
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
**YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Jangan lupa tinggalin komen manisnya**
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
“Hati-hati ya? Kabari Abang kalau sudah sampai rumah,” Syahrul mengecup kening Laura saat gadis itu hendak masuk ke mobilnya.
“Salam buat anak-anak,” balas Laura.
“Kalau itu Abang enggak berani nyampaikan. Mereka pasti akan langsung ngomel kalau tahu kita ketemuan tanpa mereka,” Syahrul tahu kedua anaknya akan cemburu bila dia bertemu Laura.
“Hahaha, aku seperti selingkuhanmu aja kalau didepan mereka,” sahut Laura sambil tertawa.
“Sampai ketemu hari Sabtu ya. Inget jangan kesiangan,” Laura menutup pintu mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju Cimahi.
***
Syahrul POV
“Hahaha, aku seperti selingkuhanmu aja kalau didepan mereka,” aku dengar Laura menjawab kalau aku enggak berani menyampaikan salam yang iya berikan untuk kedua anakku. Tawanya sangat renyah dan membuat aku mabuk kepayang. Tapi serius aku takut bila suatu waktu dia mulai membuka hati menerima seseorang untuk mendampinginya. Dan orang itu bukan aku. Sementara aku sudah tak ingin memulai kisah baru dari awal dengan perempuan lain. Aku hanya mau Laura. Perempuan yang juga dicintai anak-anakku.
‘Apa yang harus aku perbuat untuk mendapatkannya? Sekarang aku hanya bisa pasrah dalam doa. Karena semua langkah sudah aku tempuh tapi dia tetap tak memberi kepastian walau tidak menolakku seperti yang dia lakukan pada Ilyas.’
“Sampai ketemu hari Sabtu ya. Inget jangan kesiangan,” itu pesannya sebelum Laura menutup pintu mobilnya dan meninggalkanku diparkiran ini sendiri. Aku akan berupaya tidak kesiangan bila tak ingin diamuk tiga orang terkasihku. Laura, Nazwa dan Fahri.
Syahrul POV end
Entah mengapa, saat ikut dengan teamnya untuk jalan-jalan dinegara tempat mereka beristirahat August ikut berbelanja. Dia membeli tiga buah celana hamil dan atasannya juga sebuah gendongan baby born dan sebuah gendongan punggung. Semua tak ada dalam rencananya. Saat ada rekan pramugari yang memasuki toko perlengkapan ibu hamil, menyusui dan baby dia ikut membeli.
“Istri lagi hamil Capt?” goda seorang pramugari.
“Hahaha, iya, bini ketiga sedang hamil,” August menjawab godaan itu dengan santai. Kalau dia membantah akan lebih tajam godaannya. Maka lebih baik dia ikut arus joke itu.
Sesampai dikamar hotel baru August sadar, mengapa dia malah tidak membelikan Laura oleh-oleh? Padahal dia ingin agar Laura menjadi pendamping hidupnya kelak.
‘Besok-besok lagi aku harus belanja buat Laura. Bukan hanya buat Wulan,’ akhirnya August mensugestikan dirinya untuk ingat perjalanan berikutnya dia harus membeli oleh-oleh untuk Laura.
‘Tapi kenapa aku kangen berbalas pesan dengan Wulan?’ August bingung sendiri karena saat ini dia kangen Wulan. Padahal Wulan tak pernah manis bila berbalas pesan dengannya. Beda dengan Laura yang lebih ramah dalam pesan-pesannya.
August berupaya segera tidur agar besok bisa bangun dengan fresh. Dia segera menepis wajah sendu Wulan dari bayang-bayang otaknya.
August tetap tak bisa tidur. Akhirnya dia mengirim pesan pada Wulan. ‘Lagi dimana?’
‘Di kampus Pak. Baru selesai kuliah dan hendak pulang,’ jawab Wulan yang memang sedang memegang ponsel. Dia sedang menunggu Kemuning ke toilet.
‘Jangan telat makan dan minum vitaminnya,’ entah mengapa August memberi attensi seperti itu. Dia merasa ingin mendekap erat Wulan.
‘Terima kasih Pak. Selamat siang. Saya off dulu karena hendak pulang,’ balas Wulan. Dia memang bukan type gadis-gadis sekarang yang tak pernah lepas dari ponsel. Wulan tak mau ambil resiko dia jatuh terantuk karena sibuk memandang ponsel atau ponselnya dijambret orang. Selama di jalan dia akan memasukkan ponselnya dalam tas yang dia dekap erat.
‘Take care,’ balas August tapi sudah tak dibaca lagi oleh Wulan. August pun segera tidur karena semakin larut.
***
“Sudah dibakar?” tanya Laura pagi ini. Dia sengaja pagi-pagi ke panti untuk mengecek pesanannya.
“Sedang dibakar Neng,” sahut bik Ani.
“Wak, nanti sarapan sendiri ya. Eneng mau sarapan bareng anak-anak di saung kebon,” Laura memberitahu uwaknya terlebih dahulu.
“Iyah enggak apah-apah,” sahut sang uwak. Dia tak mungkin ikut ke saung. Biar dia makan dengan Sanah dan Asep saja. Suami bik Sanah bernama Asep. Suami bik Ani pun bernama Asep. Maka sekarang mereka disebut Asep rumah untuk suami bik Sanah dan Asep panti untuk suami bik Ani.
“Assalamu’alaykum,” suara renyah Fahri masuk sebelum ada yang menjawab salamnya. Lelaki kecil itu segera memeluk Laura lalu mencium tangan ‘mommy’ nya itu.
“Wa’alaykum salam Jalu,” sahut wak Ganis senang. Dia selalu senang bila melihat kehadiran anak-anak.
“Enin … sehat ‘kan?” Nazwa memberi salam lebih dahulu pada wak Ganis. Sementara Syahrul tak berani langsung masuk karena tuan rumah belum keluar. Dia masih duduk diteras.
“Mana Daddymu?” tanya wak Ganis pada kedua anak itu.
“Diluar Enin. Belum masuk,” sahut Fahri.
“Kalian sudah pakai sun block?” tanya Laura sambil memberikan topi besar pada Nazwa.
“Belum Mom,” sahut Nazwa sambil menerima topi yang Laura sodorkan.
“Cepat pakai dan kita berangkat kekebun sekarang,” perintah Laura dan dia menyiapkan keranjang berisi nasi bakar yaang masih panas. Sementara air meineral sudah dibawa oleh mang Asep sejak tadi karena cukup berat bila Laura harus membawanya.
“Kenapa enggak masuk?” tanya Laura ketika dia menemui Syahrul didepan.
“Enggak enak aja, tuan rumah belum mempersilakan masuk,” jawab Syahrul sambil tersenyum.
“Ya sudah masuk gih, pamit ke Uwak dulu,” Laura meminta Syahrul pamit pada bu Ganis.
Akhirnya mereka berempat jalan beriringan ke kebun. Syahrul yang membawa keranjang nasi. Fahri menggunakan topi koboy dari kulit. Sementara Syahrul hanya menggunakan topi yang kemarin dia dapat saat menjadi juri fun bike.
“Kita panen apa hari ini Mom?” tanya Nazwa yang bergandeng tangan dengan Laura.
“Entah. Karena kadang jadwalnya berubah. Kalau tidak berubah, sekarang panen pare, kacang panjang dan sawi putih,” sahut Laura.
“Tapi kalau untuk kebutuhan harian, pegawai panti bisa memetik sesuatu diluar yang dipanen. Misal butuh kol atau labu siam atau kembang kol, padahal hari ini bukan jadwal panen. Ya mereka bisa mengambil sesuai kebutuhan,” Laura menjelaskan selintas. Dia bersyukur sekarang uang belanja panti sedikit berkurang karena sehari-hari mengambil sayuran dari kebun.
“Mana batas kebunmu?” tanya Syahrul. Dia penasaran akan sepak terjang Laura yang mempunyai pemikiran membuka kebun untuk menunjang kegiatan panti.
“Itu, yang ada pohon jeruk nipis disana, lalu dipojok itu pohon jeruk purut. Ujung sana jeruk sambel dan sana juga jeruk nipis,” sahut Laura. Selain untuk tanda batas. Tiga jenis jeruk itu bisa dimanfaatkan daun dan buahnya. Pilihan cerdas dari Laura.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil nunggu Yanktie update bab berikut, coba mampir ke cerita milik teman baik yanktie ini ya.
Napennya : YAYUK TRIATMAJA
Judul cerita : SALAH RANJANG BALAS DENDAM SANG MAFIA
Cerita singkatnya seperti ini :
Dua gadis kembar Elona dan Elena memiliki sifat yang sangat berbeda. Adik kembarnya sangat membenci kakak kembarnya hingga suatu ketika adik kembarnya menabrak seorang nenek tua dan meminta pertolongan kakak kembarnya untuk mengakui kalau dirinya yang menabraknya.
Alona yang sangat menyayangi adiknya akhirnya mengakui kalau dirinya yang menabraknya hingga salah satu cucu nenek tersebut mengajaknya untuk menikah dengan dirinya.
Siksaan demi siksaan dari suaminya diterima oleh Alona hingga Alona kabur namun selalu tertangkap oleh suaminya hingga suatu ketika dirinya berhasil kabur.
Apa yang akan dilakukan suaminya ketika suaminya mengetahui kalau ternyata Alona bukanlah orang yang menabrak neneknya? Sedangkan Alona sudah pergi entah kemana.