
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\===========================================================================
“Kenapa Bik? Mau antar baju-baju itu? Biar nanti saya cari pakai gogle maps, saya nanti juga bawa alamatnya. Jadi kalau nyasar bisa tanya. ASIP buat Ilham ada koq,” Namira bersedia mengantar keperluan dokter Ilyas. Entah mengapa sejak ada freezer baru, dia menyiapkan ASIP. Tadinya tidak pernah. Karena untuk bahan baku dagangannya saja tempatnya kurang. Sekarang walau hanya 10 botol, dia menyimpan ASIP. Tak perlu banyak, karena dia pun jarang meninggalkan Ilham dalam jangka waktu lama.
“Untung Eneng kepikiran nyimpen ASIP ya. Sekarang jadi berguna. Tadinya mah Bibik pikir buat apaan, kan Eneng mah kalau keluar rumah enggak pernah lama. Paling cuma antar non Nindi ke sekolah. Itu doang. Ke warung mah enggak pernah lebih dari setengah jam.” bik Iyah berkomentar mengenai ASIP yang memang baru-baru ini saja menyimpan ASI nya karena ada ruang di freezer baru.
“Nama lengkap den Ilyas siapa Bik? Nanti disana saya ‘kan harus tahu kalau ingin tanya ruang rawatnya,” Namira tak mau bingung karena dia tahu nama Ilyas pasti banyak.
“ILYAS PRATAMA,” jawab bik Iyah. “Bawa aja kartu namanya, biar enggak bingung. ‘kan disitu juga ada alamat rumah sakit dan nomor telepon den Ilyas.”
“Kalau begitu saya ke rumah sakit sesudah ngejemput Nindi aja ya Bik. Karena kalau pas antar, waktunya keburu-buru. Nanti Nindi kelamaan nunggu di sekolah,” Namira bersiap menggoreng donat dan risol yang akan dia titip di warung hari ini.
***
“Masuk,” Ilyas menjawab ketukan dipintu ruang rawatnya. ‘Belum jam besuk, siapa yang mengetuk pintu?’
“Assalamu’alaykum Den,” sapa sosok cantik yang masuk ke ruangan itu. Rambut berombak sebawah bahu tergerai. Kemeja salem berkombinasi dengan jeans hitam dan beralas kaki sneaker membuat siapa pun yang memandangnya tak akan menduga dia ibu beranak satu usia hampir 4 bulan. Perempuan itu membawakan tas baju untuk Ilyas.
“Wa’alaykum salam. Kamu koq tahu ruang rawat saya?” tanya Ilyas. Karena dia malah lupa memberitahu bibik untuk mengantar baju ke rumah sakit. Dini hari tadi dia hanya meminta disiapkan baju ganti. Sesudah itu dia tidur dan baru saja bangun.
“Tadi tanya di depan Den,” balas Namira. “Aden mau mandi sekarang?” Namira mengatur baju yang disiapkan bibik di lemari yang tersedia. Dia pun memisahkan 1 set baju ganti bila Ilyas menjawab iya.
“iya, boleh,” jawab Ilyas. Baju yang dia kenakan adalah baju sejak pagi kemarin. Semalam dia sudah tidak kuat ganti baju ketika tiba di rumah.
“Ini Den,” Namira memberikan pouch alat mandi dan alat cukur pada Ilyas. Dia sudah menggantung baju ganti dan handuk di kamar mandi. Namira juga menyiapkan sandal jepit yang bik Iyah siapkan. “Mari saya bantu,” Namira hendak memapah Ilyas.
“Saya masih bisa sendiri,” tolak Ilyas. Dia memang masih kuat berjalan ke kamar mandi dengan membawa tiang botol infus.
Ilyas sedang mandi saat seseorang mencarinya. “Ilyas kemana?” tanya seorang perempuan cantik setelah salin berbalas salam dengan Namira.
“Sedang mandi Teh,” jawab Namira sopan. Perempuan itu pun duduk menunggu tanpa bicara lagi.
‘Mau apa dia kesini?’ Ilyas yang baru keluar kamar mandi langsung tak suka melihat tamu yang baru datang. Namira langsung mau masuk kamar mandi untuk mengambil baju kotor Ilyas. Tapi tangannya langsung dipegang Ilyas. “Diam dan ikuti kata-kata saya,” bisik Ilyas sambil menekan tangan Namira yang dipegangnya.
“Barusan, kamu sudah baikan? Sudah makan?” tanya perempuan itu penuh perhatian.
“Saya sudah agak lumayan. Karena ‘kan diurus ama tunangan, pasti cepat sehatlah. Oh iya, kenalkan ini Namira, tunanganku,” jawab Ilyas. “Honey, kenalkan ini rekan kerjaku di sini.”
‘Apa maksud si Aden? Aduuuuuuuuuh aku harus mengikuti sandiwaranya,’ Namira pun segera tahu apa yang harus dia lakukan.
“Sayank, kamu langsung naik dulu ke bedmu.” Namira membimbing Ilyas untuk naik ke brankarnya. “Salam kenal teteh, saya Namira,” Namira menangkup kedua tangannya di depan dad4, setelah Ilyas kembali berbaring.
“Jangan bohong kamu Yas,” Adinda yang tadi dipanggil Din oleh Ilyas berang mendengar kalau Namira adalah tunangan Ilyas.
“Tanya aja orangnya langsung. Bener enggak kami sudah tunangan,” dengan santai Ilyas berkata sambil memainkan rambut Namira.
“Kami baru aja koq tunangannya. Baru 3 bulan lalu di Bogor. Di rumah kak Novi,” jawab Namira.
“See …, aku enggak bohong ‘kan? Dia masih mahasiswi. Kuliah di Bogor. Dan aku tunangan di rumah ibuku di Bogor sana,” timpal Ilyas.
“Aku beresin baju kotormu dulu ya Yank,” Namira pamit dari ranjang Ilyas. Dia tak enak karena Adinda seperti mengajaknya perang.
“Kamu tega Yas,” Adinda marah walau suaranya lirih agar tak terdengar oleh Namira.
“Tega kenapa? Apa selama ini saya pernah kasih harapan ke kamu? Apa selama ini saya pernah menjawab kata-kata cintamu? Apa selama ini ada kata sayang yang aku berikan? Apa ada attensi sebagai tanda sayangku? Kamu yang terlalu terobsesi padaku. Kenapa aku yang dibilang tega?” Ilyas menjawab dengan suara biasa tidak dilirihkan sehingga Namira jelas mendengar.
‘Ternyata perempuan itu bukan mantan pacarnya. Hanya perempuan yang terobsesi pada den Ilyas. Padahal dia cantik banget, kenapa mau aja ngejar cinta yang enggak berbalas seperti itu? Cinta emang enggak pernah bisa menggunakan logika,’ batin Namira. Dia pun kembali ke dekat Ilyas. Tak mungkin sebagai tunangan selalu menjaga jarak.
“Sayank, minum juice yang aku bawa ya?” Namira menyodorkan juice yang memang dia bawa dari rumah. Dia malah belum tahu kalau Ilyas terkena demam berdarah. Karena stok buah di kulkas hanya jeruk dan jambu biji, maka dia membawa juice jambu biji.
“Thank’s Honey,” sahut Ilyas sambil menerima botol yang diberikan Namira. Adinda yang melihat itu langsung keluar tanpa pamit. Namira langsung duduk menjauh.
“Den, saya pamit dulu,” Namira langsung izin pamit.
“Tunggu, saya habiskan juice ini dulu, biar botolnya langsung kamu bawa pulang,” Ilyas sengaja menahan “tunangannya” itu. Dia tak menyangka Namira bisa berakting sebagus itu.
“Den, besok-besok lagi, kalau butuh driver, bangunkan saya aja. Saya punya sim A koq,” Namira memberitahu Ilyas tentang kemampuannya.
“Wah saya baru tahu, oke akan saya ingat,” jawab Ilyas. Dia perhatikan perempuan di depannya. ‘Normalnya dia memang sangat cantik, pintar pula. Kuliah dapat beasiswa. Sayang nasibnya kurang bagus. Kalau aku suruh dia melanjutkan kuliah di bandung gimana ya? Apa dia aku daftarkan kuliah khusus pegawai? Waktu kuliahnya ‘kan hanya Sabtu dan Minggu aja. Nanti akan aku bicarakan lain kali,’ pikir Ilyas. Dia habiskan juicenya.
***