
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
=====================================================================================
“Tadi sore seperti di tegur Wak Galih, dia bilang enggak boleh nelantarin pegawai. Maka Uwak pengen liat, kamar anak-anak pantas enggak buat istirahat sehabis kerja. Mereka ‘kan disini enggak pakai jam kantor. Jadi tempat istirahatnya harus bikin mereka betah,” rupanya Bu Ganis bermimpi didatangi almarhum suaminya.
“Eneng juga kepikiran mau nambah kamar Wak. Sekarang ‘kan semua kamar pegawai sudah keisi semua. Siapa tahu kita nambah pegawai maka enggak ada kamar buat nampung lagi,” Laura rupanya sudah ada planning untuk membangun ruangan baru.
“Kemarin kita habis beli lahan buat bikin kebun sayur, jadi dana tersisa belum cukup buat bangun ruangan lagi,” Laura memberitahu uwaknya. Dia memang baru membeli lahan untuk perkebunan, sehingga nanti hasil kebun bisa untuk income rutin panti.
“Besok teh’ panggil aja tukang bangunnya. Kita tanya biaya buat tambah tiga ruang kamar sama renovasi dapur dan ruang mandi bayi. Pakai dana pribadi uwak dulu, nanti panti angsur aja ke rekening uwak biar pembukuannya bener, enggak ada penyimpangan,” bu Ganis minta segera dipanggilkan jasa pembangunan rumah.
Kalau sudah keputusan uwaknya seperti itu, Laura tak bisa membantah. Walau saat ini dia ‘pemilik’ dan pemimpin panti asuhan. Tapi sebagai pendiri panti asuhan, suara bu Ganis tetap suara tertinggi.
***
Sesuai permintaan uwaknya, pagi ini Laura menghubungi jasa pembangunan rumah dan renovasi yang biasa dia gunakan. “Wah gitu ya? Kirain bisa hari ini,” Laura menjawab pernyataan orang yang dia hubungi.
“Baiklah, saya tunggu besok jam sepuluh pagi saja daripada jam empat sore. Sebenarnya saya inginnya hari ini,” Laura pun memilih waktu alternatif pertama dari dua alternatif yang diberikan.
Seharian ini tak ada sesuatu yang special dikehidupan Laura selain telepon dan pesan Syahrul yang sejak semalam tak dia tanggapi. Laura masih malas berbalas kata dengan lelaki itu. Laura hanya sesekali menjawab chat Ilyas dan August saja.
‘Maaf, hari ini aku belum bisa ke panti. Aku belum pulang. Hari ini baru bisa keluar rumah sakit dan dapat surat istirahat tiga hari, jadi minggu depan lah aku bisa mulai kerja,’ Ilyas memberi khabar pada Laura tadi pagi sebelum jam kerja.
‘Santai aja, tetap semangat ya. Semoga cepat pulih!’ Laura membalasnya.
‘Good morning and have a nice day,’ August menyapa pagi tadi.
‘Morning too,’ hanya itu balasan yang Laura berikan.
***
Namira bersiap menjemput majikannya. Dia mengeluarkan mobil dokter Ilyas. Sejak tadi dia mengelap mobil yang sudah seminggu tak pernah digunakan. Bik Iyah menutup pintu pagar. “Hati-hati Neng,” pesan bik Iyah. Mereka tak tahu saat bibik menutup pagar ada sebuah motor melintas yang meilhat Namira mengendarai mobil dokter Ilyas.
Namira ingat kemarin sepulang dari bik Iyah mengantarkan baju bersih dan juice ke rumah sakit majikannya, majikannya itu meminta dia yang hari ini menjemput. “Kamu sudah datang Honey?” sapa dokter Ilyas. Saat ini ada beberapa orang di ruangan itu termasuk Adinda, perempuan yang diperkenalkan ilyas saat kedatangannya pertama kali dulu.
Mendengar ilyas menyebutnya ‘honey’ Namira sadar, saat ini harus kembali bersandiwara. Dia pun mendekati Ilyas dengan percaya diri. “Kamu sudah siap pulang Yank?” tanyanya
“Lagi nunggu berkasnya, tadi sambil nunggu kamu, aku minta pegawai sini yang urus. Enggak apa-apa ‘kan?” Ilyas menarik lengan Namira dan mengecup keningnya. Namira tentu kaget menerima perlakuan seperti ini.
“Ups, sorry, kenalkan tunanganku,” Ilyas memperkenalkan Namira pada tiga orang rekannya selain Adinda.
“Lena,” seorang perempuan dari tiga perempuan yang hadir sebelum Namira menyalami Namira dan menyebutkan namanya.
“Namira.”
“Wah kamu bikin aku patah hati Yas,” celetuk seorang perempuan lain sambil menyodorkan tangannya pada Namira. “Henny.”
“Namira.”
“Masalah pribadi ‘kan enggak perlu show up. Aku bukan selebriti,” jawab Ilyas sambil tetap memeluk pinggang Namira yang berdiri dipinggir ranjang. Dia sendiri duduk diranjangnya.
Sementara Adinda hanya diam. Ketiga temannya tahu kalau selama ini Adinda mengejar cinta Ilyas tanpa tahu malu. Tadi mereka kesini pun karena permintaan Adinda untuk menemaninya.
“Kamu sudah kenal Din?” tanya Satria.
“Kami sudah kenalan beberapa hari lalu,” Namira sengaja menjawab. Dia tahu Adinda akan sungkan menjawab pertanyaan Surya. Mendengar kalau Adinda sudah berkenalan beberapa hari lalu, tentu saja ketiga temannya bingung. Mengapa Adinda masih ngotot mengejar Ilyas?
Seorang perawat masuk mengantarkan berkas kepulangan dokter Ilyas termasuk resep dan sisa obat. “Semua sudah beres Dokter.”
“Terima kasih ya Ningrum,” Ilyas menerima berkas yang dia sengaja masukkan di tas Namira. Seakan hal itu sudah biasa mereka lakukan.
“Sudah siap pulang?” Namira melihat ransel milik Ilyas sejak tadi sudah siap di ranjangnya. Sejak kemarin bik Iyah memang sudah membawa pulang pakaian Ilyas. Dan menyisakan satu stel pakaian saja untuk hari ini. Namira berjalan ke kamar mandi dan ternyata Ilyas lupa memasukkan pouch alat mandinya.
“Kebiasaan,” celetuk Namira sambil memasukkan pouch itu ke dalam ransel milik Ilyas.
“Maaf Honey, lupa,” Ilyas seperti bukan sedang bersandiwara. Dia tersipu seperti memang ditegur karena sering lupa sesuatu. Keempat temannya memperhatikan tingkah laku menggemaskan yang Ilyas lakukan.
“Kamu mau pulang sekarang Yas?” tanya Lena.
“Iya Len, kangen bantalku di rumah,” jawab Ilyas dan bersiap membawa ransel miliknya.
“Aku aja yang bawa,” Namira hendak mengambil ransel tersebut.
“Kalau cuma ransel segini aku masih bisa angkat Honey, bahkan ngegendong kamu aku juga kuat koq,” Ilyas mengedipkan matanya sambil mengangkat ranselnya dan dia bawa disatu bahunya.
“Mau aku antar Yas?” Lena menawarkan bantuan pada rekan sejawatnya itu. Siang ini memang dia sudah free.
“Namira bawa mobil koq,” jawab Ilyas. “Terima kasih attensinya Len.”
Mereka pun bersama meninggalkan ruang rawat Ilyas. Sebelum pulang Ilyas pamit pada semua suster dan dokter yang berjaga di paviliun itu.
***
Namira melarang Ilyas mengemudi mobil. Sehingga tetap Namira yang mengemudi. “Terima kasih ya atas bantuanmu tadi,” baru sekarang Ilyas menyampaikan terima kasih atas bantuan sandiwara yang Namira lakukan.
“Dan maaf kalau saya berbuat berlebihan,” Ilyas merasa tindakannya mengecup kening Namira tadi memang harus dilakukan untuk memperkuat akting mereka.
“Enggak apa-apa Den, saya ngerti koq situasinya,” balas Namira sambil menatap lurus ke depan. Dia sendiri masih belum hilang rasa terkejutnya atas ciuman dikening yang dia terima tadi. Karena itu bukan ciuman selintas. Tapi cukup lama. Dan dia merasakan bibir kenyal hangat milik Ilyas mendarat manis dikeningnya.
“Darimana kamu belajar menyetir?” Ilyas mengalihkan pembicaraan untuk mengurangi kecanggungan mereka. Ilyas juga tahu Namira agak canggung dengan kondisi mereka saat ini.
\===========================
JANGAN LUPA YANKTIE TUNGGU OMEN CANTIKNYA YA