
“Stop honey, kiss me before you go,” August menghampiri June yang akan keluar kamarnya. Dia langsung mencium bibir June yang sudah menjadi candunya. ‘****,” gumam August. Dia merasakan ada yang bangun di bagian bawah tubuhnya.
“Honey, gustavo bangun,” bisik August. Dia langsung menurunkan resletingnya lalu mengangkat rok seragam June. “Quickly play please,” tanpa pemanasan sambil berdiri August melancarkan serangan. June memang sebanding dengan August, dia tak menolak, dia melingkarkan kedua kakinya dipinggang August dan mereka bertarung dengan tanpa canggung.
Selanjutnya August memilih tinggal bersama June. Di maskapai akhirnya tahu kalau August berhubungan dengan June. Mereka memang tak menutupi hubungan ini. Mereka tak merasa bersalah karena keduanya sama-sama bebas tak terikat dengan siapa pun.
Hampir setahun mereka hidup bersama, August ingin ke jenjang yang lebih serius. Dia membawa June ke rumahnya untuk berkenalan dengan kedua orang tuanya. Sayang sang oma dan maminya tak menyukai June. Oma adalah perempuan keturunan Jerman yang dinikahi opa yang ningrat Solo. Semua perkataan oma adalah undang-undang tak tertulis yang wajib ditaati. August tak mau peduli. Dia tetap melanjutkan hubungannya dan tak peduli larangan sang nenek.
“Mas, tolong jemput aku,” pinta Bagas, itu saat pertama August berkenalan dengan Julia teman kuliah adiknya. Tak pernah terpikir August akan tertarik pada gadis lugu itu. Baginya memiliki June adalah segalanya.
“Mana bisa aku puas dengannya, dia sangat lemah, jauh berbeda dengan August. Yang bisa menandingi August hanya Hariwan, tapi ya levelnya masih kalah dengan August,” cerocos June santai. Tak mengira August mendengar percakapan mereka.
“Jadi barusan Kendra tak bisa memuaskanmu?” tanya Grace penasaran.
“Tidak, dia main sekali langsung terkapar,” tanpa malu June menceritakan permainan yang baru saja dia lakukan di belakang August.
“Selamat ya, kamu bisa bermain dengan 2 atau 4 orang bahkan mungkin lebih, dalam waktu bersamaan. Sementara aku selalu setia denganmu,” August langsung menyela percakapan mereka. June dan Grace hanya terpaku melihat punggung August yang pergi menjauh
Flash back off
***
“Draft MOU untuk PT Megatama Prima sudah dikirim?” tanya Bastian di meja Julia, dia baru saja datang meeting di luar kantor ditemani Deddy staff keuangannya.
“Sudah Pak,” jawab Julia formal. Dia baru saja akan keluar makan siang dengan genk nya di kantor ini.
“Kamu mau ke mana?” tanya Bastian melihat Julia berdiri membawa dompet dan ponselnya.
“Saat ini jam makan siang Pak, saya mau istirahat,” jawab Julia lagi. ‘Apa arloji mahal di pergelangan tangannya mati, sampai dia tidak tahu jam istirahat?’ tentu saja kalimat terakhir hanya berani Julia katakan dalam batinnya saja.
“Kamu beli makan online saja dan temani A’a makan di ruangan,” perintah Bastian sambil berlalu. Tak mau ada penolakan.
Julia memindah nasi padang milik Bastian ke piring. Dia tambahkan peyek udang dan 2 buah perkedel. Dia juga membeli juice jambu untuknya dan Bastian. Sedang nasi miliknya adalah porsi nasi setengah dengan lauk yang sama banyak dengan lauk Bastian. Di piring lain ada dadar telur dan tambahan rendang bagi yang ingin tambah lauk.
“Makan dulu A,” perintah Julia, dia kesal karena Bastian malah sibuk dengan laptopnya saja. Bastian memperhatikan di meja sofanya sudah terhidang makanan yang dibeli Julia. Dia harus mengganti uang yang dipakai Julia membeli makanan ini. Dia langsung melakukan mBanking. Baru dia menuju sofa untuk makan.
“Mau pakai sendok atau pakai tangan?” tanya Julia, dia sudah menyediakan air di mangkuk untuk cuci tangan bila Bastian ingin makan langsung dengan tangan. Julia sendiri memilih makan dengan tangan.
‘Dia sama sekali enggak jaim, enggak pernah melakukan pencitraan,’ Bastian memberi nilai plus bagi perempuan yang sampai saat ini belum member kepastian padanya. Bastian melihat jemari Julia. Di sana belum ada cincin yang dia berikan saat Julia ulang tahun minggu lalu. “Apa kamu enggak suka cincin yang A’a kasih?”
“Suka,” jawab Julia sambil makan.
“Lalu kenapa enggak dipakai?” Bastian bingung. Suka tapi koq enggak dipakai, kan aneh.
“Kata yang ngasih cincin itu, dia cinta ke aku. Tapi ngasih cincin koq dikasih ama kotaknya tanpa dia buka apalagi dia pakein. Jadi ngapain juga aku pake?” jawaban lugas Julia tentu menyadarkan Bastian soal kebodohannya yang tidak pernah mengerti dan peka pada keinginan gadisnya itu. Sesungguhnya itu bukan hanya kemauan Julia aja sih. Semua ceweq pasti akan ngerasa gitu juga kali.
“Uncle …,” belum juga Bastian menjawab kata-kata sindiran pedas Julia, suara teriakan dua kurcaci ganteng pacar Julia memecah ruangan itu. Mereka masuk tanpa mengetuk pintu.
“Hallo sayang-sayangnya Aunty,” sapa Julia. Dia baru saja selesai makan. Dia mencuci tangan lalu membilasnya dengan tissue basah agar tangannya tidak bau. Kedua kesayangan Julia langsung berlari memeluk perempuan lembut itu.
“Ingat, pembicaraan kita belum tuntas. Kamu kalau sudah ketemu pacar-pacarmu langsung melupakanku,” keluh Bastian tapi juga sekaligus mengancam Julia, bahwa setelah para kurcaci pergi mereka harus menyelesaikan pembicaraan mereka soal cincin.
Rupanya dua kurcaci datang bersama Akinya saja, sang Enin sedang membeli makanan. “Kalian sudah selesai makan? Padalah mamah sedang belanja makan siang buat kita,” pak Achdiyat yang baru datang melihat putra bungsunya sedang makan.
-----------------------------
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta