
Sehabis makan, Julia segera mengurus administrasi kamar inap Bastian. Dia menerima sisa obat serta resep baru yang perlu ditebus bila obat habis. Selain itu dia juga menerima surat kontrol kembali. “Selesai sudah,” batin Julia dengan senang.
“Julia?” sapa seorang ibu cantik.
“Mami …,” sapa Julia. Dia langsung memberi salim dan mencium perempuan cantik yang hampir menjadi ibu mertuanya itu.
“Siapa yang sakit Mi?” tanya Julia sopan.
“Biasa, kontrol rutinnya oma aja,” balas bu Nenden, maminya August.
“Mana Oma?” tanya Julia, tentu saja dia kangen pada perempuan bule yang sangat keras tapi sebenarnya berhati sangat lembut itu.
“Masih di depan poli penyakit dalam. Kamu sendiri siapa yang sakit?” tanya Nenden melihat berkas yang Julia bawa.
“Oh ini, baru bayar perawatan calon suami. Dia di rawat karena kena Demam Berdarah,” jawab Julia jujur. Kejujuran yang membuat Nenden putus harapan.
“Ayok ketemu Oma,” ajak Nenden. Dia juga sudah selesai membayar pemeriksaan rutin ibu mertuanya.
“Ayok, saya kangen ama Oma,” balas Julia tanpa ragu.
“Omaaaaaaaaaaaa …,” Julia langsung memeluk dan mencium perempuan yang sedang duduk di depan poli penyakit dalam ditemani oleh seorang asisten rumah tangga.
“Cantik, Oma kangen,” Stelle, perempuan asli Jerman itu balas memeluk Julia dengan sayang.
“Julia juga kangen banget ama Oma,” balas Julia.
“Main ke rumah dong,” ajak sang Oma.
“Iya nanti kalau senggang Julia akan main ke rumah Oma,” balas Julia.
“Jangan karena tak berjodoh dengan August kamu enggak mau main ke rumah,” Stelle berkata dengan lirih. Dia sedih karena Julia tak akan jadi cucu mantunya lagi.
“Enggak koq Oma, kemarin juga kak August sempat ketemu di rumah sakit ini. Dan dia nengok calon suami Julia koq,” jawab Julia.
“Kamu sudah punya calon suami?” tanya Stelle kaget.
“Iya Oma, 4 hari lagi kami tunangan,” jawab Julia. Julia tidak bohong. Tadi pagi Bastian bilang akan datang ke rumahnya di Bogor ke rumah 4 hari lagi.
“Kamu ketemu August?” tanya Nenden bersamaan dengan pertanyaan Stelle tadi.
“Iya Mi, Kak August pas besuk co pilotnya,” balas Julia.
“Oma doakan, dia jodoh terbaikmu,” Stelle hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk perempuan cantik yang dia tahu sangat ‘bersih’. Sebelum dia merestui pertunangan Julia dan August dulu, dia meminta Bagas mencari tahu kisah cinta Laura sebelum pacaran dengan August.
“Aamiiiin, terima kasih Oma. Sekarang Julia pamit dulu ya Oma, Mi,” Julia kembali salim dan mencium pipi kedua perempuan cantik yang sangat baik pada dirinya.
***
“Koq lama Honey?” tanya Bastian. Kini dia sedang duduk di sofa menonton berita di televisi.
“Aku ketemu sama mami dan omanya Kak August saat selesai bayar di kasir. Ngobrol sebentar. Mereka tanya siapa yang sakit, dan aku bilang tunanganku,” jawab Julia sambil menyimpan berkas di tas August.
“Surat kontrol kembali dan resep ada di amplop ya A’. Kalau kontrol berkas rawat diminta dibawa,” Julia menerangkan info yang tadi di jelaskan oleh petugas yang melayaninya.
“Oke,” jawab Bastian. Dia tak mempermasalahkan perihal pertemuan Julia dengan mantan mertuanya. Sangat berbeda dengan Bastian sebelum putus dengan Julia. Rupanya dia benar-benar berusaha berubah.
“Assalamu’alaykum,” sapa mamang, karyawan Bastian.
“Duduk dulu Mang,” perintah Bastian.
“Enggak usah Den, langsung ajah,” jawab Mang Thohir.
“Ya sudah, ini taruh di mobil kita semua ya. Sepertinya tidak bisa sekali jalan Mang. Bolak balik ya. Kalau cape istirahat dulu,” balas Bastian. Sejak tadi Julia memang sudah memisahkan barangnya dengan barang Bastian.
“Nanti yang ini masukkan ke mobil Julia,” lanjut Bastian.
“A’ …, habis makan siang, Kita bisa langsung pulang koq, enggak perlu nunggu sore,” Julia memberitahu Bastian.
“Iya, kalau begitu kamu kabari Amah dulu aja. Dan kasih tahu juga kalau kamu enggak ikut A’a pulang,” balas Bastian. Julia pun langsung menghubungi bu Kusumastuti sesuai permintaan Bastian.
***
Ilyas baru pulang dari rumah sakit, dia merasa badannya mulai demam. Dia pun meminum tambahan vitamin dan obat pereda demam. “Bik, tolok buatkan minum jahe panas dengan gula merah ya. Jahenya yang banyak,” pinta Ilyas pada bik Iyah.
Sampai tengah malam Ilyas merasa tubuhnya makin lemah dan panas tak juga turun. Akhirnya dia berinisiatif memanggil taksi on line untuk berangkat ke rumah sakit. Dia tak berani menyetir mobil saat kondisi tubuhnya seperti saat ini. “Bik, saya ke rumah sakit ya,” pamit Ilyas pada bik Iyah yang sengaja dia ketuk kamarnya.
“Den Ilyas sakit. Apa perlu ditemani?” tanya bik Iyah.
“Enggak usah, saya bisa sendiri. Hanya saya enggak berani nyetir, jadi lagi nunggu taksi on line datang,” jawab Ilyas lemah.
“Khabari hasilnya ya Den,” jawab sang bibik khawatir. Bik Iyah sudah menganggap Ilyas adalah anaknya sendiri.
“Nanti akan langsung saya khabari. Ini uang untuk satu minggu. Saya takut langsung di rawat,” Ilyas memberikan uang pada bik Iyah. Tak lama mobil on line yang dipesannya datang. Bik Iyah mengunci pintu dan berdoa semoga majikannya tidak sampai dirawat di rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit August segera mendapat penanganan serius. Dia langsung diminta untuk rawat inap. Infus langsung dipasang dan darahnya diambil untuk diperiksa di laboratorium. Rumah sakit ini adalah rumah sakit tempat August bekerja.
‘Bik, saya harus rawat inap, tolong siapkan pakaian ganti saya termasuk pakaian dalam saya, serta alat mandi dan alat cukur ya,’ Ilyas mengirim pesan pada bik Iyah. Dia tak mau telepon takut mengganggu. Ilyas juga memberitahu Novia sang kakak. Juga perawat di ruangannya.
***
“Neng, si Aden di rawat di rumah sakit,” bi Iyah memberitahu Namira saat mereka bangun kala subuh.
“Astagfirullah, kapan berangkatnya Bik?” tanya Namira kaget.
“Jam 2 tadi, berangkat pakai taksi online,” jawab bibik sambil menyiapkan pakaian Ilyas.
“Atuh kenapa enggak bangunin saya? Saya bisa antar ke rumah sakit,” Namira menyesal tak pernah memberitahu dia bisa mengendarai mobil. Bahkan dia punya sim A. Saat menjadi kekasih Wisnu, dia memang diminta Wisnu les mengemudi hingga punya sim A. Itu diperlukan saat Wisnu lelah dengan banyak kegiatannya, Namira yang mengendarai mobil untuk kembali ke rumah atau ketempat lainnya.
“Eneng bisa bawa mobil?” tanya bik Iyah. ( bawa mobil = menyetir ).
“Bisa Bik, saya juga punya SIM A koq,” jawab Namira.
“Eneng tahu rumah sakit ENGGAL WARAS yang besar itu? Tempat den Ilyas kerja?” tanya bik Iyah. Dia sendiri bingung. Diminta menyiapkan baju, lalu diantar kemana? Karena dia pun belum pernah ke rumah sakit tempat dokter Ilyas bekerja.
\==============================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta