
Kembali ke hari Senin, kembali ke rutinitas kerja bagi yang bekerja di kantoran, tapi tidak bagi perempuan lembut nan ayu seperti Laura. Dia tak punya jam kerja kantor. Di panti asuhan milik bibinya yang sekarang sudah dibawah kepemimpinannya, tak ada jam kantor juga. Semua bekerja sukarela waktunya. Semua pegawai di panti adalah orang-orang yang bersedia membagi waktunya 7 x 24 jam tanpa henti. Walau dalam kesehariannya tidak seperti itu. Siapa pun bisa minta libur asal bisa saling mengisi. Tak pernah ada rekrutmen pegawai secara resmi. Semua bekerja karena ada yang membawa. Dan sebelum bekerja mereka sudah tahu bukan ijazah tolok ukur bekerja di panti ini, melainkan rasa welas asih pada penghuni panti. Soal gaji Laura memberikannya diatas UMR. Makan dan kamar semua dari panti, bahkan internet pun free karena di panti ada free wifi.
Hari ini ada 2 orang yang diantar mang Ujang untuk bekerja di panti. Sepasang suami istri berusia tak muda tapi belum masuk lanjut usia, istrinya berusia 32 tahun dan sang suami 40 tahun. Mereka butuh pekerjaan karena toko tempat mereka kerja terbakar. Dan pemilik toko tak bisa menampung mereka lagi sebab belum ada modal untuk memulai usaha baru.
“Mamang dengan bibik, serius sanggup kerja dengan kami? Kami tak bisa memberi berlebih,” Laura sengaja menanyakan keseriusan pasangan itu. Bahkan menurut cerita mang Ujang, pakaian mereka saja hanya yang melekat di badan. Tapi beberapa hari ini ada yang memberi sumbangan pakaian.
“Kami yang penting bisa berteduh Non, tidak diberi makan pun kami sanggup,” jawab sang istri yang bernama Eni.
“Iya Non, kami butuh pekerjaan dan tempat berteduh,” sang suami yang bernama Asep menguatkan tekad istrinya.
“Saya hanya bisa memberi pekerjaan seperti yang mang Ujang ceritakan. Mamang dan Bibik dipekerjakan di panti, tidak seperti Mang Ujang yang bekerja dengan Bibi saya. Tentu pekerjaan dan fasilitasnya berbeda, terlebih Mamang dan Bibik orang baru. Biar bagaimana pun saya akan memberi masa percobaan 3 bulan. Soal pekerjaan nanti bisa Karni yang menjelaskan rincinya. Dan soal makan, di sini semua sama. Sama-sama masak dan sama-sama makan. Ada jadwal masak serta pekerjaan lainnya. Itu diatur oleh Nengsih. Soal kamar, nanti mang Ujang yang sekalian antar. Soal gaji semua diatur oleh Karni ya,” Laura hanya bicara seperti itu, dia tak lagi bertanya apa kebisaan calon pegawai baru. Karena bila pegawai baru ternyata tak bisa apa pun yang akan ditegur adalah pemberi rekomendasi. Itu sebabnya sebelum memberi rekomendasi semua pegawai lama lah yang akan menilai calon pegawai baru karena tak ingin nama mereka yang jadi tercemar.
Hari ini jadwal dokter Angka, dokter anak yang sangat lembut. Laura sang dokter masih saja cantik walau usia hampir setengah abad. Rupanya jadwal imunisasi bagi para penghuni panti. Dan seperti biasa akan dilanjut dengan posyandu bagi masyarakat umum di sekitar panti. Laura ikut membantu kegiatan posyandu. Dia tak ada jarak dengan para pegawai dan para ibu penggiat PKK yang melaksanakan posyandu. Hari ini panti asuhan memberikan menu bubur ayam dalam wadah bagi para balita di posyandu. Dengan cekatan Laura membagikan jatah bubur yang tersedia.
***
Bastian yang dilarang minum kopi hanya terdiam tak berani membantah. Dia memakan tahu bakso dua buah dan minum teh hangatnya.
“Uda, nanti bayar di kantin ya. Sekarang aku balik ke ruanganku,” Julia menepuk bahu kiri Harun dan keluar dari ruangan Fanny tanpa pamit pada pemilik ruangan dan Bastian begitu kopi di gelasnya habis.
Tentu saja Bastian jadi tak enak di antara dua orang itu. “Saya juga pamit, terima kasih bakso tahunya.”
Fanny tak enak sendiri, mau kabur ke mana? Sedang ini adalah ruangannya. Mau ngusir juga tak enak karena ini bukan di rumah melainkan di kantor. “Masih ada yang ingin anda bicarakan Pak?” tanya Fanny kaku.
“Kamu tahu dan sangat tahu, masih banyaaaaaaaaak yang harus kita bicarakan. Tak akan pernah selesai bila kamu selalu menghindar seperti ini,” balas Harun. Lirih tapi jelas.
“Ini kantor dan jam kerja, Anda harus tahu itu Pak!” jawab Fanny sengit.
“Baik, kapan kamu kasih aku waktu untuk bicara bukan di jam kantor? Sedang aku ke rumahmu saja kamu menghindar. Aku masuk kerja di sini kalau tidak karena rekomendasi pak Achdiyat pasti akan kamu tolak sejak CV ku masuk ke mejamu,” balas Harun tak kalah sengit walau tetap dengan suara lirih. Dia tak ingin ada dinding yang mendengar.
***
“Yank,” Bastian kembali menyapa lembut Julia.
“Maaf, ada yang perlu saya kerjakan Pak?” tanya Julia hormat. Bastian yang mendengar jawaban formal sekretarisnya itu merasa serba salah.
“Baiklah, saya kembali ke ruangan saya,” Bastian pun mencoba menyerah kali ini. Dia masuk ke ruangannya. Sementara Julia ngebut menyelesaikan semua pekerjaannya yang tertunda.
‘Besok semua harus sudah selesai, aku tak ingin ada hutang pekerjaan!’ tekad Julia. Dia langsung fokus pada layar monitor komputer kantornya. Tak terasa sudah pukul 17.00. waktunya dia pulang. Fanny sudah menunggunya sejak 5 menit lalu, karena tadi dia minta Fanny untuk datang ke ruangannya sebelum pulang. Bastian baru saja sampai di depan meja Julia ketika melihat gadis itu sedang bersiap pulang tapi sudah ditunggu oleh Fanny.
“Ada apa kau memintaku ke sini? Kenapa bukan kau yang ke ruanganku?” desak Fanny.
“Kamu bisa nemani aku 30 menit sebelum pulang?” Tanya Julia lirih.
“Sore Pak,” sapa Fanny saat melihat Bastian keluar ruangannya hendak pulang.
“Sore Fann, saya duluan ya,” balas Bastian singkat. Selintas diliriknya gadis pujaan yang masih saja memasang wajah datar untuknya.
“Aku ingin kamu membantuku satu kali ini aja,” pinta Julia saat mereka duduk di cafe seberang kantor mereka.
“Ada apa? Kalau aku bisa, pasti aku akan bantu. Kamu tahu, kita sahabatan sejak lama,” balas Fanny sambil memandang mata Julia yang terlihat mulai berair.
Fanny tak tega melihat Julia yang mulai terisak. “Baik, aku akan membantumu, selama itu tak melanggar hukum dan kamu mau menceritakan semuanya dari awal. Aku tak mau hanya sebagian cerita saja,” akhirnya Fanny menjanjikan akan membantu Julia.
\=========================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta