TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
DIA TAK MENGANGGAPKU ADA



YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Julia membuka satu persatu kardus belanjaannya, setiap barang langsung dia beri kode harga dan type sesuai dengan kuitansi pembelian ditambah biaya operasional yang dia keluarkan dan juga keuntungan yang ingin dia peroleh.  Sampai sore dia baru selesai. Lalu dia berhenti dan bersiap pergi ke rumah sakit, karena dia ingin menengok kedua pacarnya. Sengaja dia memilih sore karena walau di ruang VVIP, dia ingin datang di waktu jam kunjung saja. Julia pun sudah membulatkan hati, tak akan gentar bila bertemu dengan Bastian. Dia tak ingin bertanya di mana keberadaan mantan bosnya itu saat ini. Dia bertekad akan menghadapi masalahnya, bukan menghindarinya. “Assalamu’alaykum,” sapa Julia saat mendengar ketukannya mendapat jawaban : “Masuk!”


Julia memberi salim pada pak Achdiyat yang sedang duduk di sofa menonton berita, lalu dia menghampiri bu Adi serta memberi salim serta memeluk juga mencium pipi ibu yang sudah lama dekat dengan dirinya sebelum dia mengenal Bastian. “Aunty,” lirih Guntur memanggilnya sementara Topan sedang tertidur. Julia meletakkan puding yang dia bawa untuk Guntur dan Topan lalu dia mendekat pada brankar Guntur.


“Assalamu’alaykum sayangnya Aunty,” sapa Julia lalu mencium pipi dan kening Guntur dengan penuh kerinduan.


Guntur memeluk Julia dengan satu tangannya karena tangan lainnya diinfus. “Wa’alaykum salam,” jawab Guntur.


“Jangan sakit dong, sudah maem?” tanya Julia dengan penuh kelembutan. Guntur hanya menjawab dengan gelengan sambil matanya terus menatap wajah Julia. Seakan dia takut Julia akan meninggalkannya kembali. Julia memperhatikan meja di dekat brankar dan di lihatnya ada ransum pasien berupa bubur yang masih tertutup plastik rapat.


“Maem sama Aunty ya,” tanpa menunggu jawaban dari Guntur, Julia membuka plastik penutup dan mulai menyuapi Guntur. Dan hebatnya, Guntur membuka mulutnya tanpa rewel apalagi menolak.


“Aunty,” sudah cukup banyak bubur yang Guntur makan saat Topan memanggil Julia. Julia segera menghampiri Topan, mencium kedua pipi dan keningnya.


“Hallo gantengnya Aunty,” sapa Julia dengan lembut pada Topan. “Aunty menyelesaikan menyuapi Guntur, sehabis itu kamu juga maem ya?” dan sama seperti Guntur, Topan juga tidak menolak. Dia menjawab dengan anggukan dan sebelumnya memegang erat jemari Julia.


Selesai sudah Guntur dan Topan makan. Walau tidak habis satu porsi, tapi hampir habislah. Dan itu kemajuan sangat besar, karena biasanya mereka makan tak sampai setengah porsi. Itu pun dengan perang dunia dulu dengan aki, nini dan unclenya!. “Sekarang kalian minum obat dulu biar cepat sehat sehingga bisa pulang ke rumah. Atau kalian ingin tidur lama di rumah sakit?” tanya Julia.


Bastian POV


Aku terlalu lelah membujuk dua jagoan kecilnya apa’. Mereka sulit dibujuk makan apalagi minum obat. Sore ini Guntur baru bangun dan Topan masih terlelap saat aku dengar pintu diketuk.“Masuk,” jawabku malas. Tak ada kunjungan dari siapa pun karena kami sengaja tidak memberi tahu tentang sakitnya si kembar. Yang mengetuk pintu biasanya hanya perawat yang akan mengantar obat atau makanan atau resep baru bagi kedua keponakanku itu.


 “Assalamu’alaykum,” ku dengar suara yang selalu kurindu. Aku segera menoleh kearah pintu. Oh my God, gadis itu benar-benar ada di ruangan ini. Dia melangkah tanpa ragu. Menghampiri  apa’, memberi salim. Lalu dia menghampiri mamah, memberi salim dan menciumi mamah seakan dia merindunya.


“Aunty,” lirih ku dengar Guntur memanggilnya. Aku yang duduk di brankar Guntur tentu juga ingin dia menyapaku seperti dia menyapa mamah dan apa’. Namun dia tak menoleh padaku, walau aku tahu dia pasti melihatku.


“Assalamu’alaykum sayangnya Aunty,” aku dengar Julia menyapa Guntur dengan lembut lalu mencium pipi dan kening Guntur. Aaaaaah aku ingin pelukan dan kecupan itu.


Aku lihat Guntur memeluk Julia dengan susah payah karena satu tangannya diinfus. “Wa’alaykum salam,” jawab Guntur sangat pelan.


“Jangan sakit dong, sudah maem?” masih aku perhatikan interaksi keduanya. Pertanyaan  Julia  hanya dijawab Guntur dengan gelengan. “Maem sama Aunty ya,” tanpa menunggu jawaban dari Guntur, Julia membuka plastik penutup dan mulai menyuapi Guntur. Dan hebatnya, Guntur membuka mulutnya tanpa rewel apalagi menolak.


“Aunty,” belum selesai Guntur makan, Topan memanggil Julia. Julia segera menghampiri Topan, mencium kedua pipi dan keningnya. Aah …, lagi-lagi aku iri pada kedua keponakanku itu.


“Hallo gantengnya Aunty,” aku dengar Julia menyapa Topan dengan lembut. “Aunty menyelesaikan menyuapi Guntur, sehabis itu kamu juga maem ya?” Sama seperti Guntur, Topan juga tidak menolak. Dia menjawab dengan anggukan.


Fantastis!  Guntur dan Topan makan dengan mudah dan tak ada penolakan. Walau tidak habis satu porsi, tapi hampir habislah. Apa karena yang menyuapi adalah bidadari? Aku juga mau disuapi olehnya. Tangan itu bahkan sering menyuapiku tanpa sendok. Aku rindu momen-momen manis itu.


Bastian POV end.


Bu Adi langsung membasuh badan Guntur dengan waslap yang dibasahi air hangat saat Julia menyuapi Topan. Ada rona haru di wajah cantiknya. Kehadiran Julia bisa merubah perilaku kedua cucunya. Yang awalnya selalu rewel untuk makan, begitu disuapi Julia mereka tidak menolak sama sekali. Selesai dibasuh bu Adi langsung menggantikan baju Guntur.


‘Andai saja Bastian tak membuatnya marah,’ pak Achdiyat hanya bisa membatin melihat Julia dengan telaten menyuapi kedua cucunya.


“De’ siapkan air hangat untuk mbasuh Topan,” perintah bu Adi pada Bastian. Dia sendiri selesai memakaikan baju Guntur langsung melipat baju kotor Guntur dan menyimpannya di kantong plastik untuk di bawa pulang oleh pegawai yang setiap pagi dan sore bergantian datang membawa baju untuk mereka berlima serta makan untuk dirinya dan suami. Bastian kadang makan diluar, karena sesekali dia harus lari ke kantornya.


“Kalian apa senang tinggal di rumah sakit? Tadi Aunty tanya kalian belum njawab lho,” tanya Julia sesudah kedua pacarnya minum obat.


“Aku mau cepat pulang!” jawab Guntur.


“Mau pulang,” jawab Topan.


“Fine, kalian harus banyak makan dan mau minum obat bila memang ingin cepat pulang. Sebentar lagi Aunty akan menyuapi kalian satu cup puding, sesudah itu kalian tidur ya?” Julia memberi motivasi pada Guntur dan Topan.


“Kalau kami tidur, apa Aunty akan meninggalkan kami?” tanya Topan was-was.


“Aunty akan pulang, bukan meninggalkan kalian. Besok Aunty akan datang lagi. Tapi bila Aunty dengar kalian sulit makan dan minum obat, Aunty tak akan datang menjenguk kalian,” tegas jawaban yang Julia berikan walau tetap lembut dan penuh senyum.


“Promise?” tanya Guntur.


“Keep my promise!” jawab Julia dengan mengangguk. Dia mengulurkan kelingkingnya pada Guntur untuk ditautkan. Sesudah kelingkingnya dilepas Guntur dia juga memberi kelingking pada Topan dan mendapat tautan kelingking darinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sambil nungggu yanktie update bab baru, baca cerita milik teman yangktie ini yaaaaaa


judul cerita SENJA DIUJUNG JALAN  penulis SAMY NOER  pastinya hanya di NOVELTOON/MANGATOON ya


 cerita singkatnya seperti ini :


Blurb


Ismawati namanya usianya sudah menginjak 34 tahun namun belum juga menikah. Karena sebuah janji yang membuat Isma masih setia menunggu cinta pertamanya meski tak pernah ada kabar. Disaat dirinya mencoba mencintai pria lain, cinta pertamanya datang kembali.


Januari pernah kembali untuk menemui Isma cinta pertamanya. Namun kenyataanya wanita itu akan menikah dengan pria lain. Merasa hancur akhirnya dia pergi tanpa mencari kebenarannya dulu.


Kebenaran terungkap, Januari ingin meraih kembali cinta pertamanya. Namun dirinya ragu akankah Isma mau menerima keadaan fisiknya yang tak lagi sempurna?


Akankah cerita cinta mereka akan kembali bersatu di saat Isma mencoba mencintai pria lain?