TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
MENABUNG UANG KULIAH UNTUK ANAK BAYI



Sesampai di rumah Namira langsung membersihkan diri, dan mengurus Ilham serta membantu Nindi membuat pekerjaan rumahnya. Setelah itu dia ngebut membuat pesanan risol yang tadi dia terima saat di rumah sakit. Dia tak pernah mengeluh. Semua dinikmati dan disyukuri. “Kamu enggak capek Neng?” tanya bik Iyah. Dia sedang menyetrika.


“Capek buat saya mah biasa Bik, sekarang mah udah sangat bersyukur. Dulu buat makan aja susah, mesti ninggalin Ilham yang baru umur dua minggu. Jadi saya enggak mau bilang capek, karena ini enggak seberapa dibanding saat saya belum bertemu dengan den Ilyas,” sahut Namira sambil memotong ayam dalam ukuran dadu kecil.


“Iya Neng, Bibik apa kakak ibik yang di rumah neng Pia juga beruntung banget ketemu ama ibunya den Ilyas,” bik Iyah juga tertolong karena kebaikan ibu ilyas. Dan rupanya Novia dia sebut sebagai neng PIA.


“Bik, tadi saya beli melon. Besok bisa bikinkan juice melon buat den Ilyas. Kalau bibik yang mau berangkat, saya akan pesankan ojek online untuk berangkat kesana. Nanti pulangnya biar dipesankan ojek online sama den Ilyas. Tapi enaknya Bibik bawa motor aja sendiri. Gampang koq enggak bakal nyasar,” Namira memberi tahu bik Iyah.


“Iyah, besok biar Bibik yang ke rumah sakit,” jawab bik Iyah.


***


‘Jahaaaaaaaaaaaaaat, enggak ngasih tahu!’


‘Enggak CS!’


‘Serius?’


‘O’emji!’


Demikian reaksi ke empat gadis dalam lima sekawan saat Julia mengirim foto dua tangan dengan cincin perak sederhana couple. Dengan tulisan “Alhamdulillah”. Tentu saja para sahabatnya tak menduga mendapat kejutan seperti itu.


‘Aku pernah gagal, maka tunangan kali ini tanpa pesta, tanpa dihadiri keluarga besar. Benar-benar hanya keluargaku dan keluarga big boss. Aku hanya mohon doanya kami bisa ke jenjang selanjutnya dengan selamat,’ jawaban Julia membuat ke empatnya diam. Mereka mengerti mungkin masih ada trauma dalam diri sahabatnya itu.


‘Aku doakan, kamu dan big boss bisa menikah dan bahagia selalu.’


‘Selamat kesayangan, semoga langgeng.’


‘Aku ngerti, semoga kali ini enggak gagal lagi.’


‘Semua kata udah diborong ama komen sebelumnya. Aku cuma bilang AAAMIIIIIIN.’


Demikian jawaban para sahabat selanjutnya.


‘Semoga kalian juga cepat dapat jodoh ya,’ balas Julia.


‘Aaamiiiiin ya Rob.’


‘Aamiiin.’


‘Semogaaaaa, aaaamiiin.’


‘Iya, aaamiiin.’


***


“Lusa saya seminar di CROWN Hotel Bandung, bisa ketemuan?” tanya Rido pada Syahrul.


“Kamu free jam berapa?” tanya Syahrul


“Oke, lusa aja, biar kita bisa nyaman ngobrolnya,” jawab Syahrul senang. Syahrul akan memberitahu kedua anaknya kalau dia besok akan keluar malam menemui sahabat lamanya. Bagi Syahrul anak adalah segalanya. Dia mau mereka tahu ayahnya selalu keluar rumah hanya untuk bekerja. Diluar jaam kerja, bila dia harus pergi maka dia selalu memberitahu. Agar anak-anaknya juga bersikap seperti itu. Diluar jam sekolah atau kegiatan rutin, mereka wajib memberitahu bila keluar rumah. Syahrul berharap Rido memberinya khabar terbaru yang dia butuhkan.


“Abang akan bertemu dengan Rido, teman yang kasih info tentang Ida, kamu bersedia nemani ke hotel Crown?” tanya Syahrul. Dia langsung menelepon Laura. Siapa tahu gadis itu bersedia menemaninya.


“Bukan kapasitasku untuk mengetahui alasan mantanmu, jadi aku enggak ingin menemanimu,” jawab Laura.


“Tentu kamu harus tahu, agar bila anak-anak sharing lagi kamu tahu alasan Ida,” bujuk Syahrul.


“Aku bisa tahu dari Abang ‘kan? Enggak perlu bertemu langsung dari informanmu?” balas Laura. Sesungguhnya ia tak ingin menemani Syahrul hanya karena tak ingin terlalu dekat dengan lelaki itu. Dia memang belum pernah pergi berdua, khusus berangkat berdua dengan lelaki itu. Benar mereka sering makan berdua, itu karena tak sengaja bertemu. Bukan karena janjian seperti sekarang.


“Baiklah,” balas Syahrul. Duda ganteng dan mapan ini sadar, memang sangat sulit menaklukkan gadis cantik pujaan hatinya. Bahkan rivalnya pun sampai menyerah. Dia tahu dokter Ilyas yang masih bujangan saja menyerah. Bukan karena Ilyas punya tambatan hati lain, tapi karena sudah lelah.


***


“Ini baju ganti dan juice hari ini Den,” bik Iyah mengeluarkan baju ganti untuk majikannya yang masih terbaring sakit. Dia langsung memasukkan baju kotor dari lemari ganti rumah sakit.


“Terima kasih Bik, apa di rumah baik-baik saja?” tanya Ilyas. Dia sedikit kecewa yang datang pagi ini adalah bik Iyah. Bukan “tunangannya”.


“Semua baik tuan. Hanya karena tak ada tuan, neng Namira tidak masak seperti biasa. Waktu saya tanya, dia menjawab dirinya dan Nindi tak perlu lauk. Jadi kemarin hanya bikin bening bayam dan tahu goreng. Hari ini hanya bikin sayur katuk dan tahu lagi karena kemarin beli tahu cukup untuk sampai hari ini,” jawab bik Iyah sambil membereskan baju di lemari kecil. Karena Ilyas dengan keterbatasan geraknya main ambil baju sembarangan.


“Kalau dia tak banyak pesanan, besok biar dia yang datang kesini saja Bik. Lalu untuk juice apa dia dan Nindi minum tiap hari?” Ilyas mengerti mengapa Namira bertindak seperti itu. Perempuan itu tak mau aji mumpung. Baginya bisa tidur tenang dan perut kenyang tanpa terbebani dengan biaya sewa kamar dan biaya makan sudah sangat bersyukur. Maka tak ingin berlebih!


“Hari ini dia banyak pesanan, walau kemarin kesini pun semua bisa dia kerjakan koq Den. Dan tak pernah ada keluhan sama sekali. Saat saya tanya mengapa masih tetap cari uang padahal tak butuh bayar kamar dan beli makan. Maka jawabannya untuk jaga-jaga bila harus keluar dari rumah Aden. Dan dia juga ingin menabung untuk biaya sekolah Ilham. Dia ingin Ilham bisa selesai kuliah.


“Bagaimana dengan Ilham saat dia tinggal?” tanya Ilyas. Lelaki ini sangat kagum pada Nindi. bahkan saat anaknya belum sampai satu tahun saja sudah berpikir menabung untuk biaya kuliah bayi itu.


“Sejak Aden beli freezzer, Eneng menyimpan ASI nya. Ada 10 botol persiapan kalau dia banyak pesanan. Kalau Ilham butuh minum dan dia sedang tanggung, Nindi yang akan memberi minum Ilham,” jawab bik Iyah kembali. Sekarang perempuan paruh baya ini sudah selesai dan ingin pulang.


***


Hari ini kembali oma meminta August mengantar ke rumah temannya. Semalam oma dengan jujur mengatakan kalau kunjungannya kali ini untuk memperkenalkan August dengan cucu temannya. Oma akan menjodohkan August lagi. Calon yang Oma pilihkan tentu sudah oma selidiki dengan baik. Perempuan cantik itu lulusan sekolah mode di Paris, punya butik dan di usianya yang cukup matang belum pernah pacaran! Amazing, cantik, mapan, 28 tahun tapi belum pernah satu kali pun pacaran!


Seperti biasa August tak bisa menolak. Terlebih 3 hari lalu Bagas telah sukses membalapnya. Adik sepupunya itu telah melakukan lamaran dan akan menikah 2 bulan lagi. Sehingga sekarang August berkewajiban segera punya calon istri. Dari oma dan maminya, August mengetahui kalau Julia sudah tunangan.


\==============================================================================


Mana komen manisnya?


Yanktia akan buka rahasia Fanny dan Harun nih, baca update an berikutnya ya


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta