
Bastian memandangi rombongan tour yang diikuti Julia. Namun tak ditemui kekasihnya. Karena penasaran dia langsung mendatangi seorang tour leader yang menggunakan name tag dari biro perjalanan itu. “Maaf, apa Julia Bestari Prawira ada dalam rombongan anda?”
“Sebentar ya Pak, saya cek dulu,” jawab lelaki gemulai yang ditanya Bastian.
‘Ya ampyuuuuuuuuun, ni lekong ganteng bangeeeet.’ batin lelaki itu. Mbak Julianya ada dalam daftar rombongan, tapi dia tidak langsung pulang bersama kami Pak.”
“Dia lanjut ke mana?” tanya Bastian yang kaget mendengar Julia tak langsung pulang bersama rombongan tour wisata yang dia ikuti.
“Kalau soal dia lanjut ke mana kami tidak tahu karena sudah bukan wewenang kami.”
Bastian langsung putus asa mengetahui hal itu. Ingin rasanya dia menangis dan menjerit bila dia tak malu. Ke mana ya Julia pergi, kasian Akang Tian nyariin. Rupanya dari Bangkok Julia tidak akan langsung pulang ke Jakarta dengan rombongan tour, dia kembali ke Singapore.
Flash back on
’Besok aku sampai di Changi jam 9 pagi ya, kamu siap di sana untuk ambil koperku. Biar aku wisata enggak kebanyakan bawaan,’ saat akan berangkat tour Julia mengirim chat pada sepupunya yang memang tinggal di Singapore.
‘Siap cantikku,’ balas sepupunya. Dan sekarang dari Bangkok Julia juga minta jemput di bandara agar tidak nyasar di negara berlambang singa itu.
Flash back off.
“Jadi gimana?” tanya Dade Dharmawangsa pada Julia yang baru masuk ke mobilnya. Dade adalah anak dari kakak tertua bubu.
“Aku ingin jual barang-barang dari Singapore. Nanti selanjutnya aku langsung belanja online setelah besok berkenalan dengan owner toko di sini. Dan aku alamatkan ke apartemenmu. Jadi aku tidak merepotkanmu untuk belanja. Setelah terkumpul agak banyak, Akang kirim ke Jakarta. Aku akan sharing keuntungan untukmu karena sudah membantu menjadi tenaga packing dan kirim barang,” jelas Julia tegas. Dia sudah mantap dengan jalan yang ingin dia lakukan. Itu sebabnya dia berani resign dari kantor.
“Mengapa harus dikumpulkan ke alamatku? Mengapa tidak langsung dikirim oleh toko ke alamatmu di Jakarta?” tanya Dade.
“Cost nya terlalu tinggi bila semua toko mengirim langsung ke alamatku. Barang yang berat di bawah 1 kg tentu tetap kena charge ongkir 1 kg. Kalau diakumulasi, itu tidak bagus untuk profitku. Margin profit yang aku ambil tidak besar karena aku harus bersaing dengan pedagang yang modalnya besar. Mereka tentu mendapat harga lebih murah karena belanja kodian. Tentu beda dengan aku yang belanja eceran,” Julia menjabarkan alasannya.
“Oke. Aku akan bantu kamu dengan 1 syarat,” jawab Dade lugas. Dia sangat menyayangi nyainya ini. Di keluarga Dade, panggilan kesayangan Julia adalah “nyai” , karena 5 anak uwaknya semua lelaki. Sejak kecil Julia adalah princess di keluarga uwaknya.
“Apa syaratnya Kang? Kalau aku mampu akan aku penuhi,” sahut Julia lirih. Dia tak menyangka kakak sepupunya meminta syarat untuk membantunya.
“Syaratnya gampang koq. Kamu pasti bisa memenuhinya,” jawab Dade santai.
“Sok apa atuh?” Julia jadi menggunakan dialek Sunda.
“Kamu tak boleh membayar fee keuntungan untukku. Kalau kamu tolak, aku juga menolak membantu usahamu,” jawab Dade sambil memarkirkan mobilnya ke rumah makan di dekat apartemennya.
“Tapi aku akan sering merepotkanmu Kang,” protes Julia. Dia tak ingin kakaknya terganggu.
“Ya sudah, itu syaratku untuk membantumu. Take it or leave it.”
Sudah seminggu sejak Ilyas kembali dari Bogor. 3 hari lalu Namira melaporkan pada Novia, kakaknya kalau surat pindah sekolah Nindiya sudah selesai. ‘Suruh Namira membereskan barangnya dan minta tolong bibik serta mang Kusen membantu Namira keluar dari rumah kontrakannya. Lusa aku pulang ke Bogor,’ Ilyas mengirim chat kepada kakaknya. Dia tak berani langsung telepon ke Novia karena takut mengganggu sang kakak di sekolah yang dipimpinnya.
‘Pagi ini Namira dan anak-anak sudah tidur di rumah. Bibik akan menemani tidur malam ini di kamar karena dia tidak enak bila tak ada bibik,’ itu chat yang siang ini diterima oleh Ilyas. Rencananya sore nanti sehabis praktik dia akan meluncur ke Bogor. Dan besok pagi baru kembali ke Bandung.
‘Nuhun Teh,’ jawab Ilyas singkat karena dia sedang ada pasien. Dia menyampaikan terima kasih pada sang kakak yang membolehkan Namira menginap di rumahnya mulai malam ini. Sebenarnya tanpa ditemani bibik juga tidak apa-apa, karena malam ini dia akan sampai Bogor.
Menjelang Maghrib Ilyas sudah sampai di rest area. Dia berhenti dulu menunggu waktu salat sambil memesan kopi dan memakan pisang goreng hangat yang tersedia di salah satu kedai di rest area ini. ‘Sesungguhnya aku bingung, apa alasannya jatuh iba pada Namira? Apa karena pelukan Ilham dan mata beningnya saat dia menatapku?’ Ilyas yang biasa menatap bayi-bayi di panti milik Laura sedang berpikir mengapa tanpa pikir panjang langsung memutuskan akan membawa Namira, Ilham dan Nindi ke Bandung. Dia merasakan ada debar tersendiri saat melihat mata bening ilham. Itu tak pernah dia rasakan saat memeluk semua pasiennya. Bahkan dengan bayi Yara yang dia beri nama singkatan namanya dengan Laura. Bukan kecantikan Namira yang mendorongnya menolong perempuan itu. Apalagi karena derita yang dialami oleh perempuan itu. Bukan itu. Tapi karena mata bening ilham.
Pukul 21.34 Ilyas telah selamat memarkirkan mobilnya di jalan depan rumah ibunya. Garasi rumah itu hanya cukup dua mobil dan dipakai untuk mobil Novia dan Kusdi suaminya. “Assalamu’alaykum,” Ilyas menyampaikan salam saat masuk rumah yang dibukakan pintu oleh Novia. Sang bibik sudah masuk kamar depan bersama dengan Nindi dan Namira. Ilyam mencium tangan sang kakak dengan takzim.
“Wa’alaykum salam. Kamu mau kopi atau teh?” tanya Novia. Sementara Ilyas menghampiri kakak iparnya yang sedang asyik menonton berita di televisi. Dengan santun Ilyas juga mencium tangan kakak iparnya, lalu duduk di kursi depannya.
“Lancar?” tanya Kusdi.
“Alhamdulillah, hari kerja mah lancar,” jawab Ilyas. Cukup lelah karena dari rumah sakit tadi langsung ke Bogor. Tidak pulang ke rumah dulu. Novia mengantarkan secangkir teh panas dan menambah martabak telur yang hampir habis di meja depan suaminya duduk.
“Kalau capek langsung istirahat saja,” perintah Novia. Dia tahu adiknya tadi langsung ke Bogor dari pulang kerja.
“Iya Teh, Kang. Besok sehabis sarapan aku langsung berangkat ke Bandung ya. Aku tidak menunggu kalian pulang kerja,” ilyas langsung memberitahu rencananya untuk besok pagi. Takutnya tidak sopan bila dia tidak pamit secara langsung sekarang. Dia takut belum bangun saat pasangan suami istri itu berangkat kerja.
“Kamu sudah pikir panjang, menolong orang sampai membawanya masuk ke rumahmu?” sang kakak ipar langsung mencecar ilyas.
“Aku jatuh cinta pada pandangan pertama,” jawab Ilyas kalem.
“Dia memang cantik, tapi apa cantik bisa menjamin kalian akan lancar dan bahagia? Kamu belum menyelidiki siapa dia sebenarnya. Apa benar dia diperkosa kakak iparnya. Apa anak itu bukan karena kenakalannya?” Kusdi lanjut mencecar ilyas. Dia tak ingin ilyas terpuruk bila Namira tak sesuai dengan bayangannya.
============================
Wah bener enggak ya dokter Ilas jatuh cinta pada pandangan pertama ke Namira?
Ikuti cerita lanjutannya besok ya.
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta