
Ilyas sedang asyik menjaga kedua keponakannya yang sedang bermain ayunan di taman dekat rumah ibunya, saat terdengar suara tangis bayi tak jauh dari tempatnya duduk. Dia celingak celinguk mencari bayi yang semakin terdengar jelas suara tangisnya. “Gilang, Galang, ayok kita pergi. Paman mendengar ada adik bayi menangis,” Ilyas mengajak kedua anak balita dengan selisih 2 tahun itu. Digandengnya keduanya sambil mendatangi arah asal suara.
Ilyas melihat seorang anak perempuan berusia sekitar 10 tahunan yang sedang menggendong seorang bayi yang dia perkirakan belum berusia 2 bulan. “Adek, adik bayimu kenapa?” tanya Ilyas lembut, tak ingin anak perempuan itu kabur ketakutan.
“Mungkin dia haus Paman,” jawab anak gadis itu.
“Lalu ke mana ibumu? Kenapa dia tak menyusui adikmu?” Ilyas masih bingung.
“Bibi sedang mencuci agar kami bisa dapat uang untuk makan, jadi Ilham menangis mencari bibi” jawab perempuan kecil itu.
“Jadi dia anak bibimu? Namamu siapa sayang?” tanya ilyas lembut.
“Iya, dia anak bibi Namaku Nindiya,” jawab Nindiya atau yang biasa dipanggil Nindi sambil mengguncang pelan adiknya agar tak menangis.
“Apa biasanya Ilham minum ASI? Dan sekarang bibimu mencuci di mana?” tanya Ilyas.
“Ilham biasa minum ASI, bibi mencuci di rumah seberang itu,” Nindi menunjuk rumah bercat hijau di seberangnya.
“Siapa nama bibikmu? Agar paman tak salah bicara nanti.” tana ilyas kembali.
“Nama bibi Namira.”
“Baik, sebentar ya. Paman akan memberitahu bibimu agar kamu dan Ilham bisa ikut dengan paman. Kalian menunggu di rumah paman saja,” tanpa berpikir panjang Ilyas tergerak untuk menolong ibu bayi Ilham yang belum pernah dilihatnya.
Ilyas yang memang orang lama di lingkungan itu tentu banyak dikenal masyarakat lingkungan. Sehingga tak sulit saat dia mengatakan akan membawa Nindi dan Ilham untuk menunggu Namira selesai mencuci di rumahnya. Sang pemilik rumah di mana Namira bekerja sangat mengenal almarhumah ibu Ilyas.
Ilyas mengambil alih menggendong Ilham, dan meminta Nindi menggandeng Galang yang masih berusia 3 tahun untuk menuju rumahnya. “Bik, tolong siapkan su5u hangat dan roti untuk Nindi.” Ilyas meminta asisten rumah tangga yang sudah mengasuhnya sejak dia remaja untuk memberi Nindi roti sebagai pengganjal perut.
“Baik Den,” jawab si bibik.
“Sini, kamu duduk di sini bersama adik Gilang,” ajak Ilyas, sedang Ilham sudah dia tidurkan di box Galang. Bayi itu tertidur dalam pelukkan Ilyas karena terlalu lelah menangis.
“Teh, bisa bicara?” tanya Ilyas berbisik di meja makan, saat itu Novia sedang mengamati layar laptopnya. Entah urusan perkerjaannya, entah urusan kuliahnya karena sang kakak sedang mengambil kuliah S2.
“Ada apa?” tanya Novia, dia aneh terhadap sikap adiknya yang terkesan misterius karena bicara sambil berbisik.
“Aku hendak menolong orang, tapi tentu dengan kerja sama dengan teteh. Ibu bayi yang aku gendong tadi tak punya pekerjaan tetap. Aku juga belum melihat orangnya. Tapi tadi ibu haji Miradz bilang, si ibu sering merengek minta kerjaan asal bisa beli makan untuk dirinya dan keponakannya. Ibu si keponakan adalah kakaknya, kerja menjadi TKW di Taiwan tapi lama tak berkabar. Sedang uang kiriman dari Taiwan habis dibuat judi oleh suami sang kakak sehingga Namira minta kakaknya jangan mengirim uang lagi pada suaminya. Kalau mau kirim ya ke rekeningnya karena buat hidup Nindi. Tapi sudah satu tahun sang kakak tidak mengirim uang lagi sehingga dia dan Nindi terlunta-lunta.” ilyas mulai menceritakan latar belakang ibunya ilham.
“Aku ingin ibunya ilham bekerja tetap di sini, dia bisa membawa Nindi dan Ilham. Di sini biar dia bantu-bantu bibik sekedarnya. Yang penting dia dan Nindi tak kekurangan makan. Aku akan sokong biaya makan mereka kalau teteh tidak mau memberikan mereka makan. Soal tempat tinggal nanti aku tanyakan kalau dia sudah datang. Hanya aku tak mau dia tinggal di sini karena tidak baik untuk rumah tangga Teteh. Dia hanya datang ke sini jam 8 pagi dan pulang jam 5 sore seperti pegawai saja,” ilyas melengkapi maksudnya meminta izin pada Novia.
“Assalamu’alaykum,” sapa seorang perempuan lirih.
“Bibi …,” Nindi memanggil seorang perempuan cantik yang masih sangat muda datang dengan pakaian yang lusuh dan sedikit basah berdiri ragu di depan pintu rumah itu.
“Wa’alaykum salam, silakan masuk Non,” dengan ramah bibik mempersilakan Namira masuk .
“Den, Non, itu ibu si bayi sudah datang,” bibik memberitahu Ilyas dan Novia perihal kedatangan Namira.
“Ayok atuh Teh, Teteh yang tanya-tanya. Kalau sesama perempuan ‘kan lebih enak,” ilyas mengajak kakaknya untuk menentukan bagaimana pertolongan yang terbaik untuk ibunya ilham.
“Ibuk, maaf merepotkan,” dengan kedua tangannya, perempuan itu mengambil tangan kanan Novia dan menciumnya dengan hormat.
“Duduk, siapa namamu?” tanya Novia.
“Saya Namira Buk,” jawab Namira lirih dan dia duduk dengan patuh.
“Kamu tunggu sebentar ya,” Novia langsung bergegas masuk kamarnya lalu keluar dengan membawa handuk dan baju kering miliknya. “Kamu ganti dulu. Bajumu basah. Kamu bisa demam, padahal kamu sedang memberi ASI untuk anakmu.”
Tanpa membantah Namira menerima handuk dan baju yang diberikan oleh pemilik rumah, dan berjalan ke belakang diantar bibik yang kebetulan baru mengantar teh panas baginya.
“Di mana kamu tinggal dan bersama siapa?” tanya Novia ketika Namira sudah duduk di depan sambil mendekap ilham yang sudah dia beri ASI.
“Saya tinggal dengan Nindi dan Ilham di belakang masjid di ujung perumahan Buk,” jawab Namira.
“Berapa usia ilham dan mengapa kamu membiarkan ilham dalam gendongan Nindi dan kamu mencuci di rumah bu hajah Miradz?” tanya Novia lagi.
“Nindi sekarang berusia 9 tahun. Nindiya adalah anak kakak perempuan saya, Almira yang menjadi TKW di Taiwan. Nindi ditinggal bekerja sejak umur 6 tahun. Awalnya Nindi diasuh oleh neneknya dan bapaknya. Saat sang nenek mulai sakit, bapaknya Nindi meminta saya membantu ibunya merawat Nindi. Akhirnya saya mulai tinggal dengan mereka walau harus jauh ke kampus. Saat nenek Nindi meninggal saya penuh mengasuh Nindi,” Namira menarik napas sejenak. Agak berat untuk meneruskan cerita hidupnya.
“Awal kakak pergi, semua uang yang dikirim ke suaminya bisa membuat keluarga mereka hidup membaik. Rumah kakak pun bisa dibangun. Tapi lama-lama kakak ipar saya menghabiskan uang kiriman kakak hanya untuk berjudi. Puncaknya kami didatangi debt kolektor karena kakak ipar tak pernah membayar angsuran pinjamannya,” kembali Namira menarik napas dan kali ini dia menjeda dengan mencecap teh yang tersedia untuknya.
================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta