TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
I GOT YOU NUMBER!”



“Honey, aku pinjam ponselmu sebentar. Aku lupa taruh ponselku dimana,” Ilyas keluar membawa ransel baju miliknya yang dia taruh di ruang tamu.


Tanpa curiga Namira memberikan ponselnya. Ilyas mengetik nomor miliknya. Lalu terdengar dering ponsel disakunya. “Thanks Honey, I got you number!” Ilyas mengembalikan ponsel Namira dengan cengar cengir.


Ilyas bukan tak memiliki nomor Namira. Saat dia membelikan ponsel baru untuk Namira promo kue dagangannya dulu, nomor lama Namira dimasukkan ke ponsel baru dan Ilyas sudah memilikinya. Entah mengapa beberapa waktu lalu Namira mengganti nomor ponselnya.


‘Nyebelin,’ batin Namira saat mengetahui kelicikan ‘tunangannya’ itu. Tapi dia tersenyum karena sadar baru saja tertipu.


Namira menyiapkan baju ganti untuk dia ke kampus lamanya. Dia juga menyiapkan baju ganti Ilham dan Nindi setelah menyiapkan botol-botol ASIP dan semua keperluan Ilham.


“Aku antar kue dulu ya,” Namira pamit pada Ilyas untuk keluar rumah dan dia sudah membawa kunci motor.


“Nanti aja sekalian kita berangkat. Langsung pakai mobil aja biar enggak kelamaan,” Ilyas memasukkan semua tas yang sudah siap di ruang tamu ke mobil.


“Honey, diapers dan tissue basahnya enggak perlu bawa. Nanti  kita beli di jalan aja sekalian beli jajanan,” Ilyas mengeluarkan diapers yang disiapkan Namira.


Namira pun memasukkan motor dan mengembalikan diapers yang tak jadi dibawa. Mereka berangkat tanpa menunggu Nindi bangun. Ilyas memindah gadis kecil itu ke mobil. “Sandal dan sepatu Teteh enggak ketinggalan ‘kan Honey?” tanya Ilyas saat akan keluar mengunci pagar.


“Enggak,” jawab Namira singkat. Dia tetap saja masih kaku menyebut Yank atau Yah.


“Alamat pengiriman kue mana?” tanya Ilyas.


“Satu di perumahan ini, Blok XII no 67. satunya dekat sekolah Teteh. Jadi sekalian antar surat izin Teteh. Ayah beneran sudah buat surat izinnya?” tanya Namira.


“Sudah, ini pegang,” Ilyas memberikan sebuah amplop pada Namira.


“Bi, punten. Itu kue milik bu Habibi, tolong kasihkan. Saya susah turun,” pinta Namira pada bik Iyah.


“Biar Ayah aja. Yang mana?” tanya Ilyas. Dia lebih siap membantu kekasihnya itu.


“Ada namanya koq di tas nya,” jawab Namira. Begitu masuk mobil Ilham minta minum ASI sehingga Namira kesulitan mau turun.


Tanpa malu dan ragu Ilyas mengambil sebuah kantong besar bertuliskan nama bu Habibi. Dia keluar mobil dan memencet bel rumah itu. Begitu pun di rumah kedua dan di sekolah. Semua Ilyas yang turun.


“Bundaaa …,” Nindi terjaga. Dia bingung ada dimobil.


“Iya Teh,” sahut Namira lembut.


“Kita mau kamana ( kemana )?” tanya Nindi.


“Ke rumah dede Gilang dan dede Galang,” sahut Ilyas.


“Ke Bogor Yah?” tanya Nindi dengan suara bahagia.


“Iya. Kita ke rumah Uwak Novia ya,” sahut Ilyas lagi. Dia sudah mengisyaratkan nanti Nindi menyebut Novia dengan panggilan UWAK, bukan IBU lagi seperti sebelumnya.


“Teteh mau pipis dulu enggak? Ayah mau beli diapers dede,” Ilyas memarkir mobilnya disebuah swalayan besar.


“Mau Yah,” Nindi pun bersiap turun.


“Turun yok Bund,” ajak Ilyas pada Namira.


“Enggak. Terima kasih,” jawab Namira. Dia malu turun berdua dengan Ilyas. Suatu hal yang belum pernah mereka lakukan.


Akhirnya Ilyas dan Namira tutrun berdua, karena bik Iyah juga tidak mau turun. Ilyas banyak membeli snack untuk kedua keponakkannya. Selain untuk Nindi. Namira merasa ponselnya bunyi. Dia mengambilnya ditas dan melihat nama yang menghubunginya : my handsome fiance.


‘Sejak kapan dia tulis nama dia di ponselku?’


“Iya Yah,” akhirnya terpaksa Namira mengangkat sambungan telepon itu.


“Mau beli minum apa?” tanya Ilyas.


“Enggak ada minuman apa aja,” jawab Ilyas santai.


“Terserah deh,” jawab Namira tanpa berpikir Ilyas tetap akan menggodanya.


“Enggak ada juga merek terserah,” balas Ilyas lagi.


Sadar perdebatan enggak akan selesai, maka Namira segera menyebut ssusu cokelat atau sari kacang hijau untuk minuman bagi dirinya.


Ilyas memberikan sebuah kantong plastik kecil berisi sari kacang hijau kemasan kotak serta ssusu cokelat dan kopi ssusu dingin dalam kemasan botol plastik pada Namira. Belanjaan lainnya dia berikan pada bik Iyah dibelakang. “Bik, ada minuman dingin buat sepanjang jalan,” Ilyas memberitahu sang bibik. Sementara Nindi sudah memegang kantong plastik kecil sendiri yang rupanya Ilyas pisahkan agar tidak sulit mencarinya.


Perjalanan menuju Bogor dimulai. “Honey, Ada roti keju buat ganjel perut, bukain dong,” pinta Ilyas pada Namira.


“Bik, bisa ambilkan roti keju di tas?” Namira meminta bibik mengambilkan roti yang dimaksud Ilyas. Dan langsung dia buka plastiknya.


“Ini,” Namira memberikan roti yang dia sudah buka plastiknya.


“A …” Ilyas tidak menerimanya, hanya membuka mulutnya minta disuapi. Namira tentu tak enak pada bik Iyah.


“Teteh, bisa suapin Ayah enggak,” Namira meminta bantuan Nindi.


“Kasihan, dia susah kalau dari belakang. Sudah kamu aja,” pinta Ilyas.


Dengan terpaksa Namira menyodorkan roti ke mulut Ilyas. Bik Iyah hanya senyum-senyum melihat kelakuan tuannya.


“Minum dulu boleh Honey? Yang kopi sussu,” kembali Ilyas meminta Namira meladeninya. Perempuan itu menusukkan sedotan ke botol agar Ilyas bisa meminumnya.


***


“Daddy, minggu depan kita kesini lebih pagi ya. Mommy ngajak kita sarapan di saung belakang,” Fahri langsung memberitahu Syahrul saat lelaki itu datang siang ke rumah Laura untuk menjemput kedua buah hatinya.


“Biar Daddy mu minum dulu sayang,” Wak Ganis menegur Fahri yang sangat antusias bercerita pengalamannya tadi di kebun.


“Kakak kemana?” tanya Syahrul.


“Sama Mommy di dapur,” jawab Fahri. Dia sedang melihat foto-foto diponsel Nazwa.


“Kamu teh’ tahu siga Eneng sedang berperkara?” tanya wak Ganis pada Syahrul.


“Enggak Bu,” jawab Syahrul. Laura memang tidak cerita apa pun sejak perempuan itu marah beberapa waktu lalu. Komunikasi mereka sangat jarang.


“Pan aya di tipi dan dikoran-koran,” sahut wak Ganis. ( Pan aya = kan ada ).


“Wah saya malah ketinggalan berita Bu,” sahut Syahrul yang memang tidak tahu sama sekali masalah yang sedang dihadapi Laura. Dia pernah tahu ada kehilangan di butik. Tapi soal sampai di expose di media, benar-benar Syahrul tidak tahu sama sekali.


“Wak, ayok makan,” ajak Laura yang baru datang dari dapur. Dia habis merebus labu siam muda untuk lalap. Sedang kacang panjang dan timun hanya dia potong-potong saja. Menu siang ini ayam dan tempe tahu goreng. Sambal tomat mentah dengan aneka lalapan tadi serta sayur sop.


“Daddy, labu siam muda rebus ternyata manis lho,” Nazwa memberitahu ayahnya. Rupanya dia sudah mencicipi rebusan labu di dapur. Dia juga mencicipi kacang panjang muda mentah.


“Segini?” tanya Laura pada Fahri sehabis dia meladeni sang uwak.


“Iya Mom,” sahut Fahri sambil menerima nasi yang diambilkan Laura untuknya.


\============================================================================


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.  Jangan lupa tinggalin komen manisnya  


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta