
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sejak semalam Julia sudah membuat postingan dagangannya. Respon tak terduga! Banyak teman langsung memesan produk dagangannya. Dia mencatat semua barang yang sudah terjual dengan memisahkan dengan stock lain dan menempelkan nama pemilik agar tidak tertukar. Julia sudah menyiapkan satu rekening kosong yang sengaja dia peruntukkan bagi usahanya. Dia mencatat semua pengeluaran dan pemasukan dengan rinci. Rekening tidak dia gabung dengan rekening tabungannya selama ini.
Pagi ini walau hari Minggu Julia melakukan packing pesanan konsumen dan dia bertekad akan mengirim pesanan konsumen yang sudah terbayar ke ekspedisi, sekalian dia akan menuju rumah sakit. Dia harus sampai di rumah sakit saat sebelum makan siang agar bisa menyuapi Guntur dan Topan.
“Aunty …,” pekik Topan dan Guntur saat mendengar salam yang Julia ucapkan ketika memasuki ruang rawat VVIP yang mereka tempati. Di ruangan selain si kembar hanya ada pak Achdiyat. Tak ada Bastian dan bu Adi. Julia mencium tangan pak Achdiyat dengan takzim.
“Mengapa tak ada yang membalas salam Aunty?” Julia mengingatkan dua pacar kecilnya. Dan kedua pemuda kecil yang tampan itu hanya senyum-senyum malu karena merasa bersalah.
“Wah Guntur sudah buka infus? Topan harus makin banyak makan dan minum air putihnya agar segera dicopot infusnya ya?” Julia memperhatikan kondisi keduanya yang makin terlihat fresh. “Karena Guntur sudah buka infus, kamu pindah sini ya, biar Aunty nyuapin kalian bareng,” Julian mengangkat Guntur untuk duduk di brankar Topan sehingga dia mudah menyuapi mereka berdua sekaligus.
“Sekarang Aunty pulang dulu ya, besok Aunty ke sini lagi,”Julia bersiap pamit selesai dia memberi makan siang serta obat bagi kedua anak ganteng kesayangannya. Keduanya tak banyak protes. Mereka tahu Julia sudah sangat berbaik hati memperhatikan keberadaan mereka setelah kemarin malam paman mereka menasehati kalau mereka tak boleh terlalu banyak meminta agar Julia sering mengunjungi. Sang paman bercerita kalau Julia sudah tidak bekerja dikantornya sehingga tak bisa sering bertemu seperti saat sebelumnya. Rupanya Bastian sudah memagari kedua keponakannya untuk tidak menuntut sering bertemu Julia. Tak mungkin Bastian bilang hubungannya dengan Julia break. Jadi alasan logis untuk anak 4 tahun adalah soal pekerjaan Julia.
“Saya pamit dulu Pak,” Julia pamit pada pak Achdiyat tanpa bertanya kemana istrinya apalagi putra bungsunya.
“Owh iya, makasih ya YA atas kehadirannya,” Achdiyat berdiri untuk menerima uluran tangan Julia. *‘Andai kamu bertanya, kamu pasti tak akan langsung pulang.’ *
“Sekarang kalian tidur dulu ya,” lelaki paruh baya itu menyuruh kedua cucunya untuk tidur, diselimuti kedua dan dikecup kening masing-masing jagoan kecilnya itu. Achdiyat tak sampai hati meninggalkan mereka sementara sejak semalam istrinya sibuk mengurus Bastian yang demam tinggi dan saat ini juga di rawat di ruangan sebelah.
***
Julia mengirim email untuk pesanan barang yang sudah terjual di toko online nya. Dia juga langsung membayarnya agar barang segera dikirim ke alamat kakak sepupunya di Singapore. Siang ini sepulang dari rumah sakit, dia kembali sibuk dengan promo dagangannya. Niatnya sore ini dia akan pulang ke Bogor untuk membawakan oleh-oleh dari berbagai negara yang dia kunjungi kemarin. Dan siang besok akan kembali ke Jakarta langsung ke rumah sakit menyuapi makan malam. Targetnya satu hari sekali dia menyempatkan menyuapi Topan dan Guntur sebelum mereka pulang dari rumah sakit. Karena dia tak ingin datang berkunjung ke rumah Bastian.
Tak ada yang special di rumah Julia, dia hanya sibuk menjawab mengapa tidak datang bersama Bastian. Rupanya kedua orang tuanya belum tahu dia sudah resign dari kantor Bastian. Selebihnya dia hanya bercerita keseruannya selama mengikuti perjalanan wisata. Karena mengira Julia masih kerja maka ketika hari Senin siang Julia pamit pulang ke Jakarta, kedua orang tuanya tidak melarang. Dari Bogor Julia membawakan pisang tanduk yang sudah dia kukus untuk ibu dan bapak Achdiyat.
***
“Bagaimana ini Pa’ ( koma diatas dibaca seperti huruf ‘K’ tapi kurang tegas ya ), darah di PMI sedang kosong, sedang ade butuh 3 kantong lagi,” Julia mendengar bu Achdiyat bicara di telepon dengan terisak.
‘Darah? Ade?’ batin Julia. ‘Apa Bastian di rawat dan butuh transfusi?’
“Belum sadar Pa’, sejak pagi dia drop itu, Mamah bingung, kalau ke ruangan Ade, ini incu ( cucu ) enggak ada yang nemani,” lanjut bu Adi putus asa.
‘Fix, Bastian juga dirawat di rumah sakit ini dan kondisinya cukup parah karena belum sadar, aku harus bagaimana?’ pikir Julia. “Assalamu’alaykum,” Julia sengaja masuk saat bu Adi belum selesai bicara dengan suaminya.
“YA. Tolong kami. Sebenarnya Bastian tak ingin kamu tahu dia dirawat. Tapi saat ini kondisi Bastian sangat drop. Sejak pagi dia pingsan dan butuh darah. Sekarang Bapak sedang handle masalah kantor jadi tidak ada yang menunggu Bastian di ruangannya. Sementara saya harus menemani si kembar. Bisa ‘kan kamu membantu Ibu?” tanya bu Achdiyat ragu. Dia sudah tahu dari putranya kalau Julia sudah tak bisa memaafkan Bastian dan tak ingin berhubungan dengan putranya lagi.
“Baiklah, saya menemani si kembar saja. Biar ibu yang menemani Bastian,” Julia tidak bisa menolak permohonan istri mantan bossnya. Tapi dia menawar posisi saja. Dia merasa lebih baik dia yang menemani anak-anak. Bukan menunggu Bastian.
“Tolonglah YA, saya sedang kambuh rematik di lutut sehingga agak sulit bergerak bila menemani Bastian,” kembali bu Achdiyat memohon pada Julia. ‘Maaf YA, ibu sengaja menggunakan kesempatan ini untuk mendekatkan kalian kembali.’
“Baiklah saya akan menjaga Bastian, di mana ruangannya?” tanya Julia. Dia serba salah bila menolak permintaan seorang ibu.
“Di ruang sebelah,” bu Achdiyat menunjuk ruangan sebelah kanan dari ruang rawat cucu-cucunya. Bastian menempati ruang rawat no 3.
Julia pun menuju ruang rawat Bastian, dia lihat kondisi Bastian yang terbaring lemah dengan cairan infus yang hampir habis dan darah yang masih berisi darah 3/4 kantong. ‘Suhu tubuhnya lumayan panas,’ Julia duduk di brankar dan memegang dahi Bastian dengan punggung tangannya. Julia memencet bel untuk memanggil petugas medis karena akan meminta penambahan cairan infus. ‘Untung aku cepat datang, cairan infusnya harus segera diganti.’
“Iya Bu,” seorang perawat masuk merespon panggilan yang Julia lakukan.
“Ini Sus, cairan infusnya habis,” lapor Julia.
“Baik Bu, sekalian akan saya ukur tensi dan suhu,” sang perawat segera keluar ruangan untuk mengambil cairan infus pengganti.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil nungggu yanktie update bab baru, baca cerita milik teman yangktie ini yaaaaaa
judul cerita penulis pastinya hanya di NOVELTOON/MANGATOON ya
Cerita ringkasnya seperti ini :
Sakit yang terdalam adalah yang tidak terlihat oleh mata. Bagai tombak transparan yang menusuk jantung. Namun, dapat dirasakan di dalam hati.
Elena harus terlibat pernikahan dengan pria asing yang ditemuinya di hutan pegunungan, walaupun pernikahannya diawali dari suatu kesalahpahaman, Merrik memperlakukan dia dengan baik. Namun, semua itu hanyalah kamuflase. Kepalsuan cinta Merrik membuatnya tidak mempercayai laki-laki lagi.
Kesalahanku adalah mencintaimu. Namun, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Akan kubawa rasa sakit ini seumur hidupku. Seandainya waktu bisa diputar, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalmu.
~Elena
Kau tidak akan pernah bisa lari dariku, sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu karena ku yakin dilubuk hatimu masih mencintaiku.
~Merrik