TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
AKANG INGIN KENALAN SEBAGAI CALON MENANTU MEREKA



Halloooooo


Selamat malam dari Jogja


Seperti biasa ini update kedua hari ini


Yanktie mohon kalian berkenan dengan cerita sederhana ini dan memberi komen manis juga tak lupa hadiah setangkai mawar atau secangkir kopi.


Yang masih punya poin VOTE juga bisa kirim untuk cerita ini yaa


Laura berangkat terlebih dahulu dari Anjas dan Claudia. Karena dia ada janji dengan Adnan. Dia sudah memberitahu Syahrul tentang hal ini. Syahrul dan Laura mengira yang ingin dikatakan Adnan adalah hal penting mengenai persidangan.


Laura langsung menuju kantin di pengadilan. Karena Adnan memberitahu dia sudah disana.


“Mau ngopi?” tanya Adnan saat Laura tiba dikantin.


“Hot milk choco aja,” jawab Laura. Dia sudah sarapan sehingga rasanya tak butuh kopi pagi ini.


“Ada apa?” tanya Laura to the poin. Dia takut waktu mereka terbatas bila akan membahas masalah kasus yang sedang dia hadapi.


“Ini bukan masalah kasus koq. Ini masalah personal,” jawab Adnan pelan tapi tegas.


“Owh … kenapa?” tanya Laura. Dia sempat menjeda kalimatnya.


“Orang tua yang kemarin datang itu orang tuamu?” tanya Adnan tanpa ragu.


“Iya, mereka papa dan mama saya dari Jakarta,” sahut Laura sambil menyesap coklat susunya.


“Apa Akang boleh kenalan?” tanya Adnan selanjutnya.


“Kenapa harus minta izin?” tanya Laura.


“Akang ingin kenalan sebagai calon menantu mereka,” jawab Adnan dengan pedenya.


“Waduuuuuuuuuuuuu …,” Laura bingung tak tahu harus bicara apa lagi.


“Kenapa? Apa kamu sudah ada yang punya?” tanya Adnan. Menurut info yang dia dapat Laura masih belum ada pendamping setelah tunangannya meninggal.


“Iya. Sekarang aku sudah ada yang punya. Baru minggu ini,” jawab Laura dengan yakin.


“Serius? Baru minggu ini?” tanya Adnan tak percaya. Ternyata para informannya benar akurat. Karena mereka mendapat data terakhir sepuluh hari lalu.


“Serius. Mama dan Papa juga sudah merestui kami,” Laura menatap manik mata Adnan yang terlihat kecewa.


“Baiklah. Semoga kamu bahagia dengannya,” dengan gentle Adnan mengucapkan selamat pada Laura.


“Aku mohon kita tetap berteman baik,” pinta Laura.


“Hei, Akang bukan pecundang. Kita pasti akan tetap berteman baik walau kita tak bisa bersatu,” jawab Adnan lugas. Jiwa ksatrianya sangat menonjol.


“Sebentar, aku angkat telepon dulu ya,” Laura meminta izin pada Adnan saat merasakan teleponnya bergetar.


“Dikantin belakang Bang. Kesini aja,” sahut Laura. Syahrul menghubunginya menanyakan posisi dia ada dimana.


“Kang Adnan, kenalkan calon suamiku,” Laura memperkenalkan Syahrul yang baru saja datang. Dengan jantan Adnan menyalami Syahrul.


“Udah sarapan Bang?” tanya Laura manis.


“Sudah tadi bareng anak-anak,” balas Syahrul.


“Lho kalian koq disini?” tanya Anjas yang baru datang, dia ingin membeli kopi.


“Hai Pa,” sapa Syahrul sambil memberi salim pada Anjas.  Adnan melihat itu dan semakin percaya Syahrul memang sudah mendapat restu ayahnya Laura.


“Papa mau beli kopi?” tanya Laura.


“Iya Kak,” balas Laura.


“Kang Adnan, kenalkan Papa saya,” Laura memperkenalkan Anjas pada Adnan.


“Pa, ini petugas yang bantu Kakak mengatasi kasus ini sejak awal,” Laura memperkenalkan Adnan pada Anjas.


“Kakak pesankan Papa kopi. Papa tunggu sini aja sama Abang ya,” Laura langsung menghampiri kasir memesan dua kopi dan membayar semua sekalian dengan kopi yang diminum Adnan serta coklat panas miliknya.


Laura meletakkan dua cangkir kopi di meja. “Nih Bang,” dia sodorkan satu cangkir untuk Syahrul.


“Papa jadi pulang ke Jakarta habis sidang ini?” tanya Syahrul pada Anjas.


“Iya, makan siang dulu seperti kemarin baru Papa pulang,” sahut Anjas sambil menyesap sedikit kopi panasnya.


“Saya enggak bisa nemani ya Pa. Maksimal jam dua belas saya harus kembali ke rumah sakit. Jam satu ada meeting. Semalam saya sudah bilang ke Kakak,” Syahrul pamit pad Anjas dan dia menyebut Laura dengan panggilan kakak, seperti yang biasa Anjas gunakan.


“Tadi pas sarapan Kakak sudah bilang koq,” sahut Anjas.


“Nak Adnan tinggal dimana?” tanya Anjas.


“Di Geger Kalong Pak,” sahut Adnan cepat.


“Tidak di asrama?” tanya Anjas. Sebagai orang Bandung dia masih ingat beberapa daerah. Tapi dia yakin pasti sudah banyak berubah karena perkembangan zaman.


“Enggak Pak. Biasanya yang tinggal di asrama yang bukan asli Bandung. Sehingga jauh dari tempat tugasnya,” jawab Adnan.


“Iya juga ya,” Anjas segera menghabiskan kopinya karena Laura sudah bersiap untuk masuk ruang sidang.


***


“Beberapa kali aku diam saat kau injak, sekarang rasakan tikaman mautku,” bisik Laura saat dia bisa mendekati Laras ketika perempuan itu dibawa masuk oleh petugas lapas.


Laras hanya menunduk tak berani mengangkat wajah. Kemarin ibunya sudah bilang menyerah tak mampu memperingan hukumannya dan suaminya sudah memberi gambaran akan menceraikannya karena membuat keluarga besarnya malu dan bangkrut.


Sidang kali ini adalah pemeriksaan pelaku. Tak ada yang bisa disangkal oleh Seruni. Dia sama sekali tak punya power apa pun untuk membela anaknya. Belum lagi dia pribadi kena kasus percobaan suap karena rekaman CCTV dari Laura.


***


“Abang pamit ya Yank,” Syahrul mencium kening Laura dalam dan lama seakan enggan berpisah.


“Iya, hati-hati ya,” Laura mencium kedua pipi Syahrul tanpa malu. Tadi Syahrul sudah pamit pada Claudia dan Anjas.


“Love you my sunshine,” kembali Syahrul memeluk dan mencium kening Laura sebelum Laura masuk ke mobilnya untuk makan siang bersama kedua orang tuanya.


Syahrul segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempatnya bertugas.


***


“Wah yang sudah dijemput calon istri mah beda ya,” goda teman-teman Ilyas ketika melihat Ilyas tersenyum lebar melihat Namira datang menjemputnya.


‘Kapan nih undangannya?”


“Serius itu tunangannya?”


“Geulis pisan.”


Dan banyak lagi kata-kata yang teman sejawat berikan meihat sosok Namira yang menghampiri Ilyas. Perempuan itu menggunakan tunik kembang-kembang kecil berwarna coklat dan terlihat sederhana dipadu celana kain berwarna cream. Tidak terlihat glamour namun siapa pun pasti mengakui perempuan itu sangat cantik walau hanya berpoles make up tipis. Kecantikan alami.


“Hai Honey,” Ilyas langsung memeluk tunangannya dan mencium keningnya.


“Kenalkan, ini teman-temanku,” Ilyas memperkenalkan Namira pada beberapa teman yang belum pernah bertemu dengan perempuan cantik miliknya.


Namira dengan ramah menjawab beberapa pertanyaan yang dia rasa perlu dia jawab, tapi banyak pertanyaan yang dia sengaja tidak jawab seperti tentang kapan menikah. “Tunggu undangan dari A Ilyas saja,” begitu jawaban sederhana darinya.


Ilyas dan Namira segera meninggalkan lobby dan bersiap menuju parkiran. Ilyas menggunakan seragam dokter karena barusan meeting hasil seminar. Dia juga membawa koper miliknya dari Jakarta.


“Mira …,” suara berat terdengar memanggil Namira saat dia dan Ilyas hampir sampai di lobby rumah sakit.


Namira kaget mendengar suara yang sangat dia hafal. Suara orang yang sangat tak ingin lagi dia temui. Terlebih saat ini dia sedang bersama Ilyas tunangannya.  Dia tak ingin ada keributan.


Ilyas melihat siapa yang memanggil tunangannya. Dia sengaja berhenti dan menengok ke kanan. Arah orang yang memanggil tunangannya dengan cukup kencang.


====================================================================== 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta