TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
THE TWINS HAVE FEVER



YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\=================================================


Bastian pulang ke rumah dengan kondisi kejiwaan teramat lelah. Dia seakan tentara kalah perang. Mau tidak percaya, tapi dia melihat sendiri postingan pria bernama Dade itu. Mau percaya, dia tak yakin Julia akan secepat itu move on. Sedang setahu Bastian,  Julia belum bisa mengikis kenangannya dengan August san mantan tunangan. Rasanya sulit percaya Julia sudah punya gandengan baru. Menurutnya itu hal yang tak mungkin! “Uncle,” sapa Guntur saat Bastian baru saja keluar dari mobilnya.


“Ya ganteng,” Bastian mencoba menjawab dengan manis sapaan keponakannya. Dulu dia biasa membawa kedua keponakannya makan ice cream atau sekedar jalan dan bermain bola di taman setiap ada waktu luang. Sekarang tak ada lagi waktu luang. Hari-harinya hanya sembunyi di kamar memikirkan Julia.


“I miss auty Julia,” dengan sedikit terisak jagoan kecil itu berkata pelan di dalam gendongan Bastian. Bastian tak bisa berkata-kata. Siang tadi memang mamahnya mengabari kalau Topan demam dan mengigau memanggil-manggil Julia. Namun dia hanya menenangkan sang mamah. Dia tak memberi saran apa pun. Bisa saja sang Apa’ atau mamah menghubungi Julia, tapi tentu tak enak bila dikira dia yang mengusulkan. Dia tak mau dibilang memanfaatkan sakitnya sang keponakan untuk bertemu Julia.


“Kita beli ice cream yok?” ajak Bastian saat dia sudah sampai kamar dan hendak ganti pakaian. Dia dudukkan Guntur di kasurnya. “Uncle ganti baju dulu ya.” Dia segera mengambil baju di almarinya dan masuk ke toilet. Dia siram tubuhnya untuk menghilangkan rasa gerah dan lengket. Tak lupa bersabun lalu dia bilas tanpa digosok karena mengingat ada Guntur yang menantinya.


“Come on, kita beli ice cream,” Bastian mengangkat Guntur untuk dia bawa ke mini market di depan perumahannya.


“Aki dan Nini sudah beli ice cream, aku hanya mau aunty Julia,” jawab Guntur. Bastian tentu bingung, dia membawa Guntur ke kamar bocah itu. Di sana dia lihat mamahnya sedang memasang plester kompres di dahi Topan.


“Mah, kalau besok Topan bangun dan masih panas, sebaiknya mamah telepon Julia dengan video call. Mungkin itu bisa mengurangi rasa kangen mereka. Kalau aku tidak berani menghubunginya,” bisik Bastian pada mamanya. Dia tak ingin Guntur mendengarnya. Takutnya anak itu meminta menghubungi Julia malam ini. Dia tak enak karena Julia pasti tahu kalau malam Bastian ada di rumah.


“Tadi dokter bilang apa Mah?” tanya Bastian.


“Entah, katanya mungkin terlalu lelah. Kalau masih panas dalam 2 hari ke depan diminta dibawa ke rumah sakit untuk uji lab,” jawab bu Adi. Dia berharap sang cucu tidak sampai dirawat di rumah sakit.


“Apa’ ke mana?” tanya Bastian lagi, karena dia tak melihat ayahnya sejak tadi.


“Apa’ nebus obat,” jawab bu Achdiyat.


“Kayak enggak punya pegawai aja Apa’ pergi sendiri,” Bastian bingung. Karena di rumah ini ada 3 asisten rumah tangga. 2 pegawai lelaki yang merangkap bekerja apa pun termasuk menjadi sopir dan menjaga 2 jagoan kecil serta 2 satpam yang kerja bergantian.


“Kayak enggak hafal Apa’mu aja. Dia ‘kan selalu seperti itu, karena sering membeli apa yang dilihatnya. Kalau nyuruh orang ‘kan dia tak bisa melihat langsung jadi enggak bisa nyuruh beli,” jawab bu Achdiyat lagi. Suaminya memang seperti itu. Sering membeli sesuatu yang tidak diniatkan. Karena melihat lalu kepengen. Sedang kalau menyuruh orang lain tentu tak ada yang diinginkannya.


***


“Apa Nazwa sore tadi datang ke sini?” Syahrul yang sudah sampai ke panti dan dipersilakan masuk bertanya pada Nengsih yang membukakan pintu. Tentu sehabis maghrib pintu depan panti ditutup rapat bila tak ada kegiatan atau ada tamu.


“Tidak, neng Nazwa tidak datang ke panti,” jawab Nengsih jujur. Karena sore tadi Nazwa memang tidak datang ke panti. Tapi langsung ke rumah Laura. Walau semua pegawai sudah tahu Nazwa ada di rumah pimpinan mereka, tapi sesuai perintah mereka tak ada yang membocorkan keberadaan Nazwa.


“Kalau begitu bisa temani saya ke rumah Laura, saya ingin bertanya dengan dia,” Syahrul meminta diantar kerumah pimpinan panti. Tak etis dia langsung ke belakang.


“Lewat pintu depan rumah saja Dok, sekalian Dokter parkir mobilnya  di sana. Sehingga nanti pagar panti bisa langsung ditutup lagi oleh mang Soleh.


“Oh gitu ya, baiklah saya pamit. Maaf mengganggu,” Syahrul pun pamit.


“Enggak ada yang terganggu Dok, santai aja,” jawab Nengsih sambil mengantar sang dokter ke halaman panti.


Syahrul memutar, dan mendatangi rumah tinggal Laura di belakang panti asuhan. Tak lama mang Asep menyambutnya dan mempersilakan sang dokter masuk. Laura yang sudah mengira akan kedatangan Syahrul bersiap keluar kamarnya saat bik Sanah memberitahu kalau dokter Syahrul datang bertamu.


Syahrul menatap perempuan yang saat ini dia cintai, perempuan yang masih menggantung hubungan mereka dengan ketidak pastian. Dan perempuan yang sedang marah sampai memblokir nomor ponselnya.  Syahrul berdiri dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Dia sangat tahu perempuan di depannya sedang terluka akibat kesalah pahaman melihat dia melukai anak-anaknya. Laura sangat mencintai Nazwa dan Fahri, Laura pasti marah melihat dia tak peduli pada kedua anaknya. Padahal dia tak memanggil kedua anaknya agar mereka tidak tambah marah melihat kelakuan Faiza yang semena-mena terhadap keduanya.  “Apa khabar?” sapa Syahrul saat Laura menerima jabat tangannya.


“Baik. Silakan duduk,” jawab Laura datar. “Ada perlu apa malam-malam datang?” tanya Laura seakan tidak tahu kalau Syahrul sedang mencari Nazwa.


“Apa Nazwa menghubungimu? Apa dia datang kemari?” tanya Syahrul lirih, tapi matanya tajam menatap mata Laura. Dia ingin melihat reaksi gadis di depannya atas pertanyaan yang dia lontarkan.


“Sejak saya pulang dari rumahmu, Nazwa sama sekali tidak menghubungi saya,” Laura menjawab jujur sampai pernyataan ini. Memang tak ada percakapan telepon dari gadis kecil itu sampai setiba dia dari Bandung tadi tahu Nazwa sudah ada di kamarnya. “Memang sejak kapan Nazwa pergi, dan kenapa?”


“Aku enggak tahu kenapa dia pergi. Bibik bilang siang masih lihat Nazwa tidur di kamarnya dan sore sudah tak ada,” balas Syahrul.


“Kamu sudah cari dia ke mana aja? Sudah hubungi siapa aja?” gemas Laura mendengar Syahrul tak mengetahui alasan Nazwa pergi.


‘Dia tak sekali pun menyebutku dengan ABANG seperti biasa. Sejak tadi dia hanya bilang kamu dan kamu. Semarah itu dia padaku,’ batin Syahrul. Dia terluka Laura bicara seperti tidak mengenalnya dengan special. “Abang sudah cari ke sekolah dan menghubungi teman-temannya dari nomor telepon yang diberikan sekolah,” Syahrul sengaja menyebut dirinya abang agar Laura sadar kalau ada sebutan special antara mereka.


“Apa kamu yakin teman-temannya menjawab dengan jujur? Bisa aja mereka bilang Nazwa tidak ada di rumahnya, padahal dia ada di sana,” pancing Laura.