TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
AUGUST ~ STELLA ~ LIZ



Dengan enggan August menemani sang Oma. Dia yang sudah tak minat menambatkan hati pada seseorang akan mencoba menuruti kemauan omanya. Kali ini dia tak akan menolak perjodohan dari oma. ‘Apa salahnya dicoba? Mungkin memang ini jalanku untuk bertemu dengan tulang rusukku.’ Begitu pikiran August kali ini, dia sudah lelah berdebat dengan mami dan omanya.


“Itu disana Gust,” Oma menunjuk meja yang ditempati 4 orang perempuan. Dua perempuan tua sebaya omanya dan 2 adalah perempuan sangat cantik.


“Hai Stelle, kenalkan ini Stella cucuku,” ujar seorang teman oma.


“Hallo oma, salam kenal,” sapa seorang dengan rambut panjang yang digelung tinggi memperlihatkan leher jenjangnya yang putih. Tentu saja sebagai lelaki normal penyuka kegiatan ranjang hal itu menjadi daya tarik tersendiri. Tapi sekarang August sudah tak mau kembali ke lembah hitam. Dia tak akan mau menyentuh perempuan sebelum sah dimata agama.


“Hallo cantik, nama kita hanya beda satu huruf ya,” oma menerima uluran tangan gadis itu dan mencium pipinya. “Kenalkan, ini cucuku.”


“August.” August mengulurkan tangannya pada keempat perempuan disana.


“Kenalkan, ini salah satu model butikku,” Stella memperkenalkan teman yang dibawanya.


“Eliza.” Gadis cantik dengan rambut terurai mengulurkan salam sambil tersenyum manis.


Mereka makan siang dengan hangat. Walau August laki-laki sendirian, dia tak merasa terbebani. Dia masih bisa mengimbangi pembicaraan para ladies itu. “Oma-oma, maaf saya tidak bisa lama. Karena harus kembali ke butik. Ada konsumen yang sudah membuat janji untuk membuat baju pernikahannya,” Stella memberi tahu dia akan pamit duluan.


“Kalian tukar nomor telepon dulu, karena oma mau kalian segera bertunangan,” neneknya Stella memerintah cucunya memberi nomor ponselnya sebelum dia pergi.


“Bisa kamu sebut nomormu biar saya misscall?” tanya Stella tanpa bantahan. August menyebut nomor ponselnya dan Stella benar-benar melakukan panggilan ke nomor yang August sebut.


August melihat Stella dan Liz pergi sambil bergandeng tangan. “Oma, bisa saya tahu nama lengkap Stella? Nama butiknya? Dan dimana alamat butiknya?” tanya August. Walau bagaimana pun, dia tetap harus menyelidiki siapa perempuan yang dijodohkan dengannya itu.


“Stella Angelica Staney. Dia punya butik besar di jalan Wijaya Kesuma di jalan Mulawarman,Kebayoran Baru yang bernama STANEY BOUTIQUE dan ada butik cabang yang dia beri nama ROSE BEAUTY di jalan Nangka Rawa Mangun,” jelas si oma bersemangat.


August langsung mencari nama Stella dan dia dapat nama Stella Staney di laman yang dia cari. ‘Nanti kalau aku senggang akan aku stalking. Sekarang asal tahu dulu saja,’ pikir August.


***


“Lima bulan lalu, dokter Amrul  suami Ida kecelakaan. Dia sedang bersepeda santai dengan menggendong anaknya, dia hanya bersepeda di dalam kompleks perumahan dan saat kejadian juga masih di dekat rumahnya. Amrul dihantam sebuah mobil yang terlontar karena ditabrak truk. Badan si bayi yang terikat dalam gendongan didada Amrul utuh tapi organ dalamnya hancur sehingga anak tersebut meninggal on the spot masih didada ayahnya. Dan kondisi Amrul sendiri cukup parah, kakinya patah dan organ vitalnya hancur karena kena sadel sepeda. Itu alasan Ida mengatakan dia tak akan bisa punya anak lagi,” Rido memberi info tentang Ida saat ini. Amrul adalah seorang dokter THT yang terkenal di Lampung.


“Dan minggu lalu, baru di lakukan operasi lagi terhadap tulang kaki Amrul.” Jelas Rido lagi. Mereka hanya minum kopi karena keduanya sama-sama sudah makan malam.


“Mungkin itu yang membuat Ida tak datang mengunjungi anak-anakku lagi. Karena dia menjaga suaminya sebelum operasi hingga sekarang,” Syahrul menceritakan bagaimana anaknya depresi.


“Mengapa kamu malah tahu dari orang lain. Siapa dia?” Rido bertanya karena penasaran.


“Perempuan itu adalah ibu bagi anak-anakku. Mereka lebih percaya share dengannya dari pada denganku. Bahkan anak-anak bilang mereka tak mau bercerita padaku agar aku bahagia bila ingin rujuk dengan Ida. Tapi mereka tetap tak akan mengakui Ida sebagai ibunya. Ibu mereka adalah Laura.” Syahrul memberitahu fakta tentang Laura.


“Dia cantik, terpelajar, mapan, punya butik pribadi, memimpin sebuah panti asuhan balita dan masih single karena calon suaminya meninggal menjelang mereka menikah. Kekurangannya hanya satu,” Syahrul berhenti merasakan pedih mengingat satu kekurangan Laura.


“Apa kekurangannya Da, sehingga dia tak kau nikahi?” tentu saja dengan fakta yang disebut Syahrul, Laura tadi sudah menjadi perempuan idaman.


“Kekurangannya adalah DIA MENOLAK LAMARANKU. Aku sudah 8 bulan lalu melamarnya. Dan sampai saat ini dia tak menolakku apalagi menerima. Aku seperti jemuran belum kering! Digantung! Entah kapan dia akan mengangkatnya,” keluh duda keren itu. “Aku mencintai dia, bukan hanya karena anak-anakku menyukainya. Tapi karena memang dia perempuan idamanku.”


Masih ingat HARUN? Marketing Manager yang awalnya sering mendekati Vita? Sampai Fanny membuka percakapan kalau Harun sedang mendekati Vita. Sesungguhnya Fanny melakukan itu karena cemburu. Bagaimana tidak cemburu kalau dalam sejarah hidupnya Harun pernah menjadi tunangan Fanny? Cerita kelam itu tak pernah sekali pun Fanny ungkap pada sahabat-sahabatnya. Semua duka itu dia pendam sendiri. Awalnya dia ingin mengingatkan Vita agar berhati-hati terhadap Harun karena latar belakang keluarganya akan membuat Vita sakit hati seperti dirinya. Dia kasihan bila Vita menjadi korban keluarga Harun.


‘Please, sudah empat bulan aku di Jakarta dan tiga bulan kita satu kantor. Tapi kamu enggak pernah kasih Uda kesempatan untuk bicara. Uda janji, minta satu kali bicara sampai tuntas. Sesudah itu Uda tidak akan minta waktu lagi. Terserah bagaimana kamu akan bersikap setelah ini. Uda pasrah. Asal bisa bicara empat mata hingga tuntas,’ chat panjang Harun baru saja Fanny terima saat mereka ada dalam satu lokasi rumah makan. Harun dengan Karya, team marketingnya dan Fanny dengan empat sahabatnya.


“Kamu enggak belikan bigboss makan siang Jul?” tanya Fanny, karena mereka hampir selesai makan dan Julia tidak memesan makanan take away.


“Enggak. Tadi aku bawakan dia bekal makanan sehat,” jawab Julia santai.


“Dia nurut?” tanya Vita penasaran.


“Pasti lah. Dia pengen cepat sehat karena pengen antar aku ke Singapore,” Julia menjawab sambil mengeluarkan uang untuk membayar makan siang mereka. Mereka tiap hari makan bersama tapi bayar sendiri-sendiri. Itu prinsip mereka agar pertemanan mereka langgeng. Tak ada yang merasa lebih tinggi dari yang lain. Walau nanti hanya salah satu dari mereka yang ke kasir.


“What?”


“Gilaaaaaaa,”


”Seriusan?”


Sedang Fanny tak berkomentar hanya menutup mulutnya. Dia takut tak bisa menahan teriaknya mendengar Julia akan berlibur ke Singapore berdua Bastian.


\=======================================


Yanktie tunggu komen manisnya ya


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta