
Wulan baru selesai melakukan daftar ulang di kampus yang akan dia masuki. Dia sangat bersyukur selama ini kehamilannya tidak rewel dan tidak bermasalah. Sekarang dia sudah berani menggunakan baju agak longgar dan celana dari bahan jeans tapi khusus untuk ibu hamil. Karena dibagian perutnya terbuat dari bahan yang bisa melar. Laura lah yang pertama membelikan dua buah celana hamil. Satu dari bahan jeans yang sedang dia gunakan, dan satunya dari bahan lain dengan warna maroon.
‘Besok aku harus menambah beberapa celana seperti ini agar mudah bergerak. Aku butuh beberapa warna tambahan. Juga kemeja-kemeja longgar. Kemeja nanti juga tetap akan bisa aku gunakan saat menyusui. Sehingga akan terus lama digunakan,’ Wulan berpikir akan ke pasar esok. Hari ini dia cukup lelah dan sudah terlalu lama dia keluar dari panti. Dia tak mau kalau tak maksimal bekerja. Laura dan rekan kerjanya sudah sangat banyak membantunya. Dan dia tak boleh semaunya sendiri.
“Ada apa ini Mang?” tanya Wulan. Dia sampai ke panti saat semua rekan yang tidak sedang memegang bayi bekerja memindahkan box ke kamar depan.
“Eh neng Wulan. Ini … kan mau dibikin kamar tambahan untuk pegawai dan renovasi dapur. Jadi kamar anak-anak yang dibelakang dipindah dulu ke depan biar enggak keganggu,” jawab mang Yadi.
“Kamu makan dan istirahat dulu saja Lan,” Wida meminta Wulan tidak langsung ikut bekerja.
“Muhun Teh, saya akan salat dan makan dulu,” Wulan menjawab Wida yang sedang menggendong bayi lelaki.
Saat sedang sibuk seperti ini August datang membawa diapers, susu dan banyak lauk bagi pegawai panti. “Ada apa Mang?” pertanyaan yang August lontarkan sama dengan yang ditanya oleh Wulan ketika dia masuk panti tadi.
“Eh Aden … ini panti mau di renovasi dapurnya. Jadi kamar bayi yang di belakang untuk sementara pindah ke depan biar enggak keberisikkan juga enggak kena debu,” kali ini bik Eni yang menjawab. Dia menerima lauk yang August berikan, sementara mang Sholeh tak mendengar pertanyaan August tadi.
Wulan membawakan minum untuk August, tadi bik Sanah memintanya membawa ke depan. “Kamu sudah mulai kuliah?” tanya August.
“Belum Pak, bulan depan. Tadi baru daftar ulang saja. Silakan di minum Pak,” Wulan mempersilakan August untuk minum. Wulan hendak langsung beranjak dari hadapan August.
“Sebentar, ada buku untukmu,” August segera keluar menuju mobilnya. Tak lama dia kembali dengan tas kresek super besar.
“Ini, semoga berguna untuk kamu kuliah nanti,” August menyerahkan tas itu pada Wulan.
“Terima kasih Pak,” Wulan menerimanya dan langsung pergi diletakkan begitu saja di kamarnya. Dia sendiri langsung ke ruang bayi.
“Kamu sudah makan?” tanya Karni ketika dilihatnya rekan termuda masuk ke ruangan bayi.
“Belum lapar teh. Tadi di kampus lihat tukang jual lontong sayur, terus kepengin. Jadi saya beli itu. Walau akhirnya nyesal membeli, karena rasanya enggak sesuai ekpektasi,” jelas Wulan sambil melihat buku kondisi para bayi hari ini.
“Gimana kalau untuk sarapan besok kita bikin lontong sayur? Nanti aku minta mang Asep memetik daun pisang untuk kulit lontong. Juga pepaya muda buat bahan sayurnya. Kita tinggal butuh santan dan kerupuk saja. Kalau mau tambah telor juga bisa,” usul Karni.
“Wah asik tuh Teh. Siapa yang besok giliran bikin sarapan?” Wulan semangat mendengar usulan Karni.
“Aku.”
Tentu Wulan tambah senang karena tak perlu minta rekan lain untuk membuat lontong sayur sesuai keinginannya.
Sorenya Karni langsung memetik sendiri sebuah pepaya muda yang cukup besar, dia juga memetik banyak daun pisang. Karni tidak pandai membuat lontong. Dia akan meminta bik Eni membantunya membuat. Agar malam ini lontong siap direbus dan esok pagi sudah siap dihidangkan. “Mau masak apa Neng Karni?” tanya bik Sanah yang kebetulan datang ke panti.
“Wah, kalau begitu bikin agak banyak. Biar sekalian buat orang rumah ya? Itu makanan kesukaan nyonya.” Yang dimaksud bik Sanah ‘orang rumah’ adalah orang-orang di rumah bu Ganis pemilik panti asuhan.
“Baik Bik, biar nanti saya petik lagi pepaya dan daun pisangnya,” Karni menyanggupi permintaan bik Sanah.
***
Syahrul masih bingung mengajuk hati Laura yang sedang marah padanya. Besok adalah jadwal dia ke panti, tapi dia tahu besok jadwal Laura ke butik sehingga kecil kemungkinan mereka akan bertemu.
Pagi ini Ariano datang sendiri membawa draft MOU yang harus Laura dan dia tanda tangani bersama sebagai pihak yang terikat perjanjian. Sejak semalam Ariano memberitahu lewat telepon. Ternyata telepon yang dihubungi Ariano adalah nomor panti. Sehingga yang bicara pertama tentu bukan Laura. Dia hanya diminta meninggalkan pesan. “Selamat pagi!” Ariano memberi salam saat tiba di panti.
“Selamat pagi Pak, silakan masuk menunggu di dalam. Saya akan panggilkan Ibu Laura,” Wulan yang sedang di depan menyambut kedatangan Ariano sebagai tamu yang memang sudah terjadwal di agenda Laura.
“Silakan diminum Pak,” Sukma membawa secangkir teh panas dan diletakkan di meja depan Ariano.
Cukup lama Ariano duduk di ruang tamu panti ini, dia berjalan melihat semua foto yang terpajang di ruangan itu. “Pak, diminta bu Laura ke ruangannya,” Ariano mendengar seorang pegawai panti yang entah siapa memintanya masuk. Dia sudah pernah masuk ke ruangan kerja Laura. Jadi dia tahu ruang mana yang dimaksud.
“Assalamu’alaykum,” Ariano menyampaikan salam ketika masuk ke ruangan Laura.
“Wa’alaykum salam pak Ariano, silakan duduk,” Laura berdiri menyambut tamunya dan mereka berjabat tangan seperti biasa.
‘Dia sangat fresh dan makin cantik,’ Ariano memberikan senyum termanisnya. Dan duduk di kursi seberang meja kerja Laura. Dia mengeluarkan draft MOU untuk dibaca terlebih dahulu. “Ini draftnyaa. Tidak ada perubahan dari draft kosong yang kemarin selain data speck yang akan dikerjakan, lama pengerjaan serta biaya yang kita sepakati. Tai ada baiknya anda teliti dulu agar tak ada komplain sesudah sign.”
Laura menerima berkas yang baru diberikan. Dia membaca dengan saksama. Ini bukan pertama kali dia menandatangani program kerja sama.tapi selalu dia cermat untuk membubuhkan tanda tangan. Tak mau asal. Tak ingin ada kerugian dikemudian hari. “Oke, selesai dari saya,” Laura menyerahkan berkas yang sudah dia tanda tangani dan diberikan pada Ariano.
Ariano pun menandatangai berkas yang disodorkan oleh Laura. Lalu satu berkas dia berikan pada Laura. Dia juga memegang satu berkas. Sesuai kesepakatan, pagi ini Laura harus membayar DP pengerjaan. “Kamu ke ruangan saya ya!”
Tak lama Sukma masuk membawa uang dan buku kwitansi. “Silakan transaksinya dengan bendahara panti saja,” Laura memberitahu Ariano kalau bukan dia yang akan memberikan uang. Karena pembukuan keuangan dipegang Sukma dan Nengsih.
\=============================================================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Jangan lupa tinggalin komen manisnya
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta