
UPDATE KEDUA HARI INI.
Semoga semua suka baca cerita ini terus.
SELAMAT MEMBACA
“Ya enggak gitu juga Yank. Bunda cuma enggak mau jaraknya terlalu dekat. Kalau Dede sudah satu tahun, kan nanti dengan adiknya sekitar dua tahun. Itu cukuplah. Jangan sampai lima tahun lah. Kejauhan. Nanti ke adik berikutnya jadi lama lagi,” tolak Namira.
“Emang Bunda mau nambah anak berapa dari Ayah?” tanya Ilyas dengan bahagia.
“Tiga atau dua kali ya Yah? Ayah maunya berapa?” tanya Namira. Dia mulai nyaman ngobrol dengan Ilyas. Kemajuan yang baik!
“Ayah terserah Bunda. Karena yang akan full repot sepanjang hari itu Bunda. Nambah hanya satu ya enggak apa-apa. Tapi nambah satu lusin juga enggak nolak,” sahut Ilyas. Dia membelai pungung Namira dengan lembut. Lalu dia mulai mencium bibir istrinya dengan smooth. Dia takut Namira menjerit seperti semalam karena ketakutan.
“Enak aja satu lusin,” Namira menempatkan menjawab ketika bibir suaminya bisa dia lepas.
Malam ini Ilyas hanya berani berkali-kali mencium bibir istrinya. Hingga hampir tengah malam dia merasa Namira mulai bisa membalas ciumannya. Dia mendekap tubuh istrinya dan berkali-kali mengucap kata cinta agar istrinya merasa nyaman. Lalu dia dekap Namira hingga perempuan itu tidur lelap.
Tanpa Namira tahu Ilyas segera menuntaskan hasratnya dikamar mandi. Sesudah itu dia mengganti diapers Ilham agar jejaka kecilnya tak merasa risih dan tidur dengan nyenyak hingga pagi.
Jam tiga dini hari Ilyas mendengar Ilham merengek minta susu. Sejak lama Ilyas menambah micro wave dikamar ini. Jauh sebelum dia menikah dengan Namira. Dia panaskan ASIP di micro wave lalu dia segera berikan pada Ilham.
Setelah Ilham kembali tidur, Ilyas ingin membaringkan tubuhnya, dia melihat istrinya sangat cantik dan menggemaskan. Dicumbui istrinya dengan lembut. Antara sadar dan tidak Namira membalas aksi yang dilancarkan suaminya.
“Yank … yank,” hanya itu kata yang bisa keluar dari bibir Namira.
“Kita coba ya?” bisik Ilyas pelan. Dan Namira hanya mengangguk tanda setuju.
***
Senin pagi di kamar hotel sejak habis salat subuh sudah rame. Oma dan Mami ribut menyuruh Wulan segera sarapan. Pukul 06.00 orang-orang MUA akan datang untuk merias Wulan. Dan pukul 08.30 mereka harus segera berangkat ke rumah August karena akad akan dimulai pukul 10.00. Tentu pengantin wajib tiba lebih dulu.
“Iya Oma, ini mau makan koq,” jawab Wulan. Dia baru saja membuat sussu ibu hamil. Sengaja dia buat panas agar sehabis makan nanti sudah hangat, bukan dingin.
“Yang lain bisa nanti makannya. Kalau kamu ‘kan enggak bisa karena akan dirias. Jangan lupa pakai kemeja jangan kaos sehingga gampang dibuka saat akan ganti baju,” Nenden sang calon mami mertua menerangkan mengapa mereka menyuruh Wulan makan lebih dulu. Dia tahu menantunya itu tak enak hati makan lebih dulu dari yang lain.
“Iya Mam,” jawab Wulan. Dia pun segera ke meja makan yang sejak pukul 04.30 sudah penuh dengan makanan dari dapur hotel. Semalam pak Prabu sudah berpesan agar meja makan sudah terisi pada pukul 04.30 itu.
Wulan sudah memperhatikan, semua urusan hotel dan makan dipegang oleh pak Prabu. Hal lain diurus bu Nenden. Artinya masing-masing punya batasan sehingga malah terkesan sangat terorganisir dengan baik.
“Mari Mam, Oma, Pi, saya makan duluan,” Wulan pamit untuk makan lebih dahulu.
“Nah gitu. Jangan sungkan. Kita semua tahu kapasitas masing-masing,” Oma menerima cangkir susuu yang diberikan oleh menantunya. Nenden membawa susuu bubuk mertuanya. Selain obat-obatan dan vitamin tentunya.
“Kalian kalau mau makan sebelum merias silakan,” Bu Nenden menyuruh petugas rias mengambil keputusan mau makan dulu atau merias dulu. Dan team memutuskan mereka akan bekerja dulu.
“Pak, ini putrinya langsung ajak makan saja. Tu Bapaknya juga sedang makan,” bu Nenden mengajak paklek untuk makan. Tapi Wulan menggandeng sang paman untuk berkenalan dengan omanya August dulu.
“Oma, ini satu-satunya kerabat saya dengan anaknya,” jelas Wulan.
“Paklek, ini omanya mas August,” lanjut Wulan.
“Assalamu’alaykum Bu,” paklek memberi salam pada wanita bule itu. Sementara Riesty memandang dengan takjub. Serasa melihat orang didalam TV.
“Wa’alaykum salam Pak. Silakan langsung makan dengan anak saya di ruang makan,” Oma pun ramah menyambut orang tua Wulan itu.
Wulan mengantar Riesty dan paklek ke ruang makan lalu dia bersiap masuk ke kamarnya untuk dirias.
‘Aku tak menyangka nasib keponakanku sebaik ini. Semua keluarga calon suaminya menerima dengan baik padahal mereka sangat kaya,” batin paklek Suparman.
“Ayo Pak. Kita sarapan duluan tak usah saling tunggu. Sebentar lagi adik-adik dan keponakan kami juga masuk kesini. Mereka tidur dikamar lain, karena hanya ada tiga kamar disini,” pak Prabu mengajak paklek untuk menemaninya makan.
“Pak, ini nanti baju ganti untuk Bapak dan putrinya ya. Biar semua satu warna,” bu Nenden meletakkan bungkusan dimeja dekat meja makan. Saat itu masuk semua keluarga dari kamar yang lain. Pak Prabu memperkenalkan calon besannya pada adik dan kakak iparnya.
Bu Nenden dan Oma sudah selesai makan dan mereka lalu masuk ke kamar Wulan. Rupanya mereka juga ikut dirias. Begitu pun bude dan tantenya August. Semua keluarga menggunakan kebaya dan baju koko berwarna biru yang disiapkan oleh bu Nenden. Termasuk dress cantik dari brokat berwarna biru untuk Riesty. Tak ada kesan nikah dadakan yang amburadul.
Kembali Wulan hanya bisa bersyukur dan terharu menerima perlakuan dari keluarga calon suaminya. Bahkan saking perhatiannya, tadi sebelum Wulan akan berganti rok Nenden memberikan Wulan diapers dewasa untuk dia gunakan.
“Mami tahu ini enggak nyaman. Tapi kamu wajib pakai. Orang gugup, terlebih sedang hamil itu pasti akan sering pipis. Jadi enggak perlu malu dari pada kamu kesiksa. Mami dan Oma juga pakai koq,” begitu alasan bu Nenden yang Wulan tahu itu benar.
Sesuai rencana semua rombongan keluar hotel pukul 08.25. Tentu saja August tahu itu. Dia selalu update kondisi terkini pada Bagas sang adik sepupu. Dia segera berganti baju untuk akad nikah yang sudah dia pesan pada Laura. Dan surprise dari Laura dia mendapat peci yang dibuat dari bahan yang sama dengan kemejanya.
“Han. Ada yang deg deg an nih,” goda Yudha. Dia tahu sejak semalam August terlihat nervous.
“Lo tau aja Yud,” balas Farhan cepat. Mereka sedang sarapan. Nanti pukul 09.00 cattering akan datang untuk mulai menata meja dan perlengkapan makan. Selain makanan, August juga menyewa 25 kursi pada resto dan cattering itu. Tentu sofa rumahnya tak cukup bila ada tamu sebanyak keluarganya yang hari ini hadir di Bandung. Belum lagi team foto yang semalam datang berjumlah delapan orang.
===============================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta