TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
BOLEH PULANG



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 ‘Perhatiannya sebegitu besar, mengapa aku meragukannya hanya karena kehadiran lalat ijo itu?’ batin Wulan menyesalkan sikapnya.


‘Andai waktu itu aku enggak marah, aku enggak bakal dirawat di rumah sakit. Selama ini aku selalu kuat. Hanya karena lalat ijo aku malah drop!’


Untuk selanjutnya Wulan tak akan meragukan niat baik August dan keluarganya. Dia yakin memang August lah jodohnya. Walau dia tak pernah pacaran apalagi jatuh cinta. Tapi sekarang dia harus cinta pada suaminya. Dia harus membangun rasa itu.


****


“Pelan-pelan, mau duduk di ruang tengah atau langsung masuk kamar?” tanya August.


“Di kamar aja, ngantuk,” sahut Wulan.


August membimbing Wulan ke kamar mereka, lalu dia memasukkan barang-barang dari mobil.


“Nanti kalau Mas kerja, kalau malam kamu pakai ini ya, biar aman,” August menunjukkan diapers yang dia belikan untuk Wulan.


“Iya,” sahut Wulan sambil menaikkan selimutnya dan tak lama dia langsung terlelap. Rupanya obat Wulan memang membuat dia banyak tidur untuk mengurangi aktivitasnya.


Melihat istrinya terlelap August segera memasak nasi dan memindahkan lauk yang tadi dia beli pada piring dan mangkuk lalu dia atur di meja makan dan dia tutupi tudung saji.


Tanpa istirahat, August langsung mencuci semua baju kotor miliknya dan milik Wulan. Dia tak mau merepotkan wak Jum pegawai barunya nanti.


“Assalamu’alaykum,” Riesty masuk kerumah dan memberi salim pada August.


“Wa’alaykum salam,” August langsung kedepan. Sejak tadi dia sudah menyiapkan uang cash untuk membayar taxi. Dia segera melihat paklek baru saja menstandarkan motornya. August melihat argo dan membayar taksi konvensional itu. Paklek Suparman tak punya aplikasi taksi online, jadi menggunakan taksi argo.


“Mari silakan masuk Paklek, Uwak,” August mengajak kedua tamunya masuk.


“Wulannya tidur, maaf enggak bisa nyambut,” August memberitahu kalau Wulannya tidur.


“Paklek dan Riesty tidur sini ya. Baru ada satu kamar yang siap. Kamar lain mau dibikin untuk kamar bayi dan masih berantakan,” August mengajak paman istrinya untuk masuk ke kamar tamu.


“Uwak kamarnya disana, ayok Wak,” ajak August mengajak wak Jum ke arah kamar pembantu yang semua barangnya juga masih baru dan bersih. Di lemari sudah tersedia 3 seprey untuk ukuran tempat tidur di kamar itu. Ada sebuah tipas angin.


August lalu memandu wak Jum untuk mengetahui letak kamar mandi belakang. Tempat mencuci, tempat menjemur dan setrika. Ketak sabun dan bak cuci setrika.


“Pak. Saya enggak bisa pakai mesin. Boleh saya mencuci dengan tangan?” tanya wak Jum.


“Selama istri saya sakit, dan Uwak enggak bisa mencuci pakai mesin, nanti biar ke laundry aja. Enggak usah dipaksain. Tang penting Uwak ngawasin istri saya kalau siang dan masak. Kalau masak kan Uwak biasa karena jualannya dagangan matang kan?” jawab August. Dia yakin bila Wulan sehat tentu dia akan mencuci sendiri, uwak tinggal menyetrikanya. Atau mungkin nanti Wulan akan mengajari uwak menggunakan mesin cuci. Terserah Wulan nanti saja.


August juga memberitahu wak Jum kalau Wulan wajib minum susuu ibu hamil dan dia ajari uwak Jum takaran yang pas untuk istrinya. Paklek hampir tak percaya, menantunya sebegitu perhatian pada keponakannya padahal mereka menikah bukan dasar cinta dan bayi didalam perut Wulan bukan benih August.


“Riesty. Ini tadi Mas beli cemilan. Kamu ambil saja kalau mau. Susuu coklat dingin dan buah juga banyak di kulkas. Kamu ambil sendiri ya,” tak lupa August memperhatikan adik sepupu Wulan. Dia tak ingin anak kecil itu ragu ingin ambil sesuatu.


“Iya Mas. Aku boleh lihat kamar adek bayi?” tanya Riesty.


“Boleh. Enggak dikunci koq. Hanya belum rapih. Mas masih mau nambah beberapa barang,” sahut August sambil mengupas melon yang tadi dipesan Wulan. Sehabis Wulan bangun tidur dia ingin memberikan buah ini untuk cemilan sore istrinya.


***


“Ini perkembangannya semakin baik Bu. Mungkin sehabis lusa dokter Syahrul bisa pulang,” dokter yang memeriksa melihat rekam medik Syahrul dan menyampaikan sesudah lusa dokter Syahrul bisa pulang. Tentu saja khabar bahagia ini langsung ingin Laura sampaikan pada papa dan anak-anaknya. Tapi sekarang dia harus tahan dulu karena masih ada dokter yang sedang bicara dengan Syahrul.


“Pereda nyeri saja yang habis Dok. Yang lain masih cukup untuk tiga hari sebelum pulang,” sahut suster sambil melihat data yang dia pegang.


Dokter langsung menuliskan resep dan memberikannya pada Laura. Dia juga menyarankan lusa terapi tak boleh lupa.


***


“Assalamu’alaykum Pa,” sapa Laura saat sang papa mengangkat sambungan telepon dari dirinya.


“Wa’alaykum salam Kak. Ada khabar baik?” tanya Anjas. Dia mendengar suara putrinya terdengar bahagia.


“Iya Pa. Tiga hari lagi Abang sudah boleh pulang,” sahut Laura..


“Oke. Lusa Papa dan Mama sampai Bandung. Papa yang akan jemput Abang,” sahut Anjas pasti. Dia belum memberitahu rencananya pada Laura dan Syahrul. Besok saja sesudah bertemu secara langsung.


“Iya Pa. Terima kasih,” jawab Laura. Tak bisa ngobrol panjang karena seperti biasa papanya sibuk maka Laura pun menutup sambungan teleponnya.


“Assalamu’alaykum Wak,” Laura mengabari wak Ganis. Dia ingin mengabarkan tentang kepulangan Syahrul dan minta uwak menyuruh menyiapkan kamar bagi Syahrul dan mama papa serta Gerry yang akan datang ke Bandung. Rumah wak Ganis adalah rumah kuno dan memiliki banyak kamar. Karena dudlunya panti asuhan gabung di rumahnya sebelum almarhum suaminya membangun panti yang khusus dan terpisah dengan rumah utama milik mereka.


“Wa’alaykum salam La,” sahut wak Ganis.


“Wak, Abang tiga hari lagi boleh pulang. Bisa minta tolong siapin kamar buat abang, mama dan Gerry?” tanya Laura.


“Alhamdulillaaaaah sudah boleh pulang. Iya nanti Uwak bilang Sanah buat nyiapin kamar lusa. Biar masih bersih 3 hari lagi. Juga nanti Uwak siapin makanan yang lebih buat mereka,” sahut wak Ganis senang. Andai Laura tahu rencana adik iparnya ( mamanya Laura ) tentu tak hanya kamar Gerry dan Anjas serta Syahrul yang dia minta siapkan.


Sehabis menelepon dua orang itu, Laura mengirim pesan pada Nazwa yang masih les. Dia tak ingin mengganggu putrinya yang sedang belajar.


‘Alhamdulillah. Tiga hari lagi kita bisa kumpul terus karena Daddy sudah boleh pulang. Moms sayang kalian. Belajar yang rajin ya.’


“Seneng banget Mom,” tegur Syahrul.


“Abang enggak seneng?” tanya Laura bingung.


“Abang se neng bisa pulang. Tapi se dih bakal pi sah sama Mommy,” sahut Syahrul yang mulai lancar bicaranya walau sesekali masih sering terputus.


“Kenapa pisah?” tanya Laura bingung.


“Abang kan pulang ke ru mah dan ka mu pulang ke rum mahmu,” sungut Syahrul.


\==========================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL BETWEEN QATAR AND JOGJA  YOK!


 



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta