TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
~YARA~



Laura baru saja meminta tanda tangan pada polwan yang saat ini datang ke panti asuhan miliknya. Ada berkas serah terima bahwa bayi yang ditemukan polisi dititipkan di yayasan Kepak Kasih Bunda miliknya dengan banyak ketentuan yang tertuang di berkas itu. Memang sudah lama Laura menerima kerja sama dengan kepolisian di wilayah tempat tinggalnya. Bila ada bayi yang di buang orang tuanya, tentu polisi tak bisa terus menerus merawat bayi tersebut di kantor. Maka bayi itu akan dititipkan di panti asuhan hingga batas waktu penyelidikan usai. Setelah itu sang bayi akan dikembalikan ke orang tuanya bila ketahuan pelakunya, bila tidak ketahuan, bayi itu bisa di adopsi jika ada orang tua yang berkenan. Tentu Laura akan melaporkan juga ketika bayi titipan akan diadopsi.


“Cantik ya,” seru Nengsih saat pertama menggendong bayi yang baru berusia 10 hari itu. Sang bayi ditemukan di belakang rumah warga, saat itu sepertinya baru dilahirkan karena masih menempel tali pusatnya. Lalu dirawat di puskesmas dulu, setelah sehat baru di titipkan di panti asuhan. Tentu selama waktu tertentu polisi menanggung su5u dan semua kebutuhan bayi titipan.


Karena sedang menerima tamu dari kepolisian, maka Laura tak bisa menghindar dari dokter Ilyas yang datang untuk memeriksa para penghuni panti hari ini.


“Saya minta data kesehatan baby ini,” pinta dokter Ilyas kepada Sukma yang sedang membereskan berkas baby no name itu. Dia langsung memeriksa baby itu dengan saksama, dan menambahkan catatan medis di data baby A. Entah siapa nama yang akan disematkan sementara, saat ini hanya kode huruf A saja yang bisa membedakan bayi ini dengan bayi lainnya.


“Mommy Laura, baby A mau dipanggil siapa?” tanya dokter Ilyas yang baru selesai memeriksa bayi itu.


“Belum kepikiran, nanti terserah para Bunda akan ngasih nama apa,” jawab Laura. Di panti itu memang Laura mendapat sebutan MOMMY, dan para pegawai disebut BUNDA.  “Atau bila Dokter berkenan, silakan Dokter yang memberi nama, agar tidak menggunakan kode baby A,” lanjut Laura dengan manis.


‘Kamu selalu bisa membuat dadaku bertalu bila mendengar suara merdumu atau melihat senyum manismu,” batin dokter Ilyas saat melihat senyum Laura.


“Bagaimana bila Yara?” tanya dokter Ilyas spontan.


“Nama yang bagus,” Karni nyeletuk, karena saat ini dia sedang menggendong baby A untuk di bawa ke kamar.


‘YARA, apakah kamu menggunakan namamu dan namaku yang digabung?’Laura bisa menebak darimana nama itu tercetus. Laura hanya tersenyum manis tatkala Nengsih juga setuju menggunakan nama sementara itu.


Selesai ramah tamah dan makan siang semua pulang kecuali dokter Ilyas, dia memang masih harus berada di panti asuhan hingga pukul 14.00. “Assalamu’alaykum,” terdengar salam dari luar.


“Wa’alaykum salam,” balas Karni menjawab salam tamu yang hadir siang itu. Setelah lama bertanya jawab, bisa disimpulkan tamu tersebut tertarik ingin mengadopsi seorang bayi atau balita dari yayasan ini. Karni menjelaskan semua prosedur dan meminta tamu tersebut mengisi formulir yang telah disediakan. Yang datang adalah sepasang suami istri dan kakak si istri, demikian tadi mereka memperkenalkan diri.


Karni mengajak mereka untuk melihat balita yang ada, sebenarnya bagian ini adalah bagian yang paling dia benci. Dia seakan sedang memamerkan dagangannya. Dia sangat tidak suka, tapi apa mau dikata, memang hal ini harus terjadi.


“Dokter, perkenalkan, ini bapak Ayub dan bu Fitri, ingin melihat anak-anak di sini,” Karni memperkenalkan dokter Ilyas yang sedang memeriksa batita ditemani Nengsih.


“Fitri.”


“Ilyas.”


“Ayub.”


“Ilyas.”


Dokter Ilyas hanya mengangguk karena jauh untuk berjabat tangan. ‘Cantik, tapi datar,’ batin dokter Ilyas.


“Saya pamit ya,” dokter Ilyas menyerahkan map pada Nengsih, hasil laporan pemeriksaan hari ini.


“Iya, Dok, terima kasih atas kunjungannya,” balas Nengsih. Lalu dia membantu Karni menemani pak Ayub dan istrinya.


“Wah kalau ini belum bisa Bu, ini baru dititip kepolisian pagi ini. Status titipan tidak boleh di adopsi,” jelas Nengsih.


“Dokter tadi, apa memang praktek di sini?” tanya bu Fitri.


“Iya Bu, di sini ada 5 orang dokter yang gantian memeriksa kesehatan anak panti. 2 dokter anak dan 3 dokter umum,” jawab Karni sopan.


Lama sekali pasangan itu duduk di ruang batita. Mereka berdiskusi dan banyak bertanya pada Sukma dan Nengsih di sana. Karena Karni ada di ruang balita bersama 2 pegawai lainnya. “Jadwal dokter Ilyas ke sini lagi kapan ya?” tanya bu Fitri.


Sukma melihat jadwal kedatangan dokter dan memberitahu kapan dokter Ilyas akan berkunjung berikutnya. “Saya akan datang saat dokter Ilyas bertugas. Biasanya beliau datang dari jam berapa hingga jam berapa?” tanya bu Fitri lagi. Entah mengapa sejak tadi dia mencari info tentang dokter Ilyas. Bu Fitri mulai semangat mengorek tentang dokter Ilyas saat mendengar dari Karni kalau dokter Ilyas masih single.


***


Sudah 4 hari August belum juga bertemu dengan Julia, padahal tiap hari dia menunggu gadis itu di lobby sejak siang sebelum makan siang hingga malam sehabis maghrib. Entah ke mana perempuan itu tak pernah hadir di kantornya.


“Apa hari ini ibu Julia sudah masuk kerja? Atau ada khabar dia sakit sehingga sudah 3 hari tidak masuk kerja?” tanya August penasaran.


“Belum masuk Pak, dan tidak ada info beliau cuti, dinas luar atau sakit. Pak Bastian tetap masuk kerja seperti biasa sehingga tidak mungkin bu Julia dinas luar.” Jawaban petugas resepsionis membuat August tambah bingung.


‘Ke mana kamu Neng?’batin August. Besok pagi dia harus mulai terbang lagi. Paling cepat minggu depan baru dia bisa datang mencari Julia. Sedang dicari di rumahnya pun tidak ada. Mobil gadis itu juga tak terlihat di garasi rumah Julia.


 \=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta