekat toko buku yang Uda datangi, Uda habis membeli novel untukmu. Kebetulan Cellia bawa payung dan dia mengajak bareng menuju parkiran mobil. Uda hanya menganggap Cellia adik. Sejak kecil seperti itu dan kamu juga kenal siapa Cellia sejak dia SMP ‘kan?” dipandangi mata perempuan itu dengan dalam.


“Sejak kamu pergi dan keluargamu memutus pertunangan kita, ayah semakin gencar menjodohkan Uda. Hingga akhirnya mama sakit karena terlalu ditekan ayah. Permintaan  mama saat sakit adalah Uda tunangan dengan Cellia. Demi mama akhirnya uda menerima perjodohan. Dengan syarat mama sembuh dulu!” Harun menarik napas panjang.


Sakit! Itu yang dia rasakan bila mengingat kejadian itu.


“Setiap hari sepulang kantor Uda langsung ke rumah sakit menunggu mama. Uda tidur di rumah sakit dan berangkat kerja dari sana. Suatu sore mama minta dibelikan anggur, karena yang dimeja sudah habis. Maka sore itu tumben Uda keluar dari ruang rawat menuju depan tempat jual buah. Saat melewati poliklinik tak sengaja Uda melihat Cellia berada di poli kandungan.


Saat itu dia sedang akan masuk ruangan, baru dipanggil. Uda langsung menghampiri poli dan bertanya pada petugas yang memanggil pasien. “Apa nama Cellia Chaniago sudah dipanggil masuk?” Fanny menunggu kelanjutan cerita yang sengaja dijeda Harun.


“Uda minta izin menyusul masuk dengan mengaku sebagai suaminya. Di ruang periksa Cellia baru saja naik ke tempat periksa. Awalny dia mau berontak dan pergi saat melihat kedatangan Uda. Dokter bersiap memeriksa dan kaget melihat Uda. Uda langsung bilang : ‘saya suaminya Dok’, dan dokter langsung meminta Uda mendekat!”  Harun mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Berat rasanya dia melanjutkan.


“Ini Pak, janinnya sehat. Usianya masuk sepuluh minggu ya. Dokter memperlihatkan gambar di layar. Perkataan dokter membuat Uda bahagia bercampur marah.” Harun melihat wajah Fanny marah. Dia tahu Fanny pasti menduga bayi Cellia adalah miliknya.


“Kamu jangan marah. Uda enggak pernah selingkuh apalagi menanam benih dirahim perempuan yang tidak halal. Uda bahagia karena dengan alasan kehamilannya, maka perjodohan kami akan batal. Uda marah karena bila Uda tidak tahu, maka Uda akan menikahi sampah! Uda merasa dijebak!” Harun menggenggam telapak tangan Fanny dengan erat.


“Uda meminta surat keterangan usia kehamilan Cellia, USG serta resep obat Cellia Uda pegang. Saat itu juga uda meminta ayah datang ke rumah Cellia. Dan tentu Uda menyeret Cellia kesana. Didepan orang tuanya dan didepan ayah, Uda beberkan bukti kehamilan Cellia. Saat itu undangan pertunangan kami sudah jadi tinggal disebar!” Harun kini melihat wajah Fanny mulai tidak tegang apalagi marah.


\==============================


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Yanktie menunggu komen manisnya


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta