
Mana nih komen manis dan setangkai mawarnya?
Jangan lupa sekarang hari Senin. bagikan VOTE kalian untuk novel ini ya
SELAMAT MEMBACA
“Koq Mas enggak bilang kalau kamarnya seperti ini?” tanya Wulan.
“Mas kira kamu sudah tahu,” jawab August.
“Enggak. Tadi waktu berangkat kerumah, kamar ini masih berantakan. Tas bajuku juga totte bag dari bu Laura masih diatas kasur,” jawab Wulan.
Dia sedang mencari tasnya kemarin untuk mencari baby doll dari bahan kaos yang biasa dia gunakan untuk tidur. Wulan memang tak suka memakai daster. Dia lebih suka baby dol dengan celana panjang.
Mereka sudah selesai salat isya berjamaah. Wulan pun membaringkan tubuhnya setelah menyingkirkan mawar dari bed cover. Tentu saja sebelumnya telah dia buat foto sebagai kenangan hidupnya.
August ikut berbaring disisi Wulan. Dia bersandar di headboard. Dan menarik Wulan agar bersandar didadanya.
“Mas ngapain?” tanya Wulan, dia melihat August sedang melihat ponselnya dengan serius.
“Ini, Mas sedang ganti foto profil di whatsapp dan mau ganti juga yang dimedia sosial Mas,” jawab August sambil memperlihatkan foto profil yang baru dia ganti.
“Aku mau dong Mas. Kirim ke aku foto itu,” pinta Wulan. Rupanya August mendapat foto akad nikah, foto mereka memegang buku nikah serta saat August mencium kening Wulan dari Farhan. Mungkin Farhan yang sedang dalam perjalanan pulang ke Jakarta dan tidak bertugas nyupir sedang melihat ponselnya. Lalu mengirim foto itu untuk August.
Yang August gunakan adalah saat dia mencium kening istrinya. Sedang Wulan menggunakan yang mereka sedang memegang buku nikah. Dia ingin teman-teman yang mempunyai kontaknya melihat foto yang dia gunakan.
August juga mengganti foto profil media sosialnya. Lalu dia mengirim chat di messenger Julia. ‘Neng, maafin semua kesalahan Kakak selama ini. Kakak berharap Eneng bisa bahagia. Tadi pagi Kakak sudah menikah. Doakan kami ya.’ Bukan dia ingin pamer. Dia hanya ingin, sesudah Julia mengetahui pernikahannya, perempuan itu mau menjalin silaturahmi dengannya tanpa takut dia ganggu lagi.
Tanpa menunggu balasan Julia, August menutup chat itu. Dia lihat banyak notif karena dia mengganti foto profilnya. Tapi dia tak menanggapi. Dia hanya memberi pengumuman secara tidak langsung dirinya sudah menikah.
Tentu para mantan yang masih setia mengamatinya kaget karena August bisa berkomitmen dalam ikatan suci pernikahan.
Wulan juga langsung menerima beberapa chat dari teman yang melihat dirinya ganti foto profil. “Mas, ini pada tanya kapan aku nikah.”
Wulan memperlihatkan chat beberapa teman yang masuk dan belum dia buka. “Kita hitung mundur. Sekarang usia Dedek berapa minggu? 20?” tanya August memastikan.
“Iya,” jawab Wulan.
“Oke, kita bilang kita sudah menikah enam bulan lalu, tanggalnya tanggal hari ini aja. Jadi kalau ada yang tanya kapan kita menikah, kita satu kata. Kita sudah menikah 14 Februari pas valentine days. Dan saat itu kita enggak umumkan karena kamu masih SMA,” August memutuskan seperti itu agar Wulan tidak diolok-olok hamil diluar nikah.
“Terima kasih ya Mas. Sudah mau membantuku seperti ini,” tanpa sadar Wulan berbalik badan dan memeluk August dengan erat.
August meletakkan ponselnya. Dia membalas pelukan istrinya dan mulai mencium wajah polos istrinya. Wulan hanya pasrah saja.
“Mas boleh minta jatah enggak?” bisik August lembut.
“Apa enggak apa-apa buat Dedek?” tanya Wulan ragu. Dia takut berimbas pada anak dalam kandungannya.
“Mas akan pelan-pelan,” jawab August dengan bergetar. Dia sangat menginginkan Wulan menjadi miliknya seutuhnya.
Wulan pun mengangguk. “Kalau nanti sakit atau enggak nyaman, kamu bilang ya?” bisik August. Tanpa menunggu jawaban dia mulai membuat pemanasan agar Wulan tak takut pada dirinya.
***
Sejak siang dari rumah August, Laura mengantar Sukma dan wak Ganis pulang. Lalu dia mengambil koper yang sudah dia siapkan dan berangkat ke rumah sakit. Nanti anak-anak akan mampir sepulang mereka sekolah sekalian membawa bibik pulang dengan driver.
“Bangun dong Bang. Abang tahu enggak aku lagi sediiiiiiiiiiiiiiiih banget. Ilyas dan August sudah nikah. Sementara kita malah tertunda. Abang cepet bangun ya? Dan kita enggak perlu tunda pernikahan kita. Begitu Abang sehat, kita nikah ya?” Laura berbisik lirih ditelinga Syahrul. Dan dia melihat ada setetes air disudut mata lelaki itu.
Laura mengambil tissue dan mengusap air itu. “Aku cinta Abang. Aku akan selalu setia ke Abang walau kemarin Ariano ngelamar aku dan bikin anak kita ngambeg karena mengira aku akan meninggalkanmu.”
Dan titik air kembali ada disudut mata itu.
***
Laura keluar ruang rawat, dia tak ingin anak-anak terlalu lama menunggu. Kasihan mereka lelah pulang sekolah.
“Semua baju sudah dibawa Bik?” tanya Laura, ternyata kedua anaknya belum tiba.
“Nanti Bibik jangan sungkan ya disana, anggap aja rumah sendiri. Saya senang kalau Bibik dirumah. Anak-anak enggak merasa dirumah orang lain karena ada temannya,” Laura tahu, walau bagaimana pun anak-anak tak enak dirumah orang lain. Tapi kalau anak-anak tetep di rumah Syahrul, dia yang takut memikirkan keselamatan anak-anak tanpa pengawasannya.
“Iya Neng. Bibik enggak akan sungkan,” jawab bibik.
“Assalamu’alaykum,” salam dari Nazwa dan Fahri terdengar hampir bersamaan.
“Wa’alaykum salam. Apa kalian sudah makan?” tanya Laura sambil menerima salim yang kedua anak itu berikan.
“Ade makan roti saat nunggu Kakak. Tadi siang enggak sempat makan,” jawab Fahri. Ini sudah sore karena Nazwa les terlebih dahulu.
“Mau makan diseberang? Atau dikantin sini?” tanya Laura.
“Seberang aja Mom,” jawab Nazwa. Dia menyesal kemarin ngambeg dan tidak ikut makan ayam penyet lada hitam.
“Ya sudah, ayok Bik. Bawa tas nya sekalian biar enggak bolak balik,” Laura juga mengajak drivernya makan bersama.
***
Hari ini Wulan masih tidak kuliah. Dia tak enak karena keluarga suaminya masih berkumpul. Semua baru akan kembali ke Jakarta nanti sore.
Rombongan akan check out pukul 12.00. Lalu mereka akan makan siang bersama sebelum pulang kerumah masing-masing.
Wulan bangun dengan badan pegal. Karena ini pertama kalinya dia making love dengan penghayatan. Bukan seperti yang dia alami dua kali sebelumnya.
Saat akan bangun untuk salat subuh dia merasa **** ************* terasa sakit. Bukan sakit karena terkoyak, hanya terasa pegal saja. Ah sulit dikatakan apa yang Wulan rasa saat ini.
Dan keqinya lagi saat dia membangunkan suaminya untuk mandi sebelum salat subuh, August kembali mendaratkan pesawat tempurnya kembali saat dikamar mandi.
“Sakit ya Sweety,” tanya August tanpa dosa. Dia gemas melihat wajah cemberut istrinya.
“Mbuh,” jawab Wulan dengan kesal. Lalu dia bersiap menjadi ma’mum suaminya.
\===================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta