
MAKIN MENDEKATI TAMAT, SELAMAT MEMBACA
\~\~\~\~\~
Sesuai janji tadi pagi di kantor, maka disinilah Wilson berada. Dia melihat di cafe belum ada miss Kharisma. Dia duduk di pojok agar pembicaraan bisa tenang. Sepulang dari kantor tadi Wilson bergegas pulang dan mandi serta segera berangkat ke hotel. Dia tak ingin terlambat dan membuat citra dirinya buruk.
“Selamat malam. Kamu sudah lama?” Kharisma yang baru datang langsung menyapa Wilson. Saat itu Kharisma datang bersama dua orang lelaki. Yang seorang masih muda dan yang lainnya cukup dewasa tapi belum tua.
“Silakan duduk. Saya sudah memesan kopi,” Kharisma mempersilakan ketiga tamunya duduk.
“Wilson, dua orang ini yang nanti akan berurusan denganmu selanjutnya,” Kharisma memperkenalkan kedua orang yang bersamanya.
“James Hung.”
“Wilson, nice to meet you Sir,” sahut Wilson.
“Walter.”
“Wilson.”
“Nah silakan kalian minum dulu kopinya,” Kharisma mempersilakan semua meminum kopi saat server cafe mengantar 4 cangkir kopi berikut satu macam snack yang Kharisma pesan.
***
Gladys menunggu di lobby hotel Champion sesuai permintaan Bastian. Dilihatnya lelaki yang dia tunggu datang sambil menerima telepon. Dia melirik pojok lobby, dimana dua orang yang mengantarnya ke hotel menunggunya terpisah dari dirinya saat ini.
“Honey, A’a sudah turun ke lobby nih. Habis ini off dulu ya sayang,” Bastian memberitahu Julia yang masih dalam perjalanan ke hotel bersama dengan Dade. Nanti mereka akan langsung bergabung dengan Kharisma yang sudah bersama Wilson. Sementara nanti Achdiyat akan bertemu dengan Bastian dan Gladys di VIP room.
Gladys menghambur memeluk Bastian tetapi lelaki itu menolak ciuman pipi yang perempuan itu berikan.
“Kita duduk disitu aja. Sebelum bertemu dengan ayahku. Aku ingin kita memperjelas semua hal agar kita satu kata menghadapi ayahku,” Bastian mengajak Gladys untuk duduk di lobby.
“Bagaimana khabarmu dan bayi itu?” tanya Bastian.
“Bayi kita sehat sayang,” sahut Gladys.
“Apa itu sekarang benar bayiku?” tanya Bastian. Mengingat kehamilan yang dulu bukan miliknya.
“Aku minta maaf sayank. Aku masih bodoh ketika itu. Aku terpedaya oleh mantan kakak iparku itu. Tapi aku bersumpah ini bayi kita. Karena aku tak pernah melakukannya dengan siapa pun selain dengan dirimu,” sahut Gladys meyakinkan Bastian.
“Aku bingung. Kapan dan dimana kita melakukannya?” tanya Bastian, pria mana pun akan bingung bila tak pernah bertemu lalu dituntut bertanggung jawab terhadap kehamilan seorang perempuan.
“Sebelum ini kita tak pernah bertemu. Dan kalau benar kita tidur bersama, kamu tak mungkin meninggalkanku tanpa pamit kan?” desak Bastian lagi.
“Waktu itu kamu agak tidak sadar. Kita bertemu di lift apartemen temanmu dan kita melakukannya berkali-kali. Lalu aku harus cepat pergi karena aku ada pemotretan untuk pagelaran terbaru. Aku bisa tak dapat honor bila tidak datang. Sedang hidupku bergantung pada honor pemotretan,” jelas Gladys.
“What ever! Sekarang yang penting kamu sedang hamil. Dan itu bayiku. Tapi Papaku sangat taat beragama. Dia tidak mau memberi restu bila pernikahan dua agama. Jadi aku akan menanggung hidupmu dan bayi itu saja tanpa perlu menikahimu,” Bastian pun memberi alternatif menanggung biaya hidup ‘anaknya’ itu.
“Aku bisa pindah ikut agamamu,” sahut Gladys cepat. Karena tanpa pernikahan dia tak bisa mengeruk harta Bastian yang sekarang adalah anak tunggal pengusaha kaya dan sudah menjadi CEO.
Gladys sudah tahu sekarang Bastian tak memiliki kakak setelah kakaknya meninggal akibat kecelakaan pesawat.
“Really? Wah surprise. Glad to hear that. Satu step sudah kita lewati. Tak ada lagi kendala soal agama. Lalu bagaimana pekerjaan modelingmu? Aku tidak mau kita pisah domisili bila sudah menikah nanti,” Bastian bertanya serius seakan memang akan mengadakan pernikahan dengan Gladys.
“Aku bisa ikut tinggal denganmu di Indonesia. Kalau kita sudah menikah, bukankah kamu mencukupi semua kebutuhanku? Aku tak perlu menjadi model lagi,” sahut Gladys cepat.
Saat bersamaan Dade dan Julia berpapasan karena mereka akan menuju cafe tempat Kharisma menunggu.
Dade pasang tampang tengil dan Bastian memberikan kedipan dengan satu matanya. Julia hanya tersenyum tipis.
***
“Wilson ini surat rekomendasimu ditempat baru,” Kharisma menyerahkan satu map tipis pada Wilson untuk dibaca oleh lelaki itu.
Wilson terbelalak melihat copy-an surat laporan polisi dari Achdiyat juga surat pemutusan hubungan kerja dari kantornya.
“Kamu dipecat dengan tidak hormat karena telah membantu tindakan kejahatan. Data kejahatanmu sudah saya laporkan ke kantor pusat di Aussie juga pada orang tuamu dan polisi Aussie. Sehingga dimana pun kamu sudah tak bisa mencari kerja lagi karena datamu sudah di black list,” Kharisma memberitahu setelah Wilson membaca surat itu
Wilson tak bisa marah atau protes. Dia hanya diam menerima copy surat laporan polisi. Dia yakin paling telat malam ini dia sudah mendekam dipenjara.
“Dan pak Walter dan pak James adalah polisi. Didepan juga sudah ada beberapa rekan mereka yang bersiap membawamu setelah Gladys ditangkap. Saat ini Gladys sedang di VIP room,” lanjut Kharisma.
“Assalamu’alaykum,” sapa Dade danJulia pada Kharisma.
“Wa’alaykum salam. Hai. Silakan berkenalan dengan dua polisi ini,” Kharisma menyambut Julia dan Dade.
Wilson tentu pernah tahu Julia dan Dade, bahkan sempat berkenalan. Saat itu Julia yang dinyanyikan lagu khusus oleh Bastian.
***
Achdiyat datang tepat pukul 6 sore sesuai janji. Saat itu Bastian dan Gladys sedang memandangi laptop mencari tentang thema pesta pernikahan mereka.
“Assalamu’alaykum Pa’. Ini Gladys yang pernah aku ceritakan,” Bastian memperkenalkan Achdiyat pada Gladys.
“Gladys Om,” dengan sopan perempuan blasteran itu menyalami Achdiyat calon mesin ATMnya.
“Bastian. Apa kamu sudah cerita tentang Julia tunanganmu pada Gladys?” tanya Achdiyat tak terduga.
“Belum Pa. Tapi karena kondisi saat ini Gladys sedang hamil dan Julia paling tak mau ada perselingkuhan. Aku yakin kalau benar aku akan menikahi Gladys, Julia tak akan memaafkanku,” jawab Bastian dengan penekanan dikata-kata kalau benar aku akan menikahi!
“Baiklah. Apa sudah pesan makan?” tanya Achdiyat.
“Baru pesan minum saja Pa,” Bastian memang tak ingin makan. Dia ingin segera memulai eksekusi.
“Ya sudah kamu mulai saja,” Achdiyat meminta Bastian memulai. Dia langsung meminta pintu ruangannya dijaga polisi yang memang sudah dia undang. Dengan mengirim pesan pada mereka.
Achdiyat juga meminta Kharisma datang 10 menit lagi di ruangannya bersama Wilson dan pastinya Dade dan Julia.
“Gladys, ini papa aku punya rekaman ini,” Bastian memperlihatkan rekaman yang mereka dapat dari Marco. Manager apartement yang Wilson tinggali.
\=============================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta