
Nah ketemu lagi di update kedua hari ini.
Seperti kemarin, jangan lupa kasih komen manis dan hadiah setangkai mawar atau secangkir kopi ya
===================================================================
Toha memberi Laura segelas teh hangat yang dia minta pada seorang suster. Toha juga meminta pada rekan yang bertugas saat lakalantas agar mobil Syahrul jangan ada yang masuk kedalamnya karena tak ingin barang milik dokter Syahrul hilang. Dia bilang korban adalah kakaknya.
Setelah agak tenang Laura langsung menghubungi Mamanya. Dia tak mau menghubungi Anjas karena lelaki itu sedang menyetir. Anjas pasti akan panik mendengar ceritanya. Untuk amannya lebih baik dia menghubungi mamanya saja.
“Iya Kak?” Claudia mengangkat telepon dari putri sulungnya. Mereka sudah masuk tol menuju Jakarta.
“Ma … Mama bisa balik ke Bandung?” tanya Laura sambil terisak.
“Ada apa Kak? Kenapa Kakak nangis?” tanya Claudia panik.
“Kakak enggak apa-apa. Tapi Kakak minta Mama temani Kakak disini. Kakak ada dirumah sakit Persada. Enggak usah panik. Kakak sehat,” sahut Laura.
Claudia segera meminta suaminya untuk kembali ke Bandung. Anjas keluar tol terdekat dan berbalik arah.
“Kamu minum dulu. Kalau bisa urus surat administrasi pasien biar clear,” Toha memaksa Laura untuk minum teh manisnya. Laura yang hafal jati diri Syahrul segera mengisi data administrasi Syahrul.
Saat mereka selesai mengisi data diri pasien polisi yang menangani kasus kecelakaan Syahrul datang untuk mencocokkan data korban. Juga untuk mengurus klaim asuransi jasa raharja.
“Kang, wakilkan dengan Akang aja pengurusan kasus ini dengan polisi ya,” pinta Laura.
“Iya, biar aku dan Toha yang jadi wakil dokter Syahrul,” jawab Adnan. Dia sejak penolakan tadi pagi memang tulus tidak terluka dan tetap ingin menjalin hubungan baik dengan Laura.
“Makasih Kang Adnan, Kang Toha,” bisik Laura. Dia terlalu bingung saat ini.
“Keluarga korban tabrak lari,” seorang suster memanggil wakil Syahrul. Saat itu data diri Syahrul belum sampai karena baru saja Laura isi.
“Saya istrinya,” sahut Laura.
“Silakan masuk Bu. Biar bertemu dokter saja,” sahut sang perawat.
“Kak,” Claudia yang baru datang langsung memeluk anak sulungnya.
“Ada apa Kak?’ tanya Anjas.
“Kita masuk Pa, Ma. Dokter baru saja panggil Kakak buat masuk,” Laura mengajak kedua orang tuanya tapa cerita siapa yang sakit.
“Anda benar istrinya?” tanya dokter yang menangani Syahrul. Claudia dan Anjas bisa menduga siapa yang sakit mendengar pertanyaan dokter pada Laura.
“Iya Dok. Ini kedua orang tua saya,” sahut Laura.
“Pasien saat ini kritis. Luka luar sudah kami tangani. Tangan kiri patah, akan dioperasi bila kondisi pasien membaik. Kami akan menangani sebaik mungkin,” dokter memberi penjelasan sambil memperlihatkan hasil foto tangan dan hasil st scan.
“Kami khawatir pasien akan koma karena benturan dikepala yang dialami,” lanjut dokter.
“Astagfirullaaaaah. Itu hasil Abang Kak?” tanya Claudia panik. Anjas menenangkan istrinya. Kebetulan dia berdiri dibelakang kursi istrinya karena hanya ada dua kursi untuk keluarga pasien.
Claudia sangat takut Laura kembali kehilangan calon suaminya. Dia tak sanggup melihat Laura kembali terpuruk seperti saat Tommy meninggal dulu.
“Dokter, bisa tidak saya urus pindah ke rumah sakit Kemala? Karena suami saya kerja disana. Dan jarak dari rumah lebih dekat ke rumah sakit Kemala,” Laura berinisiatif memindahkan Syahrul.
“Bisa saja. Tunggu sampai kantung darah dan infus pertama habis. Sambil Ibu urus admisitrasi pemindahan,” sahut dokter itu ramah.
“Baik Dok, terima kasih,” sahut Laura.
“Ma, Pa bisa minta tolong?” tanya Laura ketika mereka sudah keluar dari ruang dokter.
“Ada apa Kak?” tanya Anjas. Dia lihat anak sulungnya sedang berupaya terlihat tegar.
“Papa dan Mama ke rumah Abang. Kasih tahu anak-anak. Suruh mereka bawa baju sekolah, buku dan pakaian. Kemarin Abang pesan kalau dia pergi, anak-anak harus sama Kakak,” mengucap ini Laura terisak. Laura ingat kata-kata Syahrul malam itu.
“Oke, nanti Papa akan ke rumah Abang. Sekarang kamu urus dulu administrasi pemindahan Abang. Dan minta di rumah sakit Kemala sudah siap terima dia,” Anjas memeluk Laura erat.
“Sebentar Pa, aku hubungi temanku biar dia yang bantu urus,” Laura langsung mengambil ponselnya.
“Wa’alaykum salam Dok. Apa saya mengganggu?” tanya Laura saat hubungan teleponnya sudah diangkat oleh Ilyas.
“Saya sedang di rumah sakit Persada. Dokter Syahrul kecelakaan dan sedang kritis. Bisa bantu urus pemindahan ke rumah sakit Kemala?” pinta Laura.
“Baik saya tunggu,” dan telepon pun diputus.
***
Namira masih diam sejak masuk mobil. Sejak tadi Ilyas memegang erat dan menciumi jemarinya. Dia belum siap bicara. “Honey, harusnya jangan dihindari. Kan tadi Ayah sudah kasih kesempatan kalian bicara. Ayah sama sekali enggak marah. Ayah ingin kedepannya rumah tangga kita adem tanpa beban masa lalu.”
Ponsel Ilyas bunyi dan Ilyas menerima dengan blue tooth.
“Assalamu’alaykum,” sapa Ilyas saat melihat siapa yang menghubunginya.
“Enggak ganggu. Saya free koq,” sahut Ilyas ramah.
“Astagfirullaaaah. Koq bisa? Oke saya akan menuju kembali ke rumah sakit. Maksimal 40 menit saya segera sampai,” jawab Ilyas.
“Honey, kamu telepon bik Iyah. Kita kembali sebentar ke rumah sakit ya. Teman Ayah kecelakaan dan kondisinya kritis. Istrinya minta Ayah buat urus kepindahannya ke rumah sakit tempatnya kerja,” Ilyas meminta pengertian Namira.
“Iya enggak apa-apa,” jawab Namira. Dia pun segera menghubungi bik Iyah menjelaskan kondisi mereka yang tertunda sampai rumah.
“Yah, snelli nya,” Namira mengingatkan Ilyas memakai baju dokter yang tadi dia lepas saat sudah dimobil. Mereka baru saja keluar mobil dengan terburu-buru.
“Makasih Honey,” sahut Ilyas. Dia menggandeng Namira ke IGD.
“Yas,” sapa Laura begitu melihat Ilyas datang.
“Bagaimana bisa dokter Syahrul kecelakaan?” tanya Ilyas.
“Aku dapat info dari polisi yang menangani kasusnya. Jadi dia itu korban. Dia sedang berhenti di lampu merah. Ditabrak truk dari arah berlawanan,” jawab Laura.
“Kamu duduk dulu Honey. Eh maaf, kenalkan ini tunanganku,” Ilyas sampai lupa mengenalkan Namira pada Laura karena langsung bertanya masalah Syahrul.
“Honey, ini Laura pemilik panti asuhan tempat Ayah kerja sosial,” Ilyas berbisik pada Namira.
“Laura.”
“Namira.”
“Bisa bantu pindah ke rumah sakit Kemala? Dan minta juga rumah sakit Kemala siap terima dia,” pinta Laura dengan penuh harap.
“Honey kamu tunggu sini sebentar ya. Ayah masuk sama Laura urus pasien,” Ilyas mengecup kening Namira yang sudah duduk.
“Iya, enggak apa-apa. Aku tunggu sini,” jawab Namira. Padahal sebenarnya dia takut bila kembali bertemu dengan Wisnu.
Saat itu Toha dan Adnan sudah kembali ke kantor untuk mengurus mobil Syahrul dan mengambil barang-barang didalam mobilnya. Adnan dan Toha tahu didalam mobil ada tas kerja Syahrul.
\===================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta