
HAI HAI KESAYANGAN YANKTIE
SEHAT SELALU YA, SELAMAT MEMBACA BAB KEDUA UNTUK HARI INI
“Ya sudah. Sekarang kita tidur yok. Besok A’a kan kerja,” jawab Julia singkat.
“Kalau besok A’a umumin pertunangan kita di kantor boleh enggak Yank?” tanya Bastian. Dia berpikir kan sehabis dari Singapore mereka akan menikah.
“Gimana kalau besok siang kita makan siang ama lima sekawan dan uda Harun. Habis itu biar mereka sebar foto tunangan kita. Jadi kita enggak usah umumin sendiri?” tanya Julia.
“Ya sudah. A’a mah ngikut aja,” jawab Bastian.
Julia langsung video call dengan lima sekawan dan Harun.
“Halloooooooooooo,” sapa Julia dengan gembira. Begitu Harun dan keempat kawannya telah bergabung.
“Kamu kemana aja? Kamu bikin bos uring-uringan. Bete kerja kalau dia seperti itu,” Harun langsung menegur Julia. Bukannya menjawab sapaan manis perempuan itu.
“Iya Jul, lakimu itu nakutin bila kerja enggak ada kamu. Semua yang benar pun ada aja salah dimatanya,” Fanny pun memberi komentar soal Bastian.
”Gimana kalau kalian langsung marah ama dia?” Julia langsung menggeser ponselnya agar Bastian yang sedang senyum-senyum terlihat oleh semua.
“Jiaaah, bisa senyum Bos?” goda Vita. Mereka sekarang memang sudah tak terlalu takut dan kaku pada Bastian.
“Kalau dia sudah ada disebelahku, pasti aku bisa senyum,” jawab Bastian lalu dia mengecup pipi Julia didepan kamera.
“Huuuuuuuu,” tentu saja semua langsung keqi melihat kelakuan Bastian seperti itu.
“Kita besok makan siang bareng yok?” ajak Julia sambil sengaja membalas mengecup pipi Bastian didepan kamera.
“Jul, jangan pamer deh,” Nia menjawab cepat melihat kelakuan Julia yang sekarang berani didepan mereka.
“Bener Nia, bikin kita bete aja,” balas Yuni.
“Udah, besok aku cerita kemana aja aku dua minggu ini. Dan asal kalian tahu, dua minggu ini rumah kalian dibawah pengawasan calon suamiku,” goda Julia.
“Maksudmu?” tanya Harun.
“Jawab A’, kenapa A’a ngawasin rumah mereka.” Julia meminta Bastian memberi alasan tindakannya.
“Aku mengira salah satu dari kalian menyembunyikan bidadariku,” jawab Bastian tanpa rasa bersalah.
“Jul, emang kamu kenapa dan ngumpet dimana sih?” tanya Vita penasaran.
“Udah, soal kenapanya, aku ceritakan besok saat makan siang. Kalian langsung bawa tas jangan cuma dompet. Karena kalian enggak balik ke kantor tapi langsung pulang. Besok makan siang karena boss kalian hari ini ulang tahun,” Julia memperlihatkan tart yang masih ada di meja.
“Selama ini aku sembunyi dirumah boss kalian. Dia enggak tahu kalau aku kerja sama dengan mama dan papanya,” lanjut Julia lagi.
“Asyiiiiiiik, besok kita pulang cepat,” seru Yuni dan Nia.
“Selamat ulang tahun ya Pak,” semua pun menyampaikan ucapan selamat ulang tahun untuk Bastian.
“Serius kamu nginep rumah pak Bastian tanpa dia tahu?” Harun terperangah mendengar fakta itu. Dan Bastian hanya tersipu malu.
“Ya udah, sampai besok siang ya. Besok pagi aku kasih tahu kita ketemuan dimana. Karena besok aku belum akan kekantor,” Julia mengakhiri pembicaraan group itu.
***
Melihat itu August berniat membelikan micro wave untuk istrinya.
“Mas, kerupuk ikan bisa makan enggak?” tanya Wulan. Ada beberapa kerupuk kakap yang kemarin disediakan oleh cattering.
“Enggak apa-apa Sweety, cuma udang aja,” balas August. Pria itu sedang merapihkan barang yang dari apartemennya di Jakarta. Tentu semua barang pribadinya.
“Ini list alat yang akan kita beli. Jadi saat Mas ingat butuh sesuatu, Mas langsung tulis sini ya,” Wulan memberitahu August tentang kertas yang dia tempel dipintu kulkas.
“Trus ini list tentang bahan makanan yang ingin kita beli,” kembali Wulan memberitahu kertas lain yang juga dia tempel. Dia lalu selonjoran disofa. Betisnya terlalu lelah.
“Cape banget ya Sweety?” August mendekati Wulan dan memijit lembut betis istrinya.
“Lumayan Mas. Biasanya enggak pernah sampe kaku seperti ini,” balas Wulan sambil sesekali meringis karena merasakan sedikit sakit.
“Diam dulu,” August masuk kekamar mereka untuk mengambil sesuatu.
“Semoga bisa berkurang kejang kakimu,” dengan lembut August mengurut betis istrinya dengan minyak zaitun. Tadi ketika dari kamar dia mengambil kertas yang Wulan tempel di pintu kulkas. Dia juga memberi Wulan alat tulis.
“Tambahkan di list, minyak zaitun, karena ini tinggal separo. Trus cream yang buat cegah apa itu diperut dan paha ibu hamil, trus juga tambahkan sandal jepit buat halaman belakang. Trus dingklik ( kursi kecil ). Trus gantungan baju, selang taman depan dan belakang biar enggak perlu repot pindah-pindahin,” Wulan mencatat semua yang suaminya katakan sambil merasakan tangan August yang sedikit membantu menghilangkan sakit dibetisnya.
‘Dia sampai memikirkan cream pencegah kulitku rusak karena kehamilan ini,’ batin Wulan speechless.
“Butuh ember enggak Sweety?” tanya August.
“Perlu banget Mas. Ember buat penampung air masak. Ember buat tempat cucian kotor. Buat cuci mobil. Sama tempat beras ya Mas?” Wulan mencatat benda yang dia butuhkan itu.
“Maaf, bisa dengan bagian punggung telapak kaki enggak Mas?” Wulan merasa betisnya cukup diurut. Tak enak dia memerintah suaminya. Tapi kan yang tadi mengawali adalah August.
“Kalau masih cape, besok jangan masuk kuliah dulu ya? Apa ada ujian?” tanya August sambil memijat punggung telapak kaki yang diminta Wulan.
“Besok cuma ada satu mata kuliah koq Mas. Enggak lama. Aku berangkat sendiri aja ya. Cuma 90 menit belajarnya,” jawab Wulan. Dia tak ingin banyak ketinggalan pelajaran.
“Mas antar dan Mas tungguin kamu belajar. Mas bisa sambil kerja di mobil waktu nungguin kamu,” jawab August.
“Kerja apa?” tanya Wulan penasaran. “Ya promo, ya njawab email order atau hal lain,” jawab August santai.
“Koq pilot pakai promo?” tanya Wulan masih bingung. Serius dia bingun mengapa seorang pilot harus melakukan promo.
“Bukan itu sayank. Studio foto kan punya Mas. Jadi ya Mas harus promoin dan ngejawab tentang order masuk. Mas kan juga enggak ingin terbang terus. Jadi sebelum berhenti muda atau sebelum pensiun nanti, harus sudah ada usaha.” jawab August menerangkan tentang apa pekerjaan sampingannya pada istrinya.
Wajar mereka saling memberitahu, karena memang mereka belum saling mengenal. Mereka akan selalu berbagi info sedikit demi sedikit.
“Dan perusahaan papi juga harus mulai Mas pegang. Kemarin saat Mas minta izin menikah, papi memberi syarat, harus siap menjadi pemimpin perusahaan yang masih papi pegang,” balas August.
“Kalau Mas pegang perusahaan papi, artinya Mas harus lebih banyak di Jakarta?” tanya Wulan. Dia walau sudah lulus kuliah nanti rasanya malas kalau harus pindah ke Jakarta.
================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta