TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
KEHADIRAN DEDE BUKAN AIB



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


***YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.  Jangan lupa tinggalin komen manisnya  ***


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


 \=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Wulan kaget melihat transaksi mBanking yang kemarin masuk, jumlah yang August berikan lebih besar dari jumlah yang biasa August sumbangkan untuk panti asuhan. Dia jadi tidak enak. “Kamu jadi beli buku ini?” tanya Kemuning.


“Iya, aku ambil semua, aku enggak mau nilaiku jelek. Aku harus mempertahankan beasiswaku,” Wulan menjawab Kemuning. Dia menyerahkan kartu ATM nya ada kasir untuk semua buku yang dia beli.


‘Tekadnya sangat kuat. Kalau untuk buku dia tak perhitungan. Padahal dia sering mengirit bila untuk makan,’ Kemuning membatin melihat teman barunya membeli semua buku yang mereka catat. Dia kagum dengan tekad anak yatim piatu yang bekerja di panti asuhan ini.


Kemuning pun memberikan sebuah kartu. Hanya yang dia keluarkan kartu kredit. Fasilitas dari orang tuanya. Nanti semua tagihan akan tercetak dan dipantau oleh kedua orang tuanya. Dia memang anak tunggal orang tua kaya. Namun mereka tetap memantau semua hal soal putrinya.


‘Terima kasih,’ hanya itu yang August baca ketika ada notifikasi chat dari Wulan.


***


“Sudah lama?” tanya Laura, dia melihat sudah ada dua gelas juice sirsak di meja.


“Belum. Ini juice baru datang dan makanan belum Abang pesan,” sahut Syahrul, dia melihat Laura cantik dengan pakaian kerjanya hari ini. “Mau pesan apa?”


“Kayaknya enak menu ikan ya Bang? Jangan ada ayamnya,” Laura melihat menu yang tersedia.


“Patin bakar kecap, ikan mas bakar juga pepes ikan mas aja. Tambahnya karedok.” Laura menyebut menu yang dia pesan.


“Mau tambah?” tanya Laura pada Syahrul.


“Rasanya cukup,” sahut Syahrul.


“Karedoknya pedes ya Ceu,” pinta Laura.


Sang server membacakan semua pesanan Laura agar tak ada yang terlewat.


“Tambah satu lemon tea dengan sedikit es deh,” Laura menambah minuman.


“Bagaimana tadi sidangnya?” tanya Syahrul saat mereka sudah kembali berdua di saung itu. Di rumah makan ini semua meja terpisah dalam satu saung. Tidak bergabung dengan orang lain.


“Baru sidang hari pertama, ibaratnya kalau di dunia kedokteran baru diperlihatkan rekam medis pasien aja. Belum ada tindakan,” Laura menyeruput juicenya sedikit.


“Tadi baru dibacakan kapan kejadiannya, lokasi perkara, korbannya, pelakunya itu aja,” sahut Laura.


“Waktu itu Abang dengan dari bu Ganis, lalu Abang cari info. Abang enggak abis pikir, kenapa dalangnya berbuat seperti itu. Padahal ibunya seorang pengacara terkenal. Ayahnya pejabat publik dan suaminya pengusaha,” cetus Syahrul.


“Lingkungan orang terkenal enggak menjamin seseorang berpikir panjang. Justru dia pikir dengan lingkungan orang hebat seperti itu dia aman berbuat semaunya,” sahut Laura.


“Tadi Abang nonton live streaming, Abang enggak nyangka Mommynya Nazwa dan Fahri anaknya macan pengadilan ya? Dan dia juga sarjana hukum dari universitas besar di Jakarta. Padahal yang Abang tahu dia sarjana design fashion lho,” Syahrul memberi tahu dia sempat menonton siaran tunda persidangan tadi. Saat persidangan dia sedang melakukan operasi.


“Aku kuliah hukum hanya tiga tahun, lalu langsung lari ke Belanda, disana Oma punya butik, dan aku kuliah fashion di Belanda,” sahut Laura santai. Butik omanya di Belanda dijual saat sang oma sakit. Dan sesudah oma meninggal opa menjual semua asetnya di Belanda lalu pindah ke Indonesia ikut anak tunggalnya yaitu mamanya Laura.


Ini enak banget lho Bang,” Laura menyuapi karedok ke mulut Syahrul. Mereka terus bercerita tentang kasus yang sedang Laura hadapi.


“Kamu yakin enggak minta pembelaan dari mama, papa atau opamu?” tanya Syahrul penasaran.


“Buat apa? Aku masih sanggup maju sendirian. Lagi aku enggak salah. Mau diputar balik seperti apa, posisiku enggak salah. Terlebih aku punya rekaman CCTV kalau Seruni mau mengajak aku damai dengan iming-iming 1M,” Laura masih tetap percaya diri untuk maju sendiri tanpa pendamping pengacara.


***


“Sudah, besok siang diminta kembali untuk ambil,” sahut Namira sambil mengambil Ilham dari gendongan Ilyas.


“Biar sama Ayah dulu, nanti aja di mobil Dede ikut Bunda. Bunda ‘kan masih repot pegang tas itu,” Ilyas menolak memberikan Ilham.


“Mir …,” Nadia menyapa Namira.


“Eh Nad, aku duluan ya,” Namira memegang tangan Ilyas dan menariknya ke mobil meninggalkan Nadia yang makin bingung.


‘Apa itu alasan Mira menjauh dari Wisnu? Lelaki yang menyebut dirinya ayah dan bayi itu. Apa mereka adalah suami dan anak Mira?’ Nadia menduga-duga. Dia bertekad mencari tahu, sebelum memberi info pada Wisnu.


“Kenapa lari Babe? Kamu malu punya Ilham? Kamu benci Dede karena menghancurkan cinta dan harapanmu?” Ilyas tahu Namira menghindar dari temannya.


“Berikan Ilham,” Namira meminta bayinya setelah dia meletakkan tas berkas yang dia bawa tadi.


“Dede ikut Bunda ya,” Ilyas berbisik lembut pada bayi yang baru saja tertidur. Ilyas tadi keluar mobil karena Ilham rewel. Mungkin merasa tidak betah diruang sempit walau dingin.


“Dede baru aja tidur,” Ilyas memberitahu Namira. Perempuan  itu sejak tadi hanya diam saja.


“Persoalan jangan dihindari, tapi hadapi. Aku tahu berat untuk menceritakan beban di pundakmu pada sahabatmu. Tapi kehadiran Dede bukan aib. Dan semua juga  salut padamu karena mau mempertahankan bayi hasil kejahatan. Kamu juga menyayangi dan merawatnya dengan penuh cinta.” Ilyas menyalakan mesin mobilnya.


“Kalau semua orang menghujatmu, masih ada aku yang akan selalu mendampingimu. Kamu juga punya Ilham dan Nindi. Kamu punya Teh Via dan keluarganya. Kami semua akan selalu ada untukmu,” kata-kata Ilyas membuat pertahanan Namira runtuh. Dia terisak merasakan kebenaran kata-kata lelaki yang belum bisa dia terima cintanya.


‘Dia benar, aku harus mulai membuka diri untuknya. Dan aku akan menceritakan alasanku mundur pada Nadia. Hanya dia. Yang lain biarlah menuduhku semau mereka,’ Namira pun berpikir jernih untuk menerima Ilyas.


“Kita makan diluar ya? Aku lapar,” Ilyas memberitahu Namira saat membelokkan mobil ke sebuah rumah makan.


“Tas dede bawa turun Yank, dia belum ganti diapers ‘kan?” Namira berniat mengganti diapers Ilham yang sudah sejak pagi digunakan.


“Eh enggak usah deh. Aku gantikan di jok belakang aja,” Namira menidurkan Ilham di jok belakang dan menggantikan diapersnya dengan pelan. Dia basuh dulu dengan tissue basah, lalu dilap dengan tissue kering baru diganti dengan diapers baru agar kulit anaknya tidak ruam.


Sementara Ilyas hanya mengamati gerak jemari lentik Namira yang menari-nari lincah mengurus bayi mereka.


“Nanti langsung kasih Ayah ya, biar ayah gendong lagi. Tapi posisinya dia menghadap Ayah, jangan menghadap depan,” pinta Ilyas.


“Ini sudah selesai, kamu kesini dong Yank. Masa tetap disitu,” Namira bingung karena Ilyas masih duduk dikursi kemudi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sambil nunggu Yanktie update bab berikut, coba mampir ke cerita milik teman baik yanktie ini ya.


Napennya : ALVISHA


Judul cerita : CINTA COLL AND BARBAR


Cerita singkatnya seperti ini :


Blurb


Aliando Ivander sang idola sekolah. Dia mencintai murid baru yang ada di sekolahnya. Tepat di hari pertama gadis itu sekolah, dia langsung menyatakan perasaannya.


"Aku tidak minta persetujuanmu dan aku tidak menerima penolakan!" Itu kalimat andalannya.


Alisha Leandra gadis cantik murid pindahan dengan terpaksa harus menjalin hubungan dengan Aliando. Bagaimana dia menghadapi fans gilanya Aliando? Bagaimana akhirnya dia bisa menerima Aliando? dan apakah misteri kehidupan Alisha bisa diterima oleh Aliando? Karena ternyata Aliando bukan satu-satunya pria dalam hidupnya.