TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
KAMU KUAT?



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE UCAPKAN SELAMAT MEMBACA



Pagi ini kak Dipta dan uni Franda datang ditemani mami Clara. Mereka datang dari Jakarta, karena berniat mengadopsi anak dari yayasan yang Laura pimpin.


“Uni serius mau langsung ambil mereka?” Laura kembali bertanya untuk meyakinkan. Sejak kakak beradik ini datang memang Laura sudah bertekad tak akan memisahkan keduanya.


Mereka yang Laura maksud adalah Daren bayi lelaki berusia 7 bulan dan Carla sang kakak perempuan yang berusia 28 bulan. Keduanya yatim piatu. Ayahnya meninggal di negeri Jiran, bekerja sebagai buruh gelap. Dan sang ibu meninggal ketika melahirkan Daren.


Yang menyerahkan mereka adalah bibi mereka, adik kandung ayah kedua batita itu. Dia juga berkekurangan dan punya bayi usia 11 bulan sehingga tak mampu merawat kedua keponakan terkasihnya. Diantar pak RT tempat mereka tinggal, sang bibi dengan berat hati menitipkan keponakannya di yayasan milik Laura tersebut.


“Uni serius La, biar sekalian cape. Enggak dua kali urus adopsi,” jawab Franda sambil menciumi Daren yang berada dalam gendongannya.


“Lala sudah serahkan berkas Uni dan kak Dipta. Nanti akan ada team survey dari pengadilan yang akan menilai apakah Uni dan Kakak layak menjadi orang tua asuh. Maaf, itu prosedur resmi. Lala sudah memberi rekomendasi. Semoga cepat selesai agar mereka bisa segera Uni bawa pulang,” dalam keluarganya Laura memang sering dipanggil Lala. Keluarga bu Clara yang kenal sejak kecil jelas memanggil Laura dengan nama kecilnya di rumah.


“Apa enggak bisa ada dispensasi La? Kami bawa pulang langsung?” rengek uni Franda yang langsung jatuh cinta pada baby Daren.


“Jangan bilang Mami sudah jatuh cinta pada Daren,” Dipta menggoda istrinya. Dan sejak tadi mereka melihat Carla, mereka langsung , meminta gadis kecil itu memanggil mami papi.


“Carla koq namanya mirip Oma ya?” bu Clara menoel pipi Carla yang sedang digendong kak Dipta.


“Tentu saja, karena mereka ‘kan cucu Oma,” kak Dipta langsung menjawab perkataan mamanya.


***


“Papi pulang dulu ya, Papi akan siapkan kamar kalian. Lusa Papi akan kembali. Papi belum urus cuti,” kak Dipta pamit pada Carla yang sejak tadi tak mau turun dari gendongannya. Tak biasa gadis kecil itu berlaku demikian pada tamu yang datang. Mereka seakan punya ikatan chemistry yang kuat begitu bertemu.


Karena Carla terus rewel, akhirnya uni Franda berinisiatif akan menginap dua hari guna mengenal lebih dekat keseharian kedua calon anaknya. Agar dia tak kaget dan sudah tahu kegiatan rutin keduanya.


Oma Clara tentu saja tak mau ikut pulang ke Jakarta dengan Dipta, dia  memilih ikut menginap di Cimahi. Barusan mama Clara belanja pakaian ganti, terutama pakaian dalam untuk dirinya dan Franda. Karena mereka hanya bawa 1 baju ganti saja sebab awalnya tak punya rencana untuk menginap.


Untuk lebih leluasa Laura meminta mama Clara dan uni Franda menginap di rumah uwak Ganis. Tentu saja mereka membawa Daren dan Carla menginap di rumah, bukan di panti.


“Kakak ikut Mami ya, kita antar Papi ke mobil,” uni Franda membujuk Carla agar membolehkan suaminya pulang ke Jakarta. Namun gadis itu tak mau melepas tangannya memeluk leher Dipta.


“Fine, kita ke rumah Mommy Lala, aja yok,” Dipta mengajak istri dan Carla ke rumah Laura. Dia akan kembali ke Jakarta bila Carla sudah tidur saja. Dia kasihan, mungkin Carla merasa mendapat sosok ayah yang selama ini hilang.


***


Bastian masih diam, dia tak suka ternyata Julia punya kekasih selain dirinya. Sedang Julia hanya senyam senyum melihat kebodohan monster yang jabatannya CEO itu.


‘Rupanya, kalau urusan cinta, setinggi apa pun jabatannya. Dan sepintar apa pun kemampuan akademisnya. Nalar langsung tak berguna bila cemburu,’ Julia hanya membatin sambil terus cengar cengir.


“Ini … buat siapa aja?” Bastian akhirnya membuka suara.


“Kan tadi aku sudah bilang, buat para pacarku,” goda Julia.


“A’a serius,” Bastian bicara lirih tapi jelas Julia dengar suaranya ditekan karena marah.


“Jangan gede ambeg, cemburu koq sama keponakan sendiri.” Julia langsung menuju kasir dan mengeluarkan kartu ATM miliknya.


‘Eh … apa dia bilang? Keponakan?’ Bastian malah linglung. Dia baru sadar saat melihat Julia sudah selesai transaksi.


“Honey, sorry, A’a malah jadi bengong dan kamu sudah selesai mbayar. Sorry.” Bastian mengambil alih semua belanjaan di tangan Julia.


“Kita mau ke mana lagi?” tanya Bastian setelah dia selesai menaruh roti unyil dan asinan.


“Beli talas dan pisang tanduk sedikit deh, buat oleh-oleh,” Julia menuju tukang talas di depan toko roti. Saat hendak menawar pisang tanduk, Julia teringat mantan calon mertuanya. Mami August paling suka pisang tanduk dari Bogor karena bisa milih yang tua. Jadi kalau Julia pulang ke Bogor dia pasti memberi maminya August setandan pisang tanduk tua.


“Kamu kenapa?” Bastian mengusap air mata disudut mata Julia. Sejak tadi dia memang sedang memperhatikan wajah manis gadis yang dia cintai ini. Sehingga saat ada sedikit air mata keluar dia langsung melihatnya.


“Aku ingat mantan calon mertuaku. Dulu setiap aku pulang dari rumah, aku pasti akan membawakannya setandan pisang tanduk tua untuknya. Karena beliau paling suka pisang tanduk.”


Sesuai komitmen, mereka akan selalu jujur. Maka Julia dengan berat hati membuka cerita lama itu. Kalau bu Tuti paling suka asinan Bogor. Julia hafal karena hampir tiap Minggu dia juga memberi oleh-oleh untuk bu Tuti yang dia titip ke pak Adi. Asinan untuk bu Tuti dan roti unyil bagi kedua pacarnya.


Bastian memeluk pundak Julia dengan erat dan mengecup puncak kepala perempuan itu. “Mau nyobain soto mie khas Bogor enggak A’?” tanya Julia mengalihkan cerita.


“Kamu kuat makan mie?” tanya Bastian, dia bertanya seperti itu, karena mereka baru saja selesai sarapan ketika keluar dari rumah Julia. Takutnya Julia kekenyangan.


“Kuat lah, ‘kan kita sarapan sudah dari tadi,” balas Julia. Kalau soal kuliner memang Julia tak pantang. Terlebih soto mie Bogor yang segar.


“Ayok, kalau begitu A’a taruh pisang dan talas di mobil dulu,” jawab Bastian. Dia mengambil sebagian pisang tanduk dan talas. Sidanya dibawakan oleh penjualnya. Dia simpan pisang dan talas di bagasi. Karena hanya roti yang ditaruh di jok belakang.


***


================================================================ 


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta