TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
KALAU ENGGAK MAU PANGGIL MAS, YA PANGGIL HONEY ATAU SAYANG AJA



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


***Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta ***


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


“Opaku asli Solo, oma dari Belanda. Ibuku asli Jogja. Jadi aku lebih banyak Jawanya,” August memberitahu aliran darah ditubuhnya.


“Aku enggak enak, gimana kalau aku panggil Om aja?” tanya Wulan. Dia bersiap turun untuk menemui pamannya.


“Kalau enggak mau panggil Mas, ya panggil honey atau sayang aja,” balas August sebelum Wulan menutup pintu mobil.


‘‘Ih enak aja honey, emang dia siapa?'  Wulan menjadi keqi. Dia segera menghubungi orang yang bertugas menerima tamu di bengkel itu.


“Selamat siang Bu. Saya mau bertemu dengan pak Suparman,” lapor Wulan.


“Silakan duduk. Nanti saya panggilkan. Tadi dia sudah izin untuk bertemu keponakannya,” ibu itu menjawab dengan sopan dan mempersilakan Wulan menunggu. Sementara August langsung meminta ganti oli untuk mobilnya.


***


Hakim masuk ruangan. Semua yang ada diruangan diminta berdiri. Lalu tahap-tahap awal persidangan dimulai. Hingga akhirnya Laura diminta untuk duduk didepan majelis hakim. Saat berdiri untuk pindah ke kursi depan, Laura melihat kedua orang tuanya. Dia melihat senyum tulus mama dan papanya yang membuat hatinya hangat. Dia merasa mereka memeluknya memberi semangat.


Lalu Laura melihat kekasihnya. Laura memang sudah menetapkan hati membuka hatinya untuk cinta baru saat merasakan sosok Syahrul yang selalu siap melindunginya. Selalu ada saat dia terpuruk dan dia benar-benar memperlihatkan cintanya dengan hadir dipersidangannya kali ini. Sejak kedatangan Syahrul tadi pagi, maka Laura resmi menerima cinta duda dua anak itu. Tatap teduh dan senyum manis Syahrul membuat Laura yakin melangkah menuju kursi yang tepat berada di seberang majelis hakim.


“Benar anda yang bernama Laura Maheswari Dewi Kesuma SH?”


“Benar.”


“Benar tempat kejadian perkara ada di butik milik anda yang beralamat jalan Mahameru I no 34?”


“Jalan Mahameru I no 34 B.” Laura sedikit meralat alamat butiknya.


“Bisa anda ceritakan kronologis kejadian?”


“Itu bermula saat saya tiba di butik lalu saya bingung karena lampu ruang kerja saya menyala. Padahal setiap saya akan keluar ruangan dan mengunci pintu, saya selalu mematikan lampu,” Laura memulai keterangannya.


“Lalu saya segera memanggil seorang pegawai untuk menjadi saksi. Bersama dia saya masuk ruang kerja dan melihat laci meja kerja saya sedikit terbuka. Padahal laci juga biasa saya kunci. Saya berinisiatif membuat video seperti yang saya kirim pada polisi sebagai bukti awal laporan saya.” tanya jawab.


“Apa anda merasa ada yang hilang?” tanya seorang hakim.


“Secara fisik tidak ada yang hilang,” jawab Laura kalem. Dia tahu jawaban ini kunci utama bagi Seruni.


“Lalu buat apa anda membuat laporan kehilangan?” jebak Seruni.


“Tadi sudah saya katakan ‘secara fisik’ tidak ada yang hilang. Tapi secara intelektual karya saya dicuri dengan membuat foto semua rancangan design saya. Bukti pencurian ada di galeri ponsel mahal yang disiapkan dalang pencurian untuk dibawa dan digunakan oleh pelaku pencurian yang masuk ruang kerja saya!” jawab Laura tegas.


“Dan bila memang tidak ada pencurian. Mengapa orang tua dalang pencurian mendatangi kantor saya untuk meminta kasus ini diselesaikan dengan kekeluargaan dan diberi kompensasi uang agar anaknya tidak dipenjara?” dengan sarkas Laura menembak Seruni.


“Bukankah bila tak ada pencurian, maka semua pelaku bisa bebas, tanpa perlu untuk upaya damai.” Lanjut Laura lagi.


“Apa maksud anda kalau orang tua dalang pencurian meminta damai?” tanya seorang hakim.


“Izinkan saya memperlihatkan rekaman CCTV dari laptop saya,” pinta Laura.


“Silakan.”


Laura mengambil laptop yang sejak tadi sudah menyala. Dia membuka file kedatangan Seruni dan dia hubungkan ke OHP yang tersedia di ruangan itu agar semua yang hadir bisa melihat. Seruni pias dan diam tak bisa bersuara lagi.


Karena sidang ini sengaja masih disiarkan live di TV lokal dimana Assyfa bekerja, maka langsung dunia maya heboh. Keluarga Baharsyah dan keluarga Kusworo orang tua Sapto Enggano Kusworo -suami Laras- langsung dihujat. Karier Lara, Sapto, Seruni dan semua yang terkait kekerabatan dengan mereka langsung hancur.


‘Ini baru anak mama,’ Claudia senang melihat sepak terjang dan tutur kata Laura yang seakan tanpa emosi. Senyum manis tersungging di wajahnya yang cantik.


‘Papa enggak nyangka kamu sehebat ini Kak. Papa kira kamu enggak terjun di bidang hukum lalu kamu enggak ingat cara mengatur emosi. Ternyata kita berdua sama. Walau terjun didunia bisnis, kita tetap ‘orang hukum’. Anjasmara Kesuma memuji putri sulungnya.


‘Kamu hebat Mom,’ puji Syahrul dalam hatinya.


Sidang dilanjut meminta keterangan pelaku. Karena jelas sudah diperlihatkan kalau pelaku akan diatur oleh Seruni untuk membuat keterangan palsu. Maka saat ditanya hakim pun mereka ( Liliya dan Rose ) berkata jujur pernah diatur oleh Seruni agar memberi keterangan sesuai arahan Seruni.


Selanjutnya mereka baru bercerita kejadian sebenarnya secara jujur. Laras tak bisa lolos dari jerat hukum karena Dina bilang handphone yang saat ini disita polisi untuk membuat foto adalah milik Laras.


“Saya mana mampu beli ponsel sebagus itu,” kilah Liya. Dia juga cerita diajari lebih dulu menggunakan ponsel itu oleh Laras.


“Sidang kita tutup dan akan kembali digelar hari Kamis besok.”


“Kamu hebat,” Adnan memberi selamat pada Laura.


“Makasih bantuannya. Tanpa anda berdua mana mungkin kasus ini terungkap,” balas Laura.


“Teteh, terima kasih banget udah bantu sampai dititik ini. Aku seneng banget bisa hantam Laras secara cantik. Eh ada mama dan papa lho,” Laura memberi tahu Assyfa soal kehadiran kedua orang tuanya.


“Mana?” tanya Assyfa. Dia kenal kedua orang tua Laura sejak sebelum Tommy meninggal.


“Di kursi pengunjung,” jawab Laura sambil memasukkan laptopnya kedalam tas. Tadi dia sudah menyerahkan flash disk saat hakim meminta data rekaman CCTV di butiknya. Flash disk itu memang sudah dia persiapkan dari rumah. Assyfa langsung mendatangi Claudia dan Anjas untuk bertegur sapa.


“Kita makan siang sebelum ke rumah uwak ya Ma,” pinta Laura. Dia tahu papanya tak boleh terlambat makan.


“Iya Kak, kasihan papamu kalau nunggu sampai rumah uwak,” jawab Claudia.


‘Dia dipanggil Kakak,’ Syahrul yang berjalan beriringan dengan Anjas dan berbincang dengan lelaki gagah itu masih mendengar percakapan Laura dan mamanya.


“Bang, makan siang di saung ‘cobek hanyar’ ya?” Laura memberitahu Syahrul agar mengikuti mobilnya.


“Papa bawa sopir ‘kan?” tanya Laura.


“Enggak. Papa sengaja berangkat berdua mama, karena kami akan menemanimu di dua persidangan pertama,” jawab Anjas dengan senyum manisnya.


“Kalau begitu Papa ikutin mobil Kakak,” pinta Laura pada sang papa.


‘Nanti malam bisa ajak anak-anak buat kenalan dengan oma dan opanya?’ Laura mengirim pesan pada Syahrul sebelum dia melajukan mobil menuju rumah makan COBEK HANYAR tempat makan siang mereka.


‘Iya, Abang akan kirim pesan ke Nazwa biar dia dan A’i bersiap membuat PR sejak siang, karena malam akan bertemu dengan oma dan opanya.’ Syahrul segera menjawab pesan itu sebelum dia juga melajukan mobilnya menuju rumah makan yang tadi disebut oleh calon ibu dari anak-anaknya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sambil nunggu Yanktie update bab berikut, coba mampir ke cerita milik teman baik yanktie ini ya.


Napennya : SANTI SUKI


Judul cerita : BUKAN ISTANA IMPIAN


Cerita singkatnya seperti ini :


Azizah, seorang guru PAUD dan guru ngaji, harus kehilangan rahimnya karena kanker rahim. Tunangannya pun memutuskan hubungan mereka saat tahu Azizah tidak akan pernah bisa memberinya keturunan.


Irwansyah adalah suami dari Rela Ambarita, yang penyayang dan penyabar. Rumah tangganya yang harmonis menjadi hancur, saat Irwansyah minta izin untuk menikahi Azizah. Bahkan ibu kandungannya pun berubah jadi membencinya.


Kebaikan hati Rela, memberikan izin pada Irwansyah untuk menikahi Azizah setelah mendengar kisah pilu gadis itu. Akankah rumah tangga mereka bahagia di tengah gunjingan para tetangga yang menyebut mereka dengan pelakor dan istri bodoh? Tekanan batin dirasakan oleh kedua wanita itu. Ditambah dengan kedatangan tantenya yang suka mengadu domba dan menyebarkan gosip.


Apakah Irwansyah akan mempertahankan keduanya atau melepas salah satunya?