TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
BERMULA DI KAMAR 1734



Tanpa membuang waktu, tanpa menunggu sampai hotel, August langsung meminum obat alergi yang baru dia beli. Dia sengaja duduk dulu di teras apotek.


“Kamu kenapa pulang sendirian?” tanya August saat melihat June sedang menunggu lift untuk menuju kamarnya.


“Enggak Mas, saya sudah balik bareng teman-teman. Ini habis beli snack di mini market bawah,” balas June. August memperhatikan, June memang sudah menggunakan sandal dan tidak membawa tas lagi, hanya dompet kecil dan ponsel saja di tangannya selain paper bag belanjaannya. “Mas darimana?”


“Beli obat, mungkin ada cairan udang yang tak sengaja saya makan karena tadi udang dan daging ‘kan diletakkan dalam satu piring yang sama,” jawab August santai.


June langsung memperhatikan dengan saksama, terlihat ruam di wajah August. “Apa ruam itu sangat gatal?” tanyanya penuh perhatian.


“Lumayan, tapi tadi di apotek sudah langsung minum obat koq, jadi akan aman,” August segera masuk ke dalam lift yang sudah terbuka, kepalanya sedikit pening maka dia tak mempedulikan tata krama mempersilakan perempuan lebih dulu. Dia memegang pelipisnya yang teras berdenyut.


“Mas engga-papa?” June makin khawatir, dia mencoba memegang badan August yang mulai sempoyongan. “Kamar berapa?” tanya June saat dia melihat August memencet lantai 17.


“1734.”


June memapah August menuju kamar 1734 yang tak jauh dari lift, dia mengantar August dan memapahnya hingga sang pilot duduk di tepi ranjang. June memasang pemanas air dan memberikan air hangat pada August. Sesudah itu dia ambil gelas yang sudah kosong dan membantu August untuk berbaring dan dia menyelimuti tubuh lelaki itu.


August yang sudah meminum obat alergi tentu mengantuk dan langsung terlelap. June meninggalkan kamar itu dengan membawa kunci kamar ke resepsionis. Di sana dia minta kunci cadangan sambil cerita kalau pemilik kamar sedang sakit, dia ingin memegang satu kunci untuk berjaga-jaga dan mengontrol tengah malam. Sesudah mendapat kunci cadangan, June kembali ke kamar Augus dan meletakan kunci utama di dinding belakang pintu.


Saat terbangun pagi jam 5 waktu setempat June bergegas menuju kamar August, dia ingin melihat kondisi lelaki gagah pujaan semua wanita di maskapainya. June meraba dahi August, seperti semalam, tidak panas. Dia perhatikan ruamnya sudah sangat menipis dan hampir tak terlihat. ‘Syukurlah, dia sudah membaik.’


“Apa yang kamu lakukan?” tanya August dengan suara serak saat merasa ada yang meraba keningnya. Dia pegang tangan itu lalu dia membuka mata. Tampak wajak cantik June sedang memperhatikan dirinya.


“Terima kasih,” dengan lembut August mencium jemari June yang sedang di pegangnya. August bangkit dari berbaring, dia melihat June hanya menunduk. Dengan lembut August mengangkat dagu June, dia pandang mata gadis itu yang menatapnya malu. Tanpa ragu August mendekati wajah cantik itu dan mendaratkan bibirnya. August merasa bibir tipis June membalas dan mereka pun saling *******.


“May I?” tanya August yang sudah tak bisa membendung hasratnya. June mengangguk tanpa ragu, dan jadilah mereka bersatu tanpa ada paksaan dan saling menikmati. Pagi itu bahkan tak hanya sekali August menyerang June, mereka bertempur 3 kali sebelum keluar untuk sarapan. Saat sarapan dengan team, August mau pun June tetap menjaga jarak dan bertindak seakan tak pernah terjadi apa pun antara mereka. Sehabis sarapan mereka jalan-jalan beli oleh-oleh dan ke Big Ben. Tak ada foto berdua atau berdekatan saat bersama team. Makan siang mau pun makan malam juga tak ada yang istimewa. Sesudah itu mereka kembali ke hotel. June sekamar dengan pramugari lainnya. Dia langsung mandi dan bersiap tidur. Saat teman kamarnya tidur June keluar dengan membawa satu stel seragam untuk pulang esok pagi. Dia mengendap dan masuk kamar August dengan mudah karena punya kunci.


August sedang berbaring menonton musik saat June masuk dengan senyum manisnya. June langsung naik ke ranjang dan mencium August tanpa malu. “I miss you so much,” desah August disela pagutannya.


“Really?” goda June dengan senyum nakalnya. August tak membalas, dia hanya bergerilya. “Jangan pernah membuat kissmark di leher, kamu tahu seragam tak bisa menutupinya,” Julia mendesah saat August mengisap dengan gemas bagian lehernya.


“Kamu bodohh atau pura-pura tak tahu?” August semakin banyak membuat tanda kepemilikan di tempat yang dia suka. Dia tahu kiss mark bisa disamarkan dengan concealer.


Malam itu entah berapa kali mereka berpacu saling kejar mencapai garis finish. August yang sudah lama tak berpacu setelah putus dengan Zaskia, seakan menemukan oase di gurun pasir. Dia berbuka puasa tanpa bisa ditahan lagi. Segala gaya dia lakukan. Dan June ternyata bisa mengimbangi kekuatan dan keliaran August. June tak pernah merasa cape atau menolak bila August kembali on padahal mereka baru saja selesai ronde sebelumnya. August merasa lebih puas bermain dengan June daripada dengan Zaskia yang selalu hanya membolehkannya bermain 1 ronde saja.


Sebelum sarapan mereka kembali melakukan pergulatan. Begitu pun di kamar mandi. Tak pernah puas keduanya bermain. “You are the best honey,” gumam August setelah pelepasannya di kamar mandi. Saat ini mereka sudah rapi dengan seragamnya. June akan keluar lebih dulu untuk kembali ke kamarnya, dia akan memberi alasan pada teman sekamarnya, habis keluar sesudah rapi berdandan.


---------------


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta