
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Sepulang dari Singapore, Julia tak bisa menghindar lagi dari keharusan menikah. Undangan sudah disebar. Gedung dan semua kebutuhan pengantin sudah siap. Dan dia berdua Bastian sengaja tidak ambil cuti karena di rumah mereka hanya akan bengong tanpa kegiatan apa pun. Semua diurus oleh bubu dan amah. Dua perempuan perkasa yang tak ingin Bastian atau pun Julia membantah kemauan mereka.
“Kamu tu ya, tinggal dua minggu lagi pernikahan, enggak kelihatan repot,” genk lima sekawan sedang makan siang di kantin kantor, karena malas keluar disebabkan hujan saat jam makan siang.
“Emangnya uni Fanny dan uda Harun. Semua diurus sendiri. Lha aku? Ngomong satu patah kata aja enggak boleh. Amah dan bubu cuma tanya, konsepnya mau seperti apa? Lalu mereka langsung urus sesuai yang kita mau. Mereka tanya warna mau dominan apa? Kita jawab, lalu mereka atur. Kita cuma jadi wayangnya mereka aja. Paling pas beli cincin dan pesan model kebaya akad aja aku yang pilih sendiri. Kan resespsi pakai baju adat Sunda,” sahut Julia kalem. Dia mau marah bagaimana terhadap amah dan bubu?
Fanny dan Harun juga akan menikah. Satu minggu setelah Julia. Dan Bastian memastikan lima sekawan akan berangkat dengan akomodasi ditanggung dirinya. Dari pernikahan Fanny nanti Bastian akan langsung membawa Julia ke Australia untuk berbulan madu.
“Eh seragam kalian sudah jadi belum?” tanya Julia. Dia sudah memberi bahan pada keempat sahabatnya itu.
“Belum lah. Baru juga kamu kasih satu minggu lalu,” sahut Nia.
“Ih, punyaku sih udah. Penjahitmu lemot,” Vita menjawab sudah.
“Punyaku sore ini bisa diambil,” sahut Yuni.
“Punyaku belum aku tanya lagi, sahut Fanny.
“Uni, tadi boss nanya tentang penginapan kita selama di Solok. Juga akomodasi. Kalau bisa hotel aja. Dan disewakan mobil buat kami jalan-jalan disana sebelum kami pulang. Biar semua dia yang bayar,” Julia memberitahu pesan Bastian untuk Fanny. Mereka memang hanya keluar ber lima. Bastian sibuk dengan team marketing termasuk Harun.
“Kalau penginapan sudah. Ada rumah kosong yang aku sudah tanyakan buat disewa satu minggu untuk kamu dan teman-teman. Tapi kalau mobil belum. Nanti malam aku minta paman carikan,” sahut Fanny.
“Drivernya yang bagus jangan ugal-ugalan dan jangan merokok ya Uni,” pinta Julia. Julia sendiri juga menyewa satu penginapan dekat rumahnya untuk semua teman-teman dekat dan keluarganya yang akan datang di pernikahannya nanti d Bogor termasuk untuk Rhisma dan Dade yang akan datang dari Singapore.
***
“Papa dan mama sudah berangkat ke Bandung,” Laura melipat sajadahnya. Dia dan Syahrul baru saja selesai salat Isya.
“Besok kita terapi dulu kan?” tanya Syahrul memastikan.
“Iya, biar enggak harus cepat-cepat kembali ke rumah sakit.
“Sekarang makan ya, trus langsung minum obat,” Laura menyiapkan makan malam buat Syahrul. Sejak siang tadi dia mulai memberesi semua peralatan milik mereka. Tak terasa dua bulan dia menjadi penghuni rumah sakit ini menemani Syahrul.
“Ini, mau tambah apa?” tanya Laura. Dia memberikan menu rumah sakit pada Syahrul dan menyodorkan lauk yang dia beli sebagai tambahan.
“Ini dulu aja, nanti Abang ambil sendiri lauk tambahannya,” sahut Syahrul.
Laura meletakkan piring lauk di meja depan Syahrul. Dia lalu kembali ke meja makan mengambil jatah makannya lalu dia bawa ke sofa, karena Syahrul duduk disana bukan di meja makan. Laura masih tak tega mengajak Syahrul banyak bergerak pindah tempat.
Laura tadi siang hanya membeli nasi putih satu bungkus untuk dia makan siang dan malam. Hanya lauk yang dia beli banyak. Untuk dia makan siang dan malam juga untuk tambahan Syahrul.
“Ini perkedelnya Abang mau?” Laura menyodorkan perkedel kentang pada Syahrul.
“Abang lagi pengen perkedel jagung manis deh,” jawab Syahrul.
“Sama,” sahut Laura. “Besok aku minta bik Sanah ngebuatin deh,” sahut Laura. Karena dia memang sedang kepengen perkedel jagung manis.
“Atau bilang ke Nazwa aja, minta si bibik yang bikinkan kalau bik Sanah repot,” Syahrul tak ingin terlalu membuat keluarga Laura makin repot dengan kehadirannya.
“Jadi rencana Abang bagaimana?” tanya Laura.
“Soal apa?” Syahrul balik bertanya.
“Tempat tinggal sehabis Abang pulang dari rumah sakit,” Laura sebenarnya tak enak membahas ini. Tapi mumpung mereka sedang berdua, mereka harus tuntas membahas agar tak ada intervensi dari siapa pun.
“Kalau Abang sih, selama masih ada papa dan mama, ya Abang tinggal di rumah uwak saja. Menghormati beliau. Tapi begitu mereka pulang, Abang balik ke rumah aja. Boleh?” tanya Syahrul. Dia tak ingin Laura terluka.
“Aku ikut imamnya aja. Aku tanya biar nanti kalau ada yang tanya, kita sudah satu kata,” sahut Laura.
“Tapi Abang pindah ke kamar bawah ya kalau pulang ke rumah Abang,” pinta Laura. Dia tahu di rumah Syahrul hanya ada satu kamar kosong di lantai bawah selain kamar bibik dibelakang.
“Iyaaaaaaaaaaa,” sahut Syahrul. Kamar tidurnya dirumah pribadinya memang di lantai dua. Juga kamar kedua anaknya. Selain itu di lantai dua masih ada satu kamar kosong yang untuk tamu bila mereka menginap di rumahnya.
Laura membereskan semua piring kotor dan menyimpan sisa lauk di kulkas kecil di ruangan itu. Sesudah dia bersih cuci tangan baru dia memapah Syahrul untuk mencuci tangan di wastafel.
“Sudah?” tanya Laura dengan sabarnya.
***
Nazwa dan Fahri kaget ketika salat Subuh, opanya yang akan menjadi imam mereka. “Omaaa,” seru Nazwa melihat Claudia.
“Cucu cantik Oma,” Claudia memeluk Nazwa dan mencium pipi serta kening anak perempuan Syahrul tersebut. Nazwa memeluk erat Claudia.
“Kenalin, ini oma Mieske dan didepan juga ada opa Gerhard. Dan ada opa buyut Greg, dia masih tidur di kamar,” Claudia meminta Nazwa memberi salim pada kedua orang tua almarhum Tommy. Opa Greg tentu tak ikut salat karena dia bukan muslim.
“Ini anak sulung Laura,” Claudia menjelaskan siapa Nazwa pada pasangan calon besannya itu. Sejaak meninggalnya Tommy memang Mieske dan Gerhard menganggap Laura sebagai anak mereka.
“Wah cantik. Sini sayang sama Oma,” tak terasa ada air menggenang di mata Mieske. Dia tak bisa menahan haru. Mieske tak menyangka Laura akan menikah dan langsung mendapat anak usia remaja.
“Aku salim opa dulu,” Nazwa pamit pada Mieske dan Claudia lalu maju agak kedepan ke tempat shaf lelaki. Dia mencium tangan Anjas dengan takzim. Setelah Anjas mencium keningnya dia menyalami Gerhard.
“Opa, apa aku boleh mbolos hari ini buat ikut jemput Daddy?” tanya Fahri saat selesai salat.
“Besok saja kamu dan kakak mbolos. Hari ini enggak ya sayang. Besok hari bahagia Daddy dan Mommymu,” sahut Anjas.
\==================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL UNREQUITED LOVE YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta