
August tak menyangka, saudara dekat Stella yaang direkomendasikan oleh Yudha dan Farhan adalah seorang pramugari di maskapai yang sama dengan tempatnya bekerja. Dia harus mencarinya karena pramugari itu masih sangat baru dan mendapat route dalam negeri. “Ada perlu apa sih sampai penasaran cari dia?” tanya Paulus, sahabat August di maskapai yang bagian HRD.
“Jangan bilang, dia targetmu selanjutnya,” goda Paulus.
“Aku sudah tak ingin bermain perempuan. Aku hanya ingin menikah langsung saja,” balas August. Dia dulu sering minta data perempuan yang ingin dia dekati pada Paulus. Sesudah dapat datanya, dia akan ke bagian pengatur jadwal agar perempuan itu dimasukkan dalam team terbangnya. Itulah kelakuan buruknya dahulu. Sebelum cintanya pada Julia kandas.
“Kalau begitu buat apa?” Paulus makin penasaran.
“Aku mau bertanya sesuatu yang penting pada dia. Sesuatu yang akan berakibat fatal pada kehidupan masa depanku. Sudah cepat kau berikan padaku nomor telepon dan alamat tinggalnya,” pinta August.
“Sabar Boss, ini juga sambil aku cari ‘kan?” Paulus terus menscroll data di laptop kantornya.
Paulus menyerahkan secarik kertas pada August. Dia tahu August tak pernah berbuat kriminal pada data yang dia minta. “Thanks Boss,” ucap August saat menerima alamat rumah serta alamat mess dan nomor telepon pramugari saudara Stella.
Masih didepan Paulus, August langsung menghubungi Vidya dengan nomor telepon dimeja kerja Paulus.
“Selamat siang Pak,” suara bening di ujung telepon memberi sapaan terhadap telepon yang August lakukan.
“Dengan Vidya?” tanya August datar.
“Benar Pak.”
“Kamu hari ini dinas ke mana dan jam berapa?”
“Saya terbang pukul 13.45, ke Surabaya Pak.”
“Masih tiga jam lagi. Sekarang kamu dimana?”
“Ini baru sampai bandara Pak.”
“Langsung ke ruangan saya.” August langsung memutus sambungan telepon. Dia tahu Vidya mengira yang menghubungi adalah Paulus.
“Kenapa bicara disini?” tanya Paulus.
“Aku malas bertemu diluar lalu nanti ada rumors aku mendekati anak baru. Udah enggak jamannya lagi. Aku mau bertapa,” August menyesap minuman kaleng kecil yang sejak tadi diberikan Paulus.
Tak menunggu lama terdengar pintu diketuk. “Masuk,” Paulus sebagai pemilik ruang memberi izin pada pengetuk pintu untuk masuk ke ruang kerjanya.
“Bapak memanggil saya?” tanya Vidya takut-takut.
“Duduk dulu,” Paulus meminta Vidya duduk di sofa tempat August sudah duduk lebih dahulu.
“Perkenalkan ini captain August. Dia ingin bertanya padamu. Jadi kamu jawab dengan jujur,” sebenarnya ini alasan August memanggil Vidya ke ruangan Paulus. Backingannya sebagai kepala HRD tentu berpengaruh terhadap jawaban Vidya.
Vidya menatap lelaki yang tidak mengenakan seragam itu. Sehingga kalau tidak diberitahu pak Paulus tentu dia tak tahu pria tampan didepannya adalah pilot senior. “Baik Pak.”
“Vidya.”
“August. Silakan duduk,” August menerima jabat tangan pramugari muda itu.
“Saya tahu kamu adalah adik sepupu Stella Angelica Staney. Saya tahu Stella diusir dari keluarga besarnya karena menikah dengan sesama jenis. Saya ingin bukti pernikahan mereka untuk saya gunakan intern agar perjodohan saya dan Stella batal!” dengan jelas August mengatakan niatnya pada Vidya.
Paulus tercengang mendengar August akan dijodohkan. Dia tahu pertunangan August kandas karena kesalahannya. Tapi tak mengira nasib temannya akan setragis ini. Paulus menilai August tak bisa mundur dari perjodohan bila tak mendapat bukti itu. Dia berniat membantu. Dia sendiri pernah tahu sakitnya di jodohkan oleh keluarga.
“Saya minta kamu memberikan bukti itu maksimal lusa ya Vidya. Kamu serahkan ke saya. Tak perlu mencari captain August,” dengan tegas Paulus memberi ultimatum pada Vidya yang hanya bisa menunduk. August memandang Paulus dengan tatapan terima kasih.
“Kamu bisa keluar sekarang,” lanjut Paulus.
“Baik Pak, selamat siang,” Vidya langsung keluar ruangan. Dia bingung siapa yang masih memegang foto akta pernikahan kak Stella yang sempat heboh dibahas di group chat keluarga besarnya. Dia harus segera mendapatkannya karena nasibnya tergantung dengan foto itu. Bisa gawat bila besok lusa dia belum menyerahkan ke pak Paulus manager HRD nya.
“Siang sayang,” sapa lembut sang mama dia dengar ketika telepon yang dia tuju menerima panggilannya.
“Ma, adek dalam masalah besar!” Vidya langsung mengeluh pada sang mama.
“Kenapa De?” sang mama penasaran mendengar nada putus asa anak bungsunya.
“Barusan Ade dipanggil kepala HRD. Disana ada captain senior. Ternyata dia dijodohkan sama oma kak Stella. Nah orang itu tahu kalau kak Stella udah menikah. Dia minta buktinya harus Ade serahin maksimal lusa. Ade harus gimana Ma? Yang bilang harus diserahkan lusa itu kepala HRD. Memang ini masalah personal. Tapi dia pasti gampang cari kesalahan buat pecat Ade kalau syarat yang dia minta enggak Ade kasih,” Vidya menjelaskan pada mamanya.
“Pasti yang ngejodohin Stella oma dari pihak mamanya. Kalau dari pihak papa kan udah enggak ada yang mau ngeliat Stella lagi. Dasar perempuan jadi-jadian!” mama Vidya kesal anaknya harus mendapat kesulitan dari keponakan suaminya.
“Nanti mama bilang ke papa, sepertinya papa masih ada copy surat itu di ponsel lamanya. Kalau enggak ada, papa akan minta ke om Lukman biar kamu bisa serahkan besok ya,” sang mama menjanjikan Vidya jalan keluar dari persoalan yang dihadapinya.
“Terima kasih ya Ma, Ade bersiap terbang dulu,” Vidya tenang. Besok dia bisa menyerahkan bukti itu pada pak Paulus.
***
Ilyas melihat Namira mengambil nasi dengan terus tertunduk. Seakan makan adalah kegiatan yang menyiksa baginya. “Teteh, Bundanya disuapin tuh,” Ilyas sengaja menggoda Namira lewat Nindi.
“Eh … oh iya Tuan, saya ucapkan terima kasih. Sudah dibelikan banyak keperluan Ilham,” Namira menyampaikan terima kasih tanpa mengangkat kepala.
“Kalau bicara itu dilihat siapa yang diajak bicara,” Ilyas protes atas kelakuan Namira. Yang diprotes tetap diam dan tidak mengulangi ucapannya tadi. Bik Iyah tersenyum. Dia tadi sudah ditelepon oleh kakaknya yang memberitahu kalau Novia merestui hubungan Ilyas dengan Namira. Padahal Namiranya saja masih menolak Ilyas. Tentu saja kakaknya bik Iyah tak percaya ada orang susah menolak dokter ganteng dan mapan seperti Ilyas.
“Bunda, aku mau tambah tahu,” pinta Nindi. Letak piring tahu memang dekat dengan Namira.
“Bibi Teh, bukan Bunda,” protes Namira pada keponakannya.
“Enggak! Ayah bilang sekarang panggilnya BUN-DA …,” Nindi sengaja mengeja sebutan bunda agar Namira jelas. Ilyas hanya senyum-senyum melihat Namira memelototinya.
“Jangan melotot begitu Bunda, Ayah jadi takut,” goda Ilyas lebih lanjut. Namira makin salah tingkah karena bik Iyah jelas mendengar semua perkataan Ilyas itu.
\=========================================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Jangan lupa tinggalin komen manisnya
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta