
HAI HUJAN TAK PERNAH HENTI. JAGA KESEHATAN YAAAAAAAA
SELAMAT MEBACA
“Baiklah. Sekali lagi saya atas nama keluarga menyampaikan terima kasih atas pertolongannya,” jawab paklek. Dia tak bisa menahan orang yang sedang bekerja.
“Keluarga nyonya Wulan,” panggil seorang perawat.
“Ya, saya suaminya,” sahut August yang baru saja selesai mengurus pendaftaran Wulan.
“Pak, tadi sudah diperiksa oleh dokter jaga kalau bu Wulan mengalami shock teramat sangat sehingga dia pingsan. Dia juga lemah karena sepertinya tak ada asupan makan. Kami sudah pasang infus dan sebentar lagi akan kami pindah ke kamar rawat.”
“Besok pagi dokter kandungan akan memeriksa apakah bayinya kuat bertahan karena sepertinya bu Wulan sangat lemah,” bagai disambar petir August menerima pemberitahuan kondisi Wulan saat ini.
‘Ini karmaku, mengapa harus Wulan yang terluka? Aku harus bagaimana bila Dede tak kuat bertahan akibat Wulan tergoncang?’ August sangat bingung.
“Paklek, maaf saya enggak bisa antar Paklek pulang karena saya akan menemani Wulan. Paklek pulang naik taxi saja ya. Kasihan Riesty sudah mengantuk,” August meminta maaf tak bisa mengantar paklek ke rumahnya. Dia tak ingin saat Wulan sadar nanti dia tak berada disisinya.
“Iya, Paklek mengerti. Besok sepulang kerja Paklek baru bisa datang kesini lagi ya,” sang paman pun mengerti kondisinya saat ini. Dan saat itu Wulan sedang didorong untuk dipindah ke ruang rawat. August tadi memilih kelas I untuk ruang rawat Wulan.
“Riesty, Mas August minta maaf ya bikin kamu keganggu waktu tidurnya,” dengan tulus August meminta maaf pada Riesty yang terpaksa ikut dan dia ingat gadis kecil itu belum makan malam.
“Ini untuk ma’em malam ini ya, kamu beli sate kambing kesukaanmu,” August memberi beberapa lembar uang merah pada genggaman Riesty. Dia tahu bila diberikan pada pamannya tentu lelaki itu akan menolak seperti biasa.
***
“Papi enggak bisa janji akan tutup mulut. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan cucuku dan menantuku lalu mami tahu kalau dia tak diberitahu sebelumnya padahal Papi sudah tahu dari kamu, apa kamu bisa tanggung jawab?” tanya Prabu dengan geram.
Baru saja August meminta dia tak memberitahu khabar duka ini pada Nenden istrinya. Kalau besok atau lusa kondisi Wulan atau bayinya buruk padahal dia sudah tahu cerita awalnya tapi tidak memberitahu Nenden, apa yang akan terjadi? Bisa-bisa perang dunia keempat dalam rumah tangganya.
Prabu sangat tahu bagaimana sayangnya maminya juga istrinya pada Wulan menantu mereka. “Kamu khabari semua perkembangan. Papi akan beritahu mami pelan-pelan agar dia juga enggak shock dengan kondisi Wulan!”
Dan Prabu langsung menutup sambungan telepon. Dia sangat bingung setelah mendengar khabar tentang menantunya itu.
***
“Jadi kalian belum bercerai?” tanya bu RT pada Almira. Rumah RT baru ini ada diseberang rumah orang tua Almi yang sekarang ditinggali Anna dan Halim. Tai agak serong kekanan dua rumah. Tidak persis diseberangnya.
“Saya tidak peduli soal dia menikah lagi saat dia belum bercerai dengan saya Pak, Bu. Yang saya fokuskan dia menempati rumah yang jadi milik saya seperti bukti yang saya perlihatkan ini. Soal dia punya surat nikah atau tidak di administrasi RT juga saya tak peduli,” sahut Almi. Dia hanya ingin keduanya diusir dari rumah miliknya.
“Kalau di buku administrasi RT, Halim memang tidak pernah melaporkan tentang pernikahannya dengan Anna. Saya menerima berkas ini baru lima bulan dan tak ada bukti pelaporan nikah dari mereka berdua. Saya pikir dia lapor ke RT sebelumnya,” sahut pak RT.
“Saya tak peduli Pak. Karena saya tak ingin dia kembaali. Saya akan langsung menggugat cerai Halim,” sahut Almi dengan mantab.
“Baik. Jadi niatnya anda ingin mereka diusir dari rumah milik anda?” tanya pak RT lagi memastikan. Dia tahu Almi sejak perempuan ini masih SMA. Karena rumah yang sekarang dia tempati juga rumah keluarga milik ayahnya.
“Ya Pak. Sesuai bukti kepemilikan surat rumah yang saya miliki,” sahut Almi tegas. Tak ada ampun untuk pengkhianat seperti Halim dan Anna.
“Jadi besok habis Isya ya, biar saya juga mengajak wakil RT juga sekretaris biar jadi saksi,” pak RT mengatur waktu eksekusi.
“Besok pagi aja. Besok kan Bapak dan sekretaris libur. Biar banyak saksi yang lihat kalau pagi,” bu RT langsung memberi saran. Dia memang tak suka terhadap Anna yang merasa palaing cantik dan paling kaya disekitar lingkungan ini.
“Saya sih makin cepat makin baik. Bahkan malam ini juga saya bersedia,” sahut Almi.
“Udah besok pagi wae atuh Bah,” bu RT memberi desakan pada suaminya. Dia akan mengundang ibu-ibu yang sebal pada Anna. Tapi besok pagi agar tidak bocor rencana ini.
“Ya sudah. Besok jam tujuh pagi ya. Biasanya jam setengah delapan Halim dan istrinya eh dengan Anna berangkat ke toko. Toko mereka kan buka jam sembilan. Jadi mereka sudah ada ditoko sejak jam delapan pagi,” pak RT merasa ak enak menyebut Anna sebagi istrinya Halim.
Almi dan Misah pamit pulang setelah mendapat kepastian besok akan eksekusi jam tujuh pagi.
***
Jam dua dini hari Wulan terjaga, dia melihat tangan kirinya diinfus tapi dai tidur dalam pelukan August seperti biasa. Wulan melihat sekeliling. Ini bukan dikamar tidur mereka di rumah.
“Aaah,” Wulan mendesah. Dia ingat kemarin dia main ke mini market tempat dia dulu bekerja sebelum pindah ke panti asuhan.
August yang mendengar suara istrinya langsung bangun. “Sudah sadar sayank. Mau apa?” tanya August sambil langsung memencet bel guna memanggil petugas yang jaga malam.
August segera turun dari tempat tidur agar nanti perawat dan dokter yang datang bisa memeriksa Wulan dengan leluasa.
“Istrinya sudah sadar ya Pak. Kita periksa dulu ya,” dokter jaga yang diyemanai dua perawat langsung memeriksa Wulan.
“Apa pusing?” tanya dokter sambil memegang nadi Wulan dipergelangan tangannya.
“Sedikit Dok,” sahut Wulan.
“Perutnya sakit? Mual?” tanya dokter lagi.
“Enggak Dok,” sahut Wulan. Karena memang dia tak mual atau sakit di bagian perutnya.
“Baik, ini saya beri injeksi lagi ya Bu. Dan jangan lupa habis ini Ibu wajib makan. Saya akan minta bagian dapur mengirim makan untuk Ibu karena sejak siang kemarin perut Ibu kosong. Kasihan janinnya bila kekurangan asupan,” dengan tegas dokter muda itu memerintah Wulan untuk makan.
“Ini ada susuu kemasan botol kesukaan istri saya juga ada roti dan martabak, apa boleh dia konsumsi sambil menunggu makanan dari dapur Dok?” tanya August.
\================================================================
SAMBIL NUNGGU CERITA INI DILANJUTKAN BESOK, MAMPIR JUGA KE NOVEL LAIN MILIK YANKTIE YA.
JUDULNYA I MARRIED MY DAUGHTER DAN WANT TO MARRY YOU
TENTUNYA HANYA DI NOVELTOON ATAU MANGATOON SAJA YA.
=====================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta