TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
KATAKAN SAJA DIA ANAKKU!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


***Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta  ***


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


August baru saja sampai rumahnya. Dia bingung sendiri atas langkah yang dia ambil siang tadi di Bandung. Awalnya dia ke Bandung hanya ingin mengantarkan oleh-oleh yang dia beli untuk Wulan. Tak pernah dia sangka dia langsung bertindak diluar perkiraan.


‘Ada dorongan untuk langsung bertindak saat dia mengatakan akan bilang kalau suaminya ada di luar pulau. Aku merasa tak rela dia jadi milik orang lain. Walau orang lain itu hanya semu saja,’ batin August.


Siang tadi August sudah membulatkan tekad menikah dengan Wulan. Perempuan cantik yang sedang hamil. Perempuan tegar yang tak surut semangat untuk maju walau nasib buruk mengujinya. Besok dia berniat memberitahu mami dan papinya. Kali ini dia tak mau untuk ditentang. Bila mereka tak setuju, dia akan tetap menikahi Wulan.


Flash back on


”Wonten menopo Paklek?” tanya Wulan pada pamannya. Dia melihat wajah sang paman sangat kuyu. [ Wonten menopo Paklek \= ada apa paman ].


“Apa kamu tahu nasib Rita dan Rubby?” tanya Suparman pada Wulan. Rita adalah putri sulung sang paman yang saat ini hamil tiga bulan tanpa tahu siapa ayah biologis anak dalam perutnya itu. Sedang Rubby anak kedua yang diperkosa beberapa anak nakal sehabis dugem di club malam.


“Pernah ada yang cerita ke Ndari Paklek. Ndari turut berduka atas kejadian itu,” jawab Wulan tenang. Untung dia sudah tahu lebih dulu.


“Jadi Nduk, sejak Paklek tahu kejadian yang menimpamu, Paklek langsung menjatuhkan talak pada bibimu. Paklek langsung keluar dari rumah itu dan tinggal disini. Surat cerai sudah jadi sebulan lalu persis saat kejadian Rubby diperkosa.” Suparman menceritakan kisah rumah tangganya dengan Asih mantan istrinya.


“Saat dapat khabar tentang kasus perkosaan Rubby, Paklek datang ke rumah. Disana Paklek baru tahu kalau Rita sedang hamil dan tak tahu siapa ayah bayinya. Paklek yakin itu karma untuk bibimu karena sudah jahat padamu anak yatim piatu. Tapi Paklek sedih karena biar bagaimana pun mereka anak kandung Paklek. Sekarang Paklek sedang kepikiran si bungsu Riesty. Dia baru kelas 3 SD. Ibunya stress, kedua kakaknya juga enggak benar,”  Suparman menarik napas berat.


“Paklek manggil kamu mau minta tolong. Apa dipanti asuhan itu menerima anak usia Riesty? Karena Paklek tidak bisa membawa dia di bengkel,” akhirnya Wulan tahu tujuan pakleknya memanggil dia untuk bicara.


“Maaf Paklek. Panti itu hanya terima bayi sampai usia lima tahun. Tapi selama ini enggak ada yang sampai usia lima. Biasanya tiga tahun juga sudah ada yang adopsi. Kalau anak usia sekolah enggak terima,” sahut Wulan.


“Apa enggak ada kerabat bibi yang bisa dititipi?” tanya Wulan.


“Bibimu itu terlalu sombong dan sering menghina keluarganya, maka saat dia sedang sulit seperti sekarang, tak ada yang mau menolong.” sahut Suparman.


“Kalau ditaruh dipanti, sekolah juga harus pindah Paklek. ‘Kan harus cari sekolah yang dekat panti. Nanti aku tanya bu Laura, panti mana yang bisa terima Riesty,” sahut Wulan. Dia tak tega pada adik sepupunya itu. Tentu makan pun tak ada yang urus.


“Sekarang tiap hari Paklek datang ke sekolah antar nasi 3 bungkus untuk Riesty. Makan pagi, siang dan malam satu kali kirim,” seakan mengerti pikiran Wulan, sang paman memberitahu kalau dia masih memperhatikan makan anak bungsunya.


“Paklek enggak akan lepas tanggung jawab. Tetap akan membayar uang sekolah dan makan buat Riesty selama di panti nanti. Di panti dia akan lebih terjaga dari pada dirumah campur tiga perempuan dewasa yang tidak peduli pada dirinya,” Suparman memberitahu soal biaya hidup Riesty.


“Maaf mengganggu,” akhirnya August pun ikut bicara. Sejak tadi dia hanya duduk membelakangi Wulan dan pamannya.


“Pekenalkan, saya August, orang dekatnya Ndari,” dengan percaya diri August memperkenalkan dirinya pada pamannya Wulan.


“Kamu datang dengan dia Nduk?” tanya Suparman bingung.


“Injih Paklek, sekalian Mas August ganti oli mobilnya,” jawab Wulan sambil menunduk.


“Kalau dia tidak bisa dirumah selama Paklek kerja, ya sepulang sekolah biar Riesty di bengkel, istirahat di kamar yang biasa Paklek gunakan. Nanti pulang bersama Paklek lagi setelah jam kerja Paklek selesai. Itu lebih bagus daripada dia ditaruh di panti,” August memberi saran untuk Suparman.


‘Iya juga ya, kenapa aku enggak berpikir seperti itu,’ Wulan menyadari saran August benar.


“Wah terima kasih sarannya. Saya terlalu sedih melihat Riesty sehingga tak terpikir seperti itu,” pamannya Wulan langsung berbinar mendapat pencerahan dari August.


***


“Terima kasih saran buat Paklek tadi ya Mas. Kasihan Riesty. Masih kecil harus tersingkir karena kelakuan ibu dan dua kakaknya,” Wulan sejak tadi sudah memanggil Mas untuk August. Karena saat berbincang dengan pakleknya tadi berkali-kali menyebut Mas didepan sang paman. Tak mungkin dia menyebut Pak seperti biasa.


“Biasa orang yang sedang menghadapi suatu persoalan itu tak bisa berpikir jernih. Dia fokus terhadap kesulitannya, bukan fokus mencari solusi. Kita orang luar bisa segera melihat banyak celah yang bisa diambil. Itu saja poinnya mengapa saya bisa lihat jalan keluar yang mudah bagi persoalan pamanmu itu,” sahut August.


Kali ini tanpa minta persetujuan August melajukan mobilnya ke rumah makan.


“Bagaimana kandunganmu? Usia berapa sekarang?” tanya August saat mereka sedang menunggu pesanan datang.


“Dia baik, berat dan panjangnya normal. Usianya sekarang 18 minggu,” sahut Wulan. Dia cukup senang ada yang menanyakan perkembangan janinnya.


“Maaf. Apa dikampus tidak ada temanmu yang curiga kalau kamu hamil?” tanya August.


“Sampai saat ini belum. Tapi bila ada yang tanya, saya akan bilang benar saya hamil dan suami sedang dinas di luar pulau,” jawab Wulan santai. Dia memang sudah mempersiapkan jawaban itu bila ada yang tanya siapa bapak bayi yang dia kandung.


“Jangan! Katakan saja dia anakku!” sahut August tanpa ragu.


“Jangan ngaco,” Wulan tak mau merepotkan siapa pun. Nanti dia malah repot bila mengaku August adalah ayah bayinya. Bagaimana bila kekasih August marah dan melabraknya? Dia tak mau tambah hutang budi pada lelaki ini.


“Aku serius. Apa kita harus menikah dulu agar kamu mau bilang akulah ayah bayi itu?” August tak main-main dengan pernyataannya tadi. Dia pun sudah merubah kata saya menjadi aku.


“Saya mau pulang,” Wulan langsung berdiri. Dia bingung dengan pernyataan August barusan. Tapi dia tak bisa melanjutkan langkahnya karena tangannya dicekal lelaki tampan itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sambil nunggu Yanktie update bab berikut, coba mampir ke cerita milik teman baik yanktie ini ya.


Napennya : MINNAMI


Judul cerita : MY BEAUTIFUL VENUS


Cerita singkatnya seperti ini :


Virendra Aryan, seorang Jenderal yang begitu tampan, pintar dan tegas. Sosoknya yang mempesona membuat banyak kaum hawa menyimpan kagum padanya.


Namun, siapa yang menyangka keputusan sang Jenderal yang ingin menikahi gadis muda berusia 18 tahun.


Akankah kisah mereka berakhir bahagia atau justru berakhir tragis mengingat sosok Jenderal Virendra yang memiliki banyak musuh?