TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
TANGGAL LAHIR JULIA



YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\==================================================================================


 Julia mencium pipi Bastian. “Harus cepat pulih lho, kan kita mau ke Singapore bareng,” pinta Julia. Sebenarnya itu adalah kata-kata motivasi untuk bastian agar rajin minum obat saat dia tak berada disisi lelaki itu.


“Kalau sebelum ke Singapore, A’a memintamu resmi ke bubu dan yayah dulu gimana?” tanya Bastian.


Julia langsung mengangkat wajahnya yang barusan dia sandarkan di dad4 lelaki itu. “Aku belum mikir soal itu. Tapi bisa kasih bayangan, apa yang A’a mau soal kedatanganmu ke bubu dan yayah nanti?” Julia mulai menyebut Bastian dengan A’a lagi.


“Ya memberitahu mereka, kalau A’a serius. Bukan cari pacar. Kalau boleh tunangan saat itu ya Alhamdulillah. Walau enggak perlu pakai kumpul dua keluarga besar. Hanya ada dua keluarga kita aja. Jadi selanjutnya nanti kita tinggal langsung nikah bila kamu siap. A’a enggak akan netapkan waktu. Semua tergantung kesiapanmu,” jawab Bastian tegas.


“Kalau aku nawar gimana A?” tanya Julia sambil memandang lekat mata Bastian. Dia lihat ada binar cinta teramat besar dimata itu.


“Nawar bagaimana?” tanya Bastian, dia insecure. Takut ditolak atau ditunda.


***


‘Syukurlah kalau kamu sadar diri tidak ikut hadir di pesta kelulusanmu. Apa sudah menentukan akan kuliah dimana?’ tanya August via chat. Dia bau membuka pesan balasan dari Wulandari. Perempuan muda luar biasa yang baru dia kenal. Siang ini August ikut jalan-jalan dengan team terbangnya. Dia tahu saat ini tengah malam di negara tempat tinggalnya.


‘Entah sudah berapa lama aku enggak ikut jalan-jalan dengan full team seperti ini. Saat dengan Julia aku mulai malas bergabung dengan anak-anak. Aku selalu menjaga hati dan tubuhku untuk Julia. Dan saat dengan June, aku lebih sering jalan dengan dia. Tapi aku berjanji, tak akan mau lagi mencari perempuan untuk memuaskan nafsu. Itu masa kelamku. Kedepannya aku akan selalu berupaya menolak ajakan se-tan,’ batin Agust melihat keseruan teamnya tertawa dan bercanda bersama di negara orang.


***


Wulan hanya membaca pesan yang dikirim oleh August, dia tak ingin intens berbalas pesan dengan lelaki. Entah siapa pun itu. Dia sadar posisinya. Dia tak ingin ada salah tanggap, atau hatinya merasa nyaman berbalas cerita dengan seseorang. Dia tak mau terluka. Dia hanya akan focus pada pendidikkan dan calon bayinya.


Pagi ini jadwal imunisasi lanjut dengan posyandu. Yang bertugas adalah dokter Ilyas. Dokter bujangan ganteng yang jadi idola para pegawai panti karena keramahan dan pastinya karena kegantengannya. Tapi para pegawai panti tak ada satu pun yang berniat mendekati dokter Ilyas. Karena tahu, dokter ini awalnya pernah menyukai Laura walau sekarang mundur dengan kesadaran sendiri. “Saya dengan beberapa hari lalu Faisal sakit?” tanya Ilyas pada Nengsih yang memang sedang menyuapi balita gembul itu.


“Benar Dok, dia terkena radang tenggorokan,” jawab Nengsih.


“Saya cek kondisinya hari ini ya, bisa enggak jagoan ganteng ini ikut imunisasi,” Ilyas memeriksa Faisal yang sudah dibaringkan Nengsih.


“Oke ganteng, kamu lulus dan bisa ikut imunisasi booster hari ini.” dokter Ilyas mencatat hasil pemeriksaan Faisal di buku besar juga di kartu pasien milik anak tersebut.


Wulan sibuk di depan menyiapkan makanan yang akan dibagikan pada para peserta posyandu. Setiap bulan memang posyandu dilakukan di panti. Tidak digilir keanggota. Makanan untuk peserta posyandu pun ditanggung oleh Laura pribadi. Bukan dari uang panti asuhan. Dan uang vaksin juga Laura bayarkan sendiri ke dokter yang bertugas. Sayangnya semua dokter selalu mengembalikan uang itu dalam bentuk donasi uang kas. Sehingga akhirnya uang pribadi Laura masuk ke kas panti asuhan. Tapi jalurnya memang harus seperti itu, sehingga pembukuan keuangan panti bisa dipertanggung jawabkan.


“Neng, tadi nyonya bilang semua petugas posyandu diminta makan siang di panti. Nyonya bikin lontong opor,” bik Sanah memberitahu Nengsih, Sukma dan Wulan yang sedang menyiapkan snack untuk anak peserta posyandu. Nyonya yang dimaksud bik Sanah adalah bu Ganis pemilik panti asuhan.


“Iya Bik, nanti sehabis selesai posyandu, akan saya beritahu,” jawab Sukma.


***


“Aku nawar waktunya aja,” jawab Julia.


“Iya A’a tahu kamu nawar waktunya. Tapi jadi kapan?” jawab Bastian tambah ketar ketir. Seperti menunggu gunung meletus atau jerawat pecah.


“Gimana kalau A’a udah sehat, aku langsung nunggu A’a datang ke Bogor?” tanya Julia dengan senyum manisnya.


“Are you serious?” tanya Bastian sedikit keras sambil memegang erat kedua lengan atas Julia. Dan gadis itu hanya mengangguk tetap dengan senyum manisnya. Bastian merengkuh Julia. Didekapnya perempuan yang telah berhasil membuat hatinya porak poranda itu. “Thank you my love, the light of my heart … thank you so much honey,” Bastian mengecupi mata, kening, hidung dan terakhir bibir gadis itu. Dia sangat bahagia Julia memberinya kejutan teramat manis. Dia berjanji dalam hatinya tak akan pernah membuat Julia menangis karena sedih akibat perbuatannya.


“Jadi nanti, ke kantor lagi status kita udah tunangan?” tanya Bastian menggoda.


“Iya,” balas Julia sambil merebahkan kembali kepalanya kedadda Bastian. “A’a enggak suka?”


“Mana mungkin enggak suka? Kalau enggak kamu larang malah A’a akan umumkan ke semua karyawan biar enggak pada salah menilai ke kamu. ‘Kan kamu yang larang?” balas Bastian sambil mengecup puncak kepala Julia. Serasa ruang rawat ini adalah milik mereka.


“Ya udah, sekarang tidur, udah malam banget ini,” Julia pun membaringkan tubuhnya disebelah Bastian, mereka tidur dalam kedamaian dan kebahagiaan.


***


Pagi ini Julia mulai membereskan barang miliknya dan milik Bastian. Rencananya mamang pegawai Bastian akan datang jam 10 untuk membawa semua barang yang sudah diberesi itu. Hanya akan ditinggal beberapa pakaian untuk dipakai hingga nanti malam atau sampai besok pagi. Baik untuk Bastian mau pun untuk dirinya. “Pak Bastian, hasil pemeriksaan pagi ini sudah membolehkan anda pulang nanti sore,” dokter yang memeriksa Bastian pagi ini memberitahu kalau Bastian sudah boleh pulang.


“Terima kasih Dok,” Julia dan Bastian menjawab hampir bersamaan.


“Ini surat untuk mengurus administrasinya Bu,” suster yang mendampingi memberikan selembar kertas untuk penyelesaian administrasi biaya rumah sakit.


”Aku ke depan urus administrasi ya,” Julia izin pamit pada Bastian.


“No honey, enggak sekarang. Kamu belum sarapan. Habis sarapan aja kamu ke depannya,” larang Bastian. Dia mengambil dompetnya di laci meja kecil sebelah bednya. “Pakai ini ya, pin nya tanggal lahirmu,” Bastian memberikan black card miliknya pada Julia.


‘Dia pakai tanggal lahirku?’ hampir tak percaya Julia mendengar kalimat terakhir Bastian.


============================================================================


MANA KOMEN MANISNYA? 


SEKARANG HARI SENIN LHO, KASIH VOTE KE NOVEL INI YAAAA


MATUR NUWUN