
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
================================================================================
Bayu dan Nadia melihat ketulusan cinta Ilyas untuk Nindi dan Ilham.
“Ayah ganti baju dulu baru gendong Dedek ya,” Ilyas memberi kecupan sebelum dia masuk ke kamarnya.
“Ya ampuuuuuuuun, kamu ngegemesin banget sih,” Bayu yang baru melihat Ilham ingin menggendongnya karena dia suka pada anak kecil. Tapi Ilham sudah ngambek karena ingin ikut Ilyas.
“Ikut Paman aja sini sambil nunggu Ayah,” bujuk Bayu.
“Haha, dia mana mau,” jawab Ilyas dari ujung ruangan. Dia sudah fresh dengan kaos santai dan celana dibawah lutut.
“Ilyas.” Ilyas menyodorkan tangan pada Bayu sambil menggendong Ilham yang sudah menyembunyikan kepalanya diceruk leher ayahnya.
“Bayu.”
“Kamu sembunyi gitu, malu atuh sama Paman dan Bibi,” Ilyas berbalik badan agar wajah Ilham terlihat oleh Bayu dan Nadia. Dia bicara untuk Ilham.
Namira membawakan Ilyas sirop seperti Bayu dan Nadia. “Minum Yank.”
Mereka ngobrol santai dengan Ilyas tetap berdiri sambil mengayun Ilham. Lelaki kecil itu tertidur digendongan hangat ayahnya. Sesudah Ilham tidur barulah Ilyas duduk memangku Ilham.
“Taruh kamar aja Yah,” pinta Namira.
“Nanti dia njerit kalau enggak lihat Ayah,” balas Ilyas. “Sudah biar dia puas dulu.”
“Mir. Aku dan Bayu mau bercerita. Dan aku rasa ini penting untukmu. Aku tak ingin kamu terluka atau kamu jadi ragu dengan langkahmu,” Nadia memulai percakapan serius.
“Pak Ilyas, enggak apa-apa ya kami langsung cerita. Karena ini juga akan berpengaruh ke hubungan Bapak dan Mira nantinya,” lanjut Nadia.
“Kayaknya waktu kenalan di kampus saya susah enggak mau dipanggil Om. Sekarang malah dipanggil Bapak,” Ilyas keberatan akan sebutan bapak yang Nadia ucapkan.
“Ah iya, saya poho ( lupa ). atuh bingung manggil apah. Okelah. Akang wae nyak?” sahut Nadia yang mengatakan akan memanggil akang saja pada Ilyas.
“Tadi kami membesuk kerabat Bayu. Ternyata dia adalah ibunya Wisnu. Dan yang mengagetkan kami ternyata sejak kalian pacaran Wisnu sudah tunangan,” Nadia memulai ceritanya.
“Serius?” tanya Ilyas tak percaya. Sementara Namira tak bisa berkomentar apa pun. Dia kaget ternyata selama ini pacaran dengan tunangan orang lain.
Lalu Nadia bercerita semua yang Wiwin katakan tanpa ditambah atau dikurangi.
“Kemarin dia bilang pada saya, Namira miliknya karena mereka belum pernah putus. Seakan dalam kisah mereka, Namira lah yang bersalah karena meninggalkan dirinya.” Ilyas menguatkan yang Wiwin katakan pada Nadia. Bahwa Wisnu mengakui Namira miliknya.
“Honey, kemarin ‘kan Ayah sudah bilang kamu harus bicara dengan dia. Nah kebukti ‘kan. Kalau tidak diselesaikan akan berkepanjangan. Seakan kamu yang salah. Padahal dia yang tidak jujur padamu,” Ilyas mengusap punggung Namira lembut.
“Sekarang aku jadi pengen ketemu Wisnu dan Wiwin Yank. Aku ingin kasih tahu Wiwin, kalau selama ini aku enggak taahu soal pertunangan mereka. Aku enggak mau dianggap pelakor. Dan aku yakin keluarga Wisnu menganggapku seperti itu. Dan menganggapku hanya mengincar harta Wisnu seperti yang selama ini mereka tuduhkan.” Namira kesal mengingat tuduhan keluarga Wisnu selama ini.
“Saran Kang Ilyas sangat bagus, saya setuju,” Bayu sependapat dengan Ilyas.
“Kamu punya nomor Wiwin?” tanya Namira pada Nadia.
“Ada,” Nadia langsung mengirim nomor Wiwin dan Wisnu keponsel Namira.
“Kamu temani aku ‘kan Yank?” tanya Namira. Rasanya dia tak sanggup bertemu dengan Wisnu berduaan.
“Ayah akan temani Bunda. Saat kamu bicara dengan Wisnu, biar Ayah dan Wiwin sembunyi dulu. Tapi kami ada didekatmu. Jangan takut,” sahut Ilyas. Dia tahu Namira sebenarnya sudah tak ingin bertemu dengan Wisnu setelah mengetahui keculasan lelaki yang dulu sangat dia cinta itu.
***
Semalam Laura tak pulang. Dia tidur dilantai dengan kasur angin dari rumah. Ada selimut dan bantal. Banyak penunggu yang sama-sama tidur di ruang tunggu ICU. Semua sama, tak ada yang kaya atau miskin. Semua tidur dengan alas yang mereka bawa dari rumah. Ada yang hanya dengan tikar, ada yang bawa karpet tebal.
Tadi siang sepulang sekolah Nazwa dan Fahri ditemani Claudia dan Anjas datang. Selain membawakan baju ganti mereka juga membawa vitamin dan makanan untuk Laura agar tidak drop.
Nazwa hanya bisa menangis saat bertemu Laura. “Anak Mommy dan Daddy kuat. Kita enggak boleh nangis. Kita harus doain Daddy biar cepat sadar.”
“Sekarang kalian pulang dulu ya? Besok boleh kesini lagi. Jangan telat makan. Mommy sayang kalian,” itu pesan Laura tadi menjelang sore. Dia ingin anak-anak istirahat.
Akhirnya mereka pulang bersama Claudia membawa mobil Anjas. Anjas akan menemani Laura di rumah sakit. Dia tak mau anaknya sendirian menanggung kesedihan. Rupanya Anjas dan Claudia sudah diskusi. Karena Anjas sudah membawa ransel milik Laura berisi pakaian ganti Anjas.
“Pa, nanti pas jam lima, Papa masuk duluan aja, sepuluh sampai dua puluh menit. Baru gantian ama Kakak,” Laura mempersilakan Papanya ‘bertemu’ dengan Syahrul saat jam kunjungan nanti.
“Iya Kak. Papa ingin melihat kondisi Abang,” sahut sang papa. Mereka lalu kembali duduk dilantai berlapis koran karena tak membawa tikar.
“Pa, kasurnya buang aja anginnya buat alas duduk. Nanti mau tidur kita pompa lagi,” usul Laura. Karena menggunakan alas koran sangat dingin.
“Enggak usah, sebentar lagi kan boleh masuk keruang rawat Kak,” jawab Anjas.
“Kakak jangan lupa handphone taruh sling bag. Jangan asal taruh aja.” Anjas memperingatkan Laura yanag sedang mengisi bater ponselnya.
Tadi Claudia membawakan Laura sling bag, untuk menukar tas yang Laura bawa. Akan repot bila Laura menggunakan tas kerja saat menunggu Syahrul seperti sekarang. Laura pun mengambil ponselnya dan dia masukkan di tas. Disitu juga sudah ada ponsel Syahrul yang diberikan perawat saat menggantikan baju ketika Syahrul masuk rumah sakit. Ponsel Syahrul ada di saku celananya.
Anjas masuk ruangan dimana Syahrul dirawat, dia sudah cuci tangan dan melapis pakaiannya dengan pakaian khusus ruang ICU. Begitu pun Laura. Karena ternyata boleh dua orang yang masuk.
“Assalamu’alaykum Bang,” bisik Laura ditelinga kekasihnya. Dia mencium kening dan pipi Syahrul lalu menggenggam tangan kanan lelaki yang diam terbaring tak bereaksi itu.
“Assalamu’alaykum,” Anjas pun menyapa Syahrul ditelinga kiri. Bersebrangan dengan Laura.
“Maaf Pak, Bu, bisa mundur sedikit. Sejak tadi kondisi pasien makin drop. Kami sedang memberi perlakuan khusus,” seorang dokter meminta Anjas mundur. Anjas langsung pindah kesamping putrinya agar tidak mengganggu dokter dan perawat yang tergopoh-gopoh datang.
Tiba-tiba tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit …
Monitor penunjuk grafik jantung Syahrul menunjukkan garis lurus!
“Ibu dan Bapak keluar.” pinta perawat.
“Siapkan alat kejut jantung!” seru dokter yang masih terdengar oleh Laura sebelum dia tak sadarkan diri.