TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
TAK PERCAYA DIRI



BERTEMU LAGI DI DOUBLE UPDATE HARI INI.


SEMOGA SEMUA SUKA. SELAMAT MEMBACA DAN SALAM MANIS DARI SEDAYU-JOGJAKARTA



“Ade makan siang dulu De,” Laura menyiapkan bubur oatmeal dengan campuran susu untuk makan siang Syahrul. Syahrul sama sekali tak mau makanan dari rumah sakit. Dan rombongan orang rumah belum tiba karena kejebak macet. Maka terpaksa Laura memberi Syahrul bubur oatmeal sussu.


“Sarapan dulu ya, biar cepat pulih dan bisa segera pulang. Eh koq sarapan. Makan siang dulu,” Laura bersiap menyuapi Syahrul.


Syahrul hanya diam tak membuka mulut. Dia memandangi wajah cantik Laura. “Kamu be neran eng gak akan ting galin A bang?”


Laura mendengar kata-kata yang diucap pelan oleh Syahrul. Lelaki itu masih sulit bicara, kemarin dokter bilang memang butuh waktu dan terus teraphy saat memberitahu hasil CT scan.


Dan pagi tadi dokter jiwa yang mendatangi Syahrul sebagai teman lama berbincang dengan Syahrul. Laura membiarkan mereka berbincang berdua saja. Dia ingin Syahrul bisa mengeluarkan semua bebannya.


FLASH BACK ON


”Hai Rul, Jangan betah jadi pasien. Cepet sembuh biar kita bisa ngopi bareng diruangan,” dokter Krisna yang ‘tak sengaja’ mampir bicara dengan Syahrul yang baru saja selesai makan.


Laura membuatkan secangkir kopi bagi dokter itu lalu dia duduk dekat Fahri diruang tamu kamar ini.


Dokter Krisna melihat Syahrul selalu mengawasi Laura dengan saksama seakan takut bila gadis itu meninggalkannya.


“Maaf Bu, bisa tambah sedikit gula,” tanya dokter Krisna pada Laura sambil membawa cangkir gelas kopi miliknya.


“Pura-pura saja, manisnya sudah cukup. Habis ini Ibu coba tunggu di luar ruangan ya, saya mau uji Syahrul,” bisik dokter Krisna pada Laura.


“Kurang manis ya Dok. Biasa Abang segitu gulanya,” Laura menerima cangkir kopi dan dia bawa ke meja tempat racikan gula dan makanan instant tersimpan.


“Iya Ma?” Laura menjawab telepon yang masuk dan sengaja keluar ruangan seakan sedang bicara dengan Claudia.


“Itu istrimu?” tanya dokter Krisna pada Syahrul.


“Ca lon,” jawab Syahrul. Lalu Krisna mengajak Syahrul “bercerita”.


“Ini aku kasih pegang ponsel ya. Kamu sulit bicara jadi jawab ceritaku pakai tulisan aja,” dokter Krisna tahu Syahrul sulit bicara.


Akhirnya Syahrul bilang kalau dia “mendengar” tentang mantan istrinya yang mau ambil anak-anaknya. Lalu mantan istrinya juga berniat memisahkan anak-anak dengan Laura. Dia mendengar Laura ada yang melamar. Syahrul sangat takut Laura meninggaalkan dirinya.


Dulu saat berpisah dengan mantan istri dia terluka sendirian. Tapi sekarang bila Laura meninggalkannya anak-anaknya juga akan ikut terluka. Jadi beban Syahrul semakin berat. Dia pasti akan sedih melihat kedua anaknya terluka.


“Apa dulu waktu mantan meninggalkanmu, anak-anak tak terluka?” tanya dokter Krisna.


‘Mereka masih kecil. Dan mereka tak merasa terluka. Kehilangan saja tidak karena Ida tak pernah peduli dengan anak-anak. Beda dengan sekarang. Mendengar Laura dilamar orang saja anak-anakku terluka. Itu artinya aku beban terluka tiga kali.’ jawab Syahrul melalui ponsel.


“Apa maksudmu tiga kali?”


‘Beban luka dua anakku dan beban lukaku semua itu harus aku tanggung ‘kan? Bukankan itu tiga kali?’ jawab Syahrul.


“Dia sangat mencintaimu. Kalau kamu tak percaya diri dan tak percaya cintanya kamu akan lebih terluka. Kamu tahu, dia tak pernah pulang selain beberapa kali izin pada petugas rumah sakit. Dia tak peduli pekerjaannya untuk menungguimu. Kenapa kamu ragu?” Krisna berupaya membangkitkan rasa percaya diri Syahrul


‘Kondisiku seperti ini. Apa yang bisa diharap lagi? Aku enggak yakin akan bisa normal berjalan dan bicara lagi. Mana mau dia dengan orang cacat tak ada masa depan?’ keluah Syahrul putus asa.


“Sekarang aku pamit dulu, ada jadwal visite keruangan. Besok kita ngobrol lagi,” Krisna pamit pada Syahrul.


***


“Pada intinya bangkitkan rasa percaya dirinya. Jujur dia sangat tidak percaya diri dengan kondisinya sekarang. Sulit bicara dan retak kaki yang dia pikir tak akan bisa pulih berjalan lagi,” Krisna bicara dengan Laura dan Anjas di teras ruang rawat.


“Kemarin dokter syaraf bilang dia akan bisa bicara normal lagi asal rajin teraphy. Dan dokter tulang juga bilang retak kakinya tak serius dan tak perlu ada operasi, hanya menunggu gibsnya buka memang agak lama karena usia koq Dok,” Laura memberi keterangan tentang kondisi Syahrul yang dia ketahui.


“Fisiknya seperti itu. Tapi jiwanya rapuh. Dia sedang dititik terendah. Dia sangat butuh lingkungan hangat kasih sayang. Dia mudah tersinggung karena merasa tak mampu. Jadi memang semua harus terlibat menciptakan kondisi warm untuk jiwanya,” jelas Krisna lagi.


“Besok saya akan kembali. Ini resep untuknya,” Krisna memberikan resep pada Laura.


“Baik Dok. Terima kasih,” Laura menerima resep dan nanti akan menyuruh Gerry ke apotek didepan.


“Sini biar Papa dan Fahri aja yang ke apotek. Kamu temani Abang agar tidak rewel," Anjas mengambil alih resep dan mengajak cucunya kedepan.


FLASH BACK OFF


“Abang sayang aku enggak? Cinta aku enggak?” Laura balik bertanya. Saat tadi Syahrul bertanya apakah benar gadis itu tak akan meninggalkan dirinya.


“Cin ta,” jawab Syahrul.


“Kita emang baru dua minggu resmi jadian saat Abang kecelakaan. Tapi aku enggak main-main terima cinta Abang. Satu tahun aku melihat kesungguhan Abang. Dan selama itu aku sudah mencintai Abang walau belum aku sampaikan,” Laura memberitahu Syahrul tentang isi hatinya.


“Kalau Abang enggak bisa percaya sama aku. Kalau Abang enggak yakin cinta ama aku. Aku nyerah. Aku akan mundur dan tinggalin Abang,” Laura sengaja menjeda kalimatnya.


“Tapi kalau Abang bisa percaya cintaku tulus. Abang harus yakin aku enggak akan tinggalin Abang apa pun yang terjadi. Aku urus Abang bukan karena kasihan, aku urus Abang karena aku cuma cinta Abang. Ngerti enggak?” tanya Laura dengan air mata yang siap jatuh. Dia pandangi mata Syahrul dalam-dalam. Laura sangat sedih mengetahui kekasihnya sangat depresi.


“Ja ngan na ngis,” Syahrul mengusap air mata dari pipi Laura. Dia menarik gadis itu agar bisa dia peluk.


“Kalau Abang enggak suka aku nangis, Abang enggak boleh raguin cinta aku. Bukan dua minggu jadian yang jadi tolok ukur keseriusan cinta kita,” bisik Laura dalam dekap hangat Syahrul.


“Iya. Aku per ca ya,” Syahrul makin mempererat pelukannya.


“Sekarang makan ya. Mommy ingin Daddy cepat sembuh,” Laura kembali ingat bahwa Syahrul harus makan siang.


“I love you Mom,” Syahrul sengaja mengucap kata cinta sebelum membuka mulutnya untuk menerima suapan bubur dari Laura.


“I love you too Dadd. Jangan pernah merasa sendirian. Kami mencintaimu,” balas Laura.


=================================================================== 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta