
“Untuk saat ini saya minta Dina dan Rose tetap disini, yang lain kembali kerja,”Laura memerintah semua pegawainya agar kembali ke pos nya masing-masing.
“Alfi tolong belikan makan siang dan juice ya,” Ririe memberikan uang dan catatan pada seorang pegawainya. Dia masih tak percaya melihat video itu.
“Kalian tahu’kan mengapa saya meminta kalian tetap disini. Sebelum semua diurus oleh polisi, saya ingin bertanya pada kalian. Mengapa kalian melakukannya? Apa saya kurang dalam menggaji kalian? Apa saya ada salah pada kalian? Apa motif kalian? Karena saya tidak melihat barang pribadi saya yang hilang!” Laura bertanya pada Rose dan Dina yang tertunduk.
“Maaf Bu. Saya tidak tahu kalau kakak sepupu saya melakukan hal itu. Dia beberapa kali ikut datang kesini. Menjemput saya. Dia bilang biar pulang bareng. Hanya itu. Saya tidak tahu soal apa pun. Sumpah Bu, saya tidak tahu,” Dina yang menjawab pertama kali.
“Lalu kamu Rose?” tanya Laura.
“Saya … saya,” Rose terbata. Dia terlalu bodoh tergiur mendapat uang dalam jumlah besar dalam waktu cepat. Dia sudah menerima uang saat setuju bekerja sama. Dan saat berhasil masuk ke ruang kerja Laura dia mendapat uang lagi tiga kali dari jumlah pertama. Siapa yang tak tergiur? Uang satu tahun gaji dia terima hanya untuk membuka pintu ruang kerja Laura. Andai dia kerja hati-hati dengan tak lupa mematikan kembali lampu dan Liliya sepupu Dina menutup rapat laci kerja Laura, tentu dia bisa menikmati uang yang sekarang ada direkeningnya.
***
Bastian masuk ke ruang Fanny yang sudah komplit dengan teman-teman Fanny ditambah Harun.
“Kalian pasangan tunangan, jangan bikin kami para jomlo tersiksa ya!” Vita langsung mengultimatum Fanny dan Julia. Dia melihat Julia langsung menyiapkan makan untuk Bastian.
“Tunangan?” tanya Harun.
“Pasangan tunangan?” tanya Bastian bersamaan dengan Harun.
Vita lupa, Bastian tidak tahu kalau Harun dan Fanny sudah tunangan. Dia juga lupa kalau Harun belum tahu tentang pertunangan Julia.
“Jelasin ke Uda!” perintah Harun pada Julia.
“Kenapa adek yang harus jelasin? Yang ngomong ‘kan Vita, bukan Adek,” Julia tak mau mengambil alih tugas yang seharusnya Vita lakukan.
‘Adek? Uda? Rupanya ada yang aku enggak tahu,’ Bastian mengernyitkan alisnya. Melihat itu Julia mengecup pipi Bastian tanpa malu, sambil menyerahkan nasi milik tunangannya itu.
“Pak Bastian, saya menggantikan Vita yang sudah keceplosan ngomong tapi enggak berani tanggung jawab,” Yuni mengambil alih.
“Pak Harun lihat ‘kan kelakuan adekmu itu, di depan kita berani mencium big boss tanpa malu. Karena sebelum dia masuk kerja lagi, adekmu udah tunangan dengan pak Bastian!” Yuni menjeda kalimatnya dan melihat Harun memperlihatkan wajah tak percaya.
“Dan Pak Bastian, tiga minggu lalu Fanny kembali tunangan dengan pak Harun setelah tiga tahun pertunangan mereka putus karena salah paham. Mereka sebelumnya sudah tunangan selama delapan bulan,” Yuni menyelesaikan infonya. Lalu mulai membuka makan siangnya.
“Uda, ini hanya antar kita ya?” pinta Julia pada Harun.
“Jadi ini kenapa kamu enggak ngebolehin Uda ikut waktu kalian mau ke rumah sakit? Kalian bilang teman kalian sakit?” tanya Harun pada Fanny. Fanny hanya mengangguk sambi tersenyum.
“Iya sayank, mereka emang maunya diem-diem,” jawab Fanny menjawab Harun dengan lembut.
“Nah liat ‘kan! Kita bertiga enggak dianggep kalau mereka ada pasangannya,” keluh Vita yang dibalas dengan tawa oleh semua yang ada di ruang itu.
“Tapi kalian ‘kan tahu kalau lagi kerja monster tetap aja galak,” Julia memberitahu perilaku bossnya.
“Kalau adek enggak stress, tadi kita enggak keluar berdua Da. Jadi rahasia pertunangan enggak akan terbongkar,” Julia mengingatkan asal muasal dia dan Harun pergi beli makan siang.
“Iya juga sih. Dan Uda enggak dapat makanan gratis siang ini,” balas Harun tersenyum.
***
Laura melimpahkan semua pada Adnan dan Toha. Dia sudah tak mau lagi ikut campur. Dia mau, apa pun alasannya, yang salah tetap dihukum tanpa dispensasi. Dia tak mau bila dipermudah, agar pegawai lain juga tidak akan berbuat seperti itu.
“Kita makan siang dulu Pak,” ajak Laura pada Adnan dan Toha. Tadi KTP Rose dan Dina sudah ditahan oleh Toha. Ponsel Rose juga disita sebagai barang bukti.
“Nanti selanjutnya pemeriksaan dilakukan di kantor kami ya Bu,” Toha memberi informasi pada Laura. Sore ini Dina akan menjadi pemandu untuk menunjukkan rumah Liliya, sepupunya. Sebentar lagi Rose akan langsung dibawa ke kantor polisi sebagai tahanan. Menunggu mobil penjemput.
“Silakan Pak, saya tak mau ikut campur tentang kerja polisi. Saya tak mau memberi keringanan apa pun. Saya juga tak mau membantu mencarikan pengacara.” Laura kekeuh terhadap sikapnya pada para pencuri. Dia sudah tahu motif Liliya masuk ke ruangan kerjanya. Dan polisi juga akan memproses oknum pemilik butik penadah sketsa Laura yang di foto oleh Liliya. Itu sebabnya semua sketsa Laura tak ada yang hilang, karena hanya difoto saja.
‘Aku akan buat usahanya bangkrut!’ tekad Laura. Dia akan memberi ‘peringatan keras’ pada pencuri diluaran sana agar jangan sembarangan mencuri hasil karya orang lain!
“Saya hanya minta, saat pencidukkan penadah, saya diberitahu sebelumnya,” pinta Laura. dia akan memberi kejutan manis untuk kompetitor yang melakukan kecurangan terhadap dirinya.
“Besok kami akan melakukannya. Pukul 10.00 di butiknya. Barusan kami sudah meminta kantor menyelidiki jam kerja owner butik SELARAS itu. Setiap hari dia ada di butik jam sembilan pagi di antar oleh suaminya. Dan pulang jam empat sore,” Toha memberi tahu kapan dia akan menyiduk pemilik butik itu.
“Saya upayakan akan ada di sekitaran lokasi pada saat itu,” jawab Laura santai. Dia tahu siapa pemilik butik Selaras itu.
***
“Teteh bisa bantu menghubungi mereka?” tanya Laura memastikan.
“Pasti bisa lah sayang. Apa sih yang Teteh enggak bisa. Lebih-lebih ini buatmu,” jawab orang disambungan telepon yang Laura tuju.
“Jangan telat ya Teh. Kita ketemu pas jam setengah sepuluh dilokasi,” pinta Laura.
“Iya sayangku,” jawab perempuan itu.
Orang yang dihubungi Laura adalah kakak sepupu Tommy, almarhum tunangannya. Assyfa memang paling dekat dengan Laura. Karena dulu Tommy dan Laura sering berkunjung ke rumahnya. Bahkan pernah menginap. Karena saat itu Laura belum tinggal di Cimahi. Dia tinggal di Cimahi sejak Tommy meninggal. Assyfa sudah menikah dan punya seorang anak laki-laki yang saat ini sudah berusia empat tahun.
“Oke Teh, sampai besok ya?” Laura memutus hubungan pembicaraan dengan kakak sepupu Tommy itu.
\=========================================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Jangan lupa tinggalin komen manisnya
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta