TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
SELAMAT ULANG TAHUN AYAHNYA DEDE



HALLO


SEHAT SELALU YAAAA


SEPERTI BIASA, KITA BERTEMU DI DOUBLE UPDATE HARI INI


SELAMAT MEMBACA



Mereka yakin sebentar lagi rumors akan merebak secepat virus covid 19. Semua tahu sebelum menjadi sekretaris Bastian, Julia adalah sekretaris sekaligus orang kepercayaan pak Achdiyat dan hubungan Julia dengan bu Tuti sangat dekat.


Semua memang direncanakan. Agar dikantor tak ada yang ribut sudah selama tiga minggu Julia tak pernah masuk kerja. Lalu nanti saat masuk tentu banyak yang iri.


Sesuai rencana mereka menyebar isu bahwa selama ini Julia tak hadir dikantor karena perintah pak Achdiyat untuk membantunya diluar kantor. Dan mereka genks lima sekawan juga bercerita sekarang Julia dan pak Achdiyat sedang di Singapore menyelesaikan pekerjaan mereka disana.


“Pak Bastian hari ini khabarnya antar berkas yang tertinggal ke Singapore ya?” Vita seakan menanyakan berita yang ia dengan ke Harun.


“Yang saya tahu seperti itu. Kemarin dia meminta perhitungan detil pada saya,” jawab Harun seakan memang seperti itu yang terjadi.


Semoga sukses ya proyek pak Achdiyat, agar pernikahan pak Bastian tak tertunda lagi,” balas Vita.


“Semoga aja. Ayok kita istirahat. Saya mau salat Dzuhur sekalian makan siang,” Harun merapikan berkas bekas meeting barusan.


***


Laura dan Anjas mengantar Syahrul hingga pintu ruang CT Scan.


“Daddy seorang dokter. Daddy tahu kan Mommy enggak boleh masuk. Jadi Mommy akan menunggu Daddy disini ya?” bujuk Laura karena Syahrul tak mau melepas pegangan tangannya.


“Iya Dok, istrinya akan nunggu disini koq. Enggak akan pergi,” petugas lelaki yang tadi mendorong brankar rupanya mengerti kesulitan Laura. Dia membantu memberi kepastian pada Syahrul kalau Laura akan menunggunya sampai program selesai.


Syahrul persis anak kecil sesudah sadar dari koma. Dan Laura berniat akan konsultasi pada dokter yang menangani hal ini. Dia ingin membantu agar Syahrul bisa sedikit demi sedikit menghilangkan ketakutannya ditinggal oleh dirinya.


“Pa, nanti temani Kakak konsultasi ke dokter yang tangani Abang ya,” pinta Laura pada Anjas saat Syahrul berhasil dibujuk melepas genggaman tangan mereka.


“Ada apa Kak?” tanya Anjas. Walau dia sudah bisa meraba apa yang akan Laura tanyakan pada dokter nanti.


“Abang seperti ketakutan ditinggal Kakak. Dia sama sekali enggak bisa ditinggal. Walau ada orang lain di ruangan, kalau Kakak enggak ada didepan matanya dia akan gelisah,” jawab Laura.


“Seperti ada trauma ya Kak,” Anjas mengerti apa yang jadi pemikiran Laura saat ini.


“Iya Pa. Kakak takut melihatnya,,” balas Laura. Dia takut ada kerusakan diotak Syahrul yang membuat lelaki itu menjadi sedemikian ketakutan akan dia tinggal.


“Kalau begitu kita harus tanya dokter secepatnya Kak,” Anjas mendukung Laura sepenuhnya untuk segera berkonsultasi dengan dokter yang menangani Syahrul.


Laura melihat pintu ruang CT scan dibuka. Dia segera menghampiri karena takut Syahrul gelisah mencari dirinya.


“Hai sayank. Sudah ya CT scannya,” sapa Laura sambil menggenggam tangan kanan Syahrul.


“Bu. Dokter menunggu Ibu satu jam diruangannya untuk memberitahu hasil pemeriksaan kali ini,” seorang petugas medis dari ruang CT scan memberitahu Laura.


“Di lantai dua ya?” tanya Laura untuk memastikan.


“Benar Bu. Yang dilantai dua.”


Sampai diruang rawat, Claudia, wak Ganis dan Nazwa sudah datang.  “Ma, satu jam lagi aku dan papa akan bertemu dokter. Mama dan Uwak temani Abang ya. Dia rewel kalau aku tinggal. Akan aku usahakan biar dia sedang tidur saat Kakak harus keluar ruangan,” bisik Laura pada sang mama.


“Se … di … kit,” jawab Syahrul. Dia minta makan sedikit saja.


“Enggak sedikit banget Bang. Biar cepat sembuh ya?” bujuk Laura. Dia sudah siap menyuapi Syahrul bubur ayam dengan cakwe, ayam suwir dan kerupuk.


Walau pelan, Syahrul mampu menghabiskan cukup banyak makanan yang Laura suapi.


“Daddy pintar,” Laura menunjukkan jempol ketika Syahrul berhasil makan cukup banyak.


“Sekarang kita minum obat ya,” Laura memberikan gelas berisi air putih dan beberpa obat dalam mangkok obat super kecil yang disiapkan rumah sakit.


Laura naik ke brankar dan memeluk Syahrul agar lelaki itu segera tidur. Semua diruangan itu tahu untuk mengurangi sedikit volume suaranya agar Syahrul bisa istirahat.


“I love you Bang. Enggak usah pernah berpikir aku akan tinggalin Abang,” Laura berbisik pada Syahrul sambil mengusap kening lelaki itu persis seperti membujuk anak kecil agar segera tidur.


Karena memang efek obat. Syahrul langsung tertidur tak lama setelah Laura mendekapnya. Perlahan Laura turun dan bersiap menemui dokter.


“Nanti kalau dia bangun, bilang Kakak lagi ambil obat ya,” Laura berpesan pada Claudia.


“Kakak dan ade sudah makan?” Laura memberi attensi dulu sebelum meninggalkan ruangan.


“Ini mau makan bareng om Gerry Mom,” sahut Fahri. Om nya tadi mengajak keluar makan dengan mobil. Bukan dia ayam geprek seberang.


“Ya sudah kalian hati-hati. Tanya Oma dan Enin mau titip apa. Karena Mommy akan menemui dokter dengan Opa.” Laura bersiap. Selama Syahrul sakit dia menggunakan sling bag. Sehingga lebih mudah bergerak dan tidak takut ponsel atau dompetnya tertinggal.


***


“Seperti yang tadi saya katakan, tak ada kerusakan di otak dokter Syahrul walau ada gegar otak ringan. Jadi perkara ketakutan berlebih seperti yang Ibu katakan barusan, kita harus lihat dan selidiki lagi apa penyebabnya. Rasa tidak nyaman tidak akan membuat beliau seperti itu,” dokter yang menangani masalah kerusakan otak dokter Syahrul bingung dengan fakta yang Laura kemukakan barusan.


“Besok akan kita mulai periksa. Saya akan minta rekan psikiater berbicara dengannya seakan kunjungan antar rekan saja bukan pemeriksaan agar dia merasa nyaman,” lanjut dokter itu dengan ramah dan bijak.


***


Wulan berjingkat pelan. Lima menit lagi berganti hari. Dia keluar kamar dan membuka kulkas. Dibagian rak sayur paling bawah dia ambil satu buah cake kecil sebesar kepalan tangan yang tersimpan dalam mika tart.


Tart tak akan terlihat bila tak menyibak ikatan kangkung diatasnya. Tadi sepulang kuliah memang Wulan langsung menyimpan tart kecil itu disana agar tak terlihat oleh suaminya.


Dia pasang lilin kecil berwarna hijau dan menyalakannya. “Panjang umurnya … panjang umurnya,” Wulan mulai bernyanyi ketika membuka pintu kamar dan langsung menyalakan lampu.


August kaget karena silau. “Sayanknya Ayah, kamu ngagetin aja,” tentu saja August kaget akan kejutan manis dari istri kecilnya.


“Selamat ulang tahun Ayahnya Dede,” ucap Wulan sambil menyodorkan tart mungil agar August meniup lilinnya.


August memejamkan mata, dia make a wish lalu meniup lilin kecil itu.


“Selamat ulang tahun ya Mas. Aku enggak beli kado. Karena semua Mas sudah punya. Aku malah bingung,” ucap Wulan.


=============================================================== 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta