
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Ternyata Claudia juga membelikan kebaya dan rok untuk Nazwa dan juga baju untuk Fahri. Kebaya Nazwa sewarna dengan Claudia, Mieske dan wak Ganis. Sedang baju Fahri sewarna dengan opa Greg, Gerry, Anjas dan Gerhard.
“Daddyyyyyyyyyyyyyyy …,” pekik Fahri saat melihat sang ayah sudah di rumah.
“Salamnya mana sayank?” tanya Laura pada jagoan kecilnya. Membuat sang Jalu tersipu. Dia langsung mengucap salam yang di jawab oleh semua yang sedang duduk minum tehh sore ini.
“Mengapa ada tenda Mom?” bisik Nazwa. Dia kaget mengapa opa dan oma demikian heboh menyambut kepulangan ayahnya setelah sembuh dari sakit.
“Kita ngomong di kamar Kakak yok,” ajak Laura pada Nazwa.
“Papi, ini anakku yang sulung dan ini yang nomor dua,” sebelum ke kamar Laura mengenalkan Nazwa dan Fahri ke Gerhard.
“Cantiknya cucu opa,” sahut Gerhard. Dia mengecup puncak kepala Nazwa dan Fahri.
“Ini Papinya Mommy. Dan ini Maminya Mommy,” Laura memperkenalkan Mieske pada kedua anaknya.
“Nah ini uyut kalian, beliau opanya Mommy. Uyut Greg namanya,” Laura membimbing putra dan putrinya mendekati opa Greg.
“Ini anak-anakmu?” tanya opa dengan bahasa Belanda pada Laura. Dalam keluarganya mereka memang sering menggunakan bahasa pengantar itu. Demikian pun bahasa itu sangat dibutuhkan untuk mempelajari ilmu yang mereka dalami semua yaitu ilmu hukum. Walau opa Greg asli German, tapi kan istrinya asli Belanda dan mereka domisili di Belanda. Bahkan Anjas dan Claudia juga Laura berkuliah di Belanda.
“Iya, Opa. Mereka ditinggal oleh ibunya sejak si kecil bayi dan berpisah resmi ketika dia berumur dua tahun dan yang besar lima tahun,” sahut Laura.
“Kasihan sekali. Kamu tak boleh melukai mereka,” pesan sang opa dengan welas asih.
“Mereka cahaya hidup kami Opa. Tak perlu khawatir,” sahut Laura. Syahrul tak mengerti, untuk Gerry membisikkan apa yang sedang Laura dan opa bicarakan.
***
“Ade, ayok ke kamar Kakak sekalian ganti seragammu,” Laura ingin memberitahu kedua anaknya tentang rencana besar kedua orang tuanya besok.
“Kak, De. Mungkin buat kalian ini terlalu cepat. Mommy dan daddy juga terkejut,” Laura membuka pembicaraan pada kedua anaknya di kamar tidur Nazwa.
“Ada apa Mom? Mengapa bikin Kakak jadi takut seperti ini?” tanya Nazwa dengan cemas.
“Tadi waktu di rumah sakit opa ngejemput berdua om Gerry tidak bicara apa pun. Tapi begitu di rumah Mommy lihat ada uyut dan opa Gerhard serta oma Mieske Mommy juga merasa ada hal besar yang opa dan oma akan lakukan. Ditambah lagi tiba-tiba tukang tenda datang. Mommy makin curiga,” Laura menjeda kalimatnya. Dilihatnya kedua putra dan putrinya menatap wajahnya dengan cemas menunggu kalimat lanjutan sang Mommy.
“Jadi opa dan oma sudah merancang akan menikahkan Mommy besok,” jelas Laura.
“Lalu bagaimana dengan Daddy?” tanya Fahri cepat. Diat tak ingin punya mommy selain Laura.
“Daddy enggak keberatan. Dia sangat setuju,” sahut Laura pelan.
“Mommy bohong. Enggak mungkin daddy diam dan setuju. Apa karena selama ini Mommy yang keluarin uang buat urus daddy selama daddy sakit juga Mommy udah urus daddy?” desak Fahri lagi. Sementara Nazwa hany menunduk diam dengan sedikit genangan air mata.
“Ha ha ha, bukan karena itu sayang. Tapi karena yang akan menjadi suami Mommy adalah daddy kalian!” jawab Laura yang membuat Nazwa langsung memeluknya sambil menangis.
“Mommy jahat, jahat, jahat,” Nazwa berkata disela isaknya. Dia sungguh sangat sedih begitu mendengar esok Laura akan menikah.
“Serius Mommy dan Daddy besok menikah?” tanya Fahri tak percaya. Dia baru ingat tadi pagi sang opa bilang besok adalah hari bahagia sehingga dia boleh mbolos. Tapi tidak hari ini mbolosnya.
“Mommy, siapa opa Gerhard dan oma Mieske?” tanya Nazwa.
“Mereka orang tua calon suami Mommy yang meninggal. Sejak dulu memang Mommy dianggap anak oleh mereka. Dan ada lagi oma Clara, dia tetangga Mommy sejak Mommy kecil. Semoga besok mereka bisa datang karena undangan ini sangat mendadak. Mommy dan Daddy saja baru tahu sesampai di rumah tadi,” sahut Laura sambil membantu Nazwa mencoba kebayanya.
“Mommy ini pas,” Fahri yang mencoba baju di kamarnya masuk dan memperlihatkan baju yang untuk dirinya pas tanpa perlu ada yang diubah sama sekali.
“Ok. Kembali di gantung di plastik yang dari butik tadi ya De. Biar enggak lecek. Besok sehabis salat Subuh kita sarapan. Nanti Ade ganti baju itu jam sembilan pagi saja biar tidak gerah,” Laura memberitahu putranya.
“Kalau Kakak besok pakai kemeja yang ada kancing Kak, jadi nanti sehabis di make up enggak susah gantinya. Kalau pakai kaos nanti dandanan wajah dan rambut akan rusak,” Laura juga memberitahu putrinya bahwa gadis itu akan didandani oleh team MUA.
“Oh iya De. Malam ini daddy tidur berdua denganmu ya, karena kamar full. Mommy tidur dengan Kakak karena kamar Mommy dan juga ruang depan akan didekor oleh orang yang dipanggil opa,” Laura memberitahu bahwa dia juga akan mengungsi.
***
“Minum obat dulu Bang,” Laura menyiapkan obat dan air putih untuk Syahrul. Mereka sedang meihat para pengrajin janur membuat aneka hiasan untuk ruang depan dan kamar pengantin mereka.
“Serius Abang sejak tadi enggak nyangka akan seperti ini. Kirain kita hanya sekedar menikah siri agar tidak zina dan dihujat orang banyak. Ternyata kita akan langsung menikah resmi secara agama dan negara,” ada sedikit genangan air di mata Syahrul. Ini suatu miracle. Suatu keajaiban bagi hidupnya. Dia sangat bersyukur berjodoh dengan Laura.
“Kita syukuri aja semua Bang. Malah enggak nyangka aja baru ‘jadian’ kita langsung menikah,” sahut Laura.
“Abang jangan terlalu lelang, tidur sekarang yok,” Laura berniat membimbing Syahrul ke dalam kamar.
“Abang takut enggak bisa tidur Love. Seakan enggak percaya aja,” jawab Syahrul. Seperti orang dapat undian jackpot kalia ya yang Syahrul rasakan saat ini.
***
‘Abang dapat undangan dari bu Laura?’ tanya Shanum pada Ariano abangnya. Mereka terpaksa mengirim pesan karena sedang meeting di kantornya.
‘Undangan apa?’ tanya Ariano. Sejak tadi dia sedang serius menjabarkan rencana bangunan yang akan mereka garap di beberapa tempat. Dia baru pegang ponsel setelah selesai memaparkan detil speck yang akan dia lakukan.
‘Ya sudah lihat saja langsung,’ jawab Shanum lalu dia kembali fokus pada data keuangan yang sedang dibahas oleh teamnya.
‘Menikah? Dia menikah? Jadi ini alasan dia menolakku!’ Ariano lemas saat membuka pesan yang Laura kirim.
Lelaki muda yang gagah itu langsung tak bisa konsentrasi penuh mengetahui perempuan yang dia damba akan menikah esok pagi. ‘Aku akan datang. Aku tak mau dinilai lemah!’ tekad Ariano.
\===========================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL BETWEEN QATAR AND JOGJA YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta