
“Liz yang dia bawa waktu berkenalan dengan kita adalah istri atau suaminya. Aku enggak tahu mana suami mana istri. Mereka itu pasangan sesama jenis. Menikah di Paris karena disana pernikahan sesama jenis dibolehkan,” sahut August.
“Ya ampun Mi. Apa Mami enggak seleksi saat menerima tawaran teman Mami?” tanya bu Nenden maminya August pada ibu mertuanya.
“Mami selidiki Nden. Yang Mami tahu dia bersih, enggak pernah pacaran sejak SMA dan perempuan karier yang sukses. Mami enggak tahu soal penyimpangan sexualnya,” balas oma terhadap protes menantunya.
“Ya sudah Oma. Ini terakhir kali aku mau berkenalan dengan semua calon yang Oma sodorkan seperti dagangan. Aku enggak akan mau lagi berkenalan dengan siapa pun baik Oma atur seperti perkenalan tak sengaja atau emang Oma bilang mau dikenalin. Aku tahu Oma akan selalu bikin skenario seakan-akan pertemuan tak sengaja. No way Oma. Enough!” kali ini August tegas menolak perjodohan lagi.
Oma dan maminya hanya diam. Mereka tahu sudah terlalu jauh mencampuri kehidupan August sejak August berpisah dengan Julia. “Semoga Mami mau menuruti permintaan August barusan,” lirih Nenden berucap. Agar mami mertuanya kapok menjodohkan anak tunggalnya itu.
***
“Capeeeeeeeeeeee Yah,” seru Nindi saat mereka berdua tiba di teras rumah dengan sepedanya masing-masing.
“Tapi seru ya?” sahun Ilyas sambil meminum air yang memang dia bawa.
“Iya Yah. Kalau dede Ilham sudah bisa mbonceng, dia ikut sama Teteh ya Yah?” cetus Nindi.
“Kalau Dede sudah bisa duduk, nanti Ayah belikan kursi untuk Dede yang dipasang di sepeda Ayah. Dia didepan, bukan dibelakang seperti boncengan sepeda Teteh,” jelas Ilyas.
“Kalau Ayah bawa Dede, nanti Tante-tante dan Teteh-teteh yang ngajak Ayah kenalan atau ngobrol masih ngejar Ayah seperti tadi enggak Yah?” tanya Nindi dengan polosnya. Namira yang sejak tadi mendengar percakapan mereka dari balik pintu ruang tamu hanya terpaku. Dia tak mau mendengar kelanjutan obrolan itu. Dia menyudahi menyapu ruang tamu dan pindah membereskan ruang keluarga.
‘Aku enggak peduli kamu mau dikejar ama siapa pun!’ kesal Namira mengumpat dalam hatinya.
‘Koq aku marah?’ pikir Namira selanjutnya. Dia tak sadar mulai cemburu. Cemburu tanda ada cinta ‘kan?
“Biar saja mereka ngejar atau enggak. ‘Kan bukan kemauan Ayah. Ayah cuma sayang ama Bunda aja,” balas Ilyas yakin. Andai Namira tetap mendengarkan obrolan mereka tentu dia tidak akan marah seperti tadi.
Setelah hilang keringatnya, Ilyas mengajak Nindi memasukkan sepeda mereka ke garasi bagian dalam agar tak mengganggu motor atau mobil yang akan keluar rumah. “Kita sarapan yok,” ajak Ilyas.
“Kalian sudah sarapan Bik?” tanya Ilyas karena di meja makan hanya ada dua piring saja.
“Sudah Den,” sahut bik Iyah yang sedang menyiangi bayam merah untuk dia tumis dengan udang.
Namira sedang dihalaman belakang menjemur baju yang baru keluar dari mesin pengering, memang dia kerja selalu seperti itu. Sambil membersihkan ruangan juga disambi mencuci sehingga cepat beres dalam waktu bersamaan. “Bunda, Dede bangun.”
“Sebentar Teh, dua baju lagi yaaaa,” balas Namira cepat.
Namira masuk kamarnya, disana sudah ada Ilyas yang selesai mandi dan sedang membuka diapers Ilham. “Anak Ayah pup ya,” Ilyas bicara pada Ilham yang sudah berhenti menangis.
“Biar saya mandikan sekalian saja,” Namira meminta Ilyas menyudahi mengurus Ilham.
“Ayah sarapan dulu, Dede mandi sama Bunda ya,” Ilyas mengusap lembut pipi Ilham. Dia bersiap meninggalkan bayi lelaki itu.
Cup, dia mencuri mencium pipi Namira yang sedang menunduk untuk mengurus Ilham. “Good morning Bundanya Ayah,” bisik Ilyas ditelinga Namira sambil berlalu keluar kamar.
“Lihat De kelakuan Ayahmu,” tanpa sadar Namira menyebut ayahmu untuk Ilyas saat dia bicara pada bayi kecilnya.
***
“Daddy bertugas menjadi juri di acara fun bike rumah sakit. Kami malas ikut kegiatan Daddy,” jawab Fahri.
“Ya sudah, kita sarapan yok. Habis itu kalau kalian mau, bisa ikut Mommy ke kebun sayur,” Laura mengajak keduanya masuk ke rumah.
“Wah cucu-cucu Enin datang. Ayok sarapan bareng Enin,” wak Ganis senang mendapat tamu kecil pagi ini. Kedua anak itu salim pada wak Ganis.
“Kalian libur?” tanya Wak Ganis saat mereka sudah duduk mengelilingi meja makan.
“Iya Enin, Sabtu ‘kan memang libur,” sahut Nazwa.
“Segini?” tanya Laura memperlihatkan lontong di piring pada Fahri.
“Tambah Mom,” sahut jagoan kecil itu tanpa malu.
“Ini warnanya aja merah, tapi enggak pedas. Jadi kalau kalian kurang pedas tambah sambal sendiri ya,” Wak Ganis mengambil sayur labu siam jodoh dari lontong untuk sarapan pagi ini.
“Kakak segini?” tanya Laura pada Nazwa. Dia biasa mengambilkan nasi atau lontong untuk semua, terlebih uwaknya sebelum dia makan.
“Iya Mom. Aku nanti nambah sendiri, Nazwa menerima piring berisi lontong yang Laura berikan.
“Daddy kalian kemana?” tanya wak Ganis. Karena dia tahu biasanya hari Sabtu dan Minggu pasti Syahrul akan menghabiskan waktu bersama kedua anaknya.
“Daddy jadi juri di garis finish fun bike di rumah sakit Enin,” sahut Nazwa. Fahri sibuk dengan sambel dan kerupuk.
“Mommy ini enak, biasa maid di rumah suka bikin tapi enggak gurih seperti ini,” Fahri mengomentari lontong sayur menu sarapan mereka kali ini.
“Ini makanan favorite Enin kalian. Biasa Enin menambahkan ebi ( udang kering ) di bumbunya agar tambah sedap. Ditumisan labunya ‘kan juga pakai udang besar. Tentu beda dengan yang biasa dijual. Mungkin maid kalian hanya bikin sayur labu tanpa udang dan bumbunya juga tidak ditambah udang,” Laura memberitahu mengapa sayur labunya gurih.
“i see, bener de. Maid bikin ‘kan persis yang kita beli saat kita minta dia bikin masakan itu,” sahut Nazwa. Ketika itu memang mereka minta dibuatkan lontong sayur seperti yang mereka makan di acara keluarga daddy mereka.
“Kalian kalau mau nambah, silakan ya. Nanti habis makan Mommy mau ke kebun sayuran milik Mommy,” Laura kembali mengingatkan akan ke kebun.
“Aku ikut Mom,” Nazwa langsung menjawab ingin ikut ke kebun.
“Oke, habiskan dulu makannya. Dan nanti pakai sun block kalau mau ikut,” perintah Laura. Dia tak ingin kulit Nazwa rusak.
“Adek juga ikut,” Fahri juga tak ingin ketinggalan kegiatan ke kebun sayuran milik Laura. Dia dan kakaknya belum pernah diajak kesana.
“Boleh. Habiskan dulu sarapanmu,” sahut Laura sambil mengambil kerupuk.
\=============================================================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Jangan lupa tinggalin komen manisnya
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta