TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
TRUST ME



SALAM MANIEZZ DARI JOGJAKARTA


SELAMAT MEMBACA



Julia, Bastian dan pak Adi baru saja sampai di bandara Soekarno Hatta. “Antar Apa’ dulu baru aku antar kamu ya?” bisik Bastian lembut.


“Aku pulang sendiri aja ya A’, kamu ‘kan juga cape,” tolak Julia.


“Kalau begitu kita pulang naik taksi, aku antar kamu. Apa’ biar pulang dengan sopir dan barang-barangku.” Bastian langsung saja memutuskan sendiri tanpa diskusi dengan Julia.


“Apa’, aku antar YAYA dengan taksi aja ya, Apa’ pulang dengan mang Dadang,” Bastian memasukkan koper-koper miliknya dan milik pak Adi ke mobil yang menjemput.


Pak Achdiyat hanya tersenyum, dia memaklumi jiwa muda anaknya. Julia memberi salim dengan mencium punggung tangan mantan direktur utamanya itu.


Di taksi Julia cemberut karena Bastian mengambil keputusan tanpa diskusi dengannya. “Kenapa manyun gitu?” sang monster bertanya seakan tak mengerti kesalahan yang dia buat.


“A’a bertindak semaunya, enggak diskusi, langsung ambil keputusan. Aku enggak suka!” protes Julia. Sebelum monster menyatakan perasaan saja Julia berani komplain pada semua kebijakan yang diputuskan oleh monster bila tak sesuai dengan pemikirannya. Apalagi sekarang, setelah dia tahu monster menyukainya, dia makin berani mengemukakan pendapatnya.


“Maaf kalau A’a kembali salah,” Bastian menciumi jemari kanan Julia yang berada dalam genggamannya.


“Ya salahlah, A’a egoist, enggak pernah diskusi. Selalu ambil keputusan sendiri,” Julia menyentak tangannya agar lepas dari genggaman Bastian.


“Fine, A’a kan sudah ngaku salah. A’a juga sudah minta maaf. Masa masih ngambeg gitu. Ajarin A’a jadi orang yang lebih baik ya, A’a janji akan belajar untuk berubah,” pinta Bastian.


Bastian memang cowok yang sangat keras dan kaku. Dia pernah sakit hati dan membuatnya benci pada hubungan dengan lawan jenis. Trauma yang dialami saat dia terpuruk, lalu ditengok sang kakak yang membuat kakak dan kakak iparnya meninggal membuat Bastian bersikap semaunya.


Saat kembali ke Indonesia dua tahun lalu dia terpana dengan kelembutan Julia, tapi saat itu Julia masih bertunangan dengan August dan Bastian memilih belajar ilmu di perusahaan pamannya terlebih dahulu. Dia meminta pada mamahnya waktu satu tahun untuk meredam emosinya.


Julia hanya diam, dia membiarkan jemarinya kembali digenggam oleh pria lembut yang sebelumnya dia juluki monster. Julia turun dari taksi dan membuka pintu pagar rumahnya, Bastian membawakan koper dan beberapa tas Julia.


Berangkatnya gadis itu hanya membawa satu buah koper, tapi pulangnya ada tambahan 3 tas besar ditambah beberapa tas dan dus oleh-oleh makanan yang dibelikan oleh Bastian dan Bu Tuti.


“Terima kasih,” Julia mengambil alih koper dan tas, lalu memberikannya pada asisten rumah tangganya. “A’a tunggu sebentar ya,” Julia mempersilakan Bastian duduk di ruang tamunya.


Bastian baru kali ini datang dan masuk ke rumah Julia. Dia duduk di sofa dan memperhatikan foto-foto keluarga yang terpampang di dinding.


Karena gerah, Julia langsung membasuh badannya sekedar untuk menghilangkan lengket karena keringat. Dia berganti dengan kaos dan celana kaos panjang. Bastian tersenyum melihat Julia keluar sudah fresh. “Makan siang di sini dulu ya,” Julia meminta Bastian jangan langsung pulang. Ha ha ha lagian siapa coba yang mau langsung pulang saat sedang berada di rumah perempuan yang dicintainya?


“Kamu enggak repot?” Bastian bertanya, dia takut mengganggu walau tentu saja senang akan makan siang di rumah Julia. “Apa kita beli online aja,” Bastian menawarkan alternatif pilihan.


“Enggak repot, semalam aku sudah minta disiapkan makan siang buat kita koq,” tanpa sadar Julia membuka bagaimana perasaannya pada Bastian.


“Sejak semalam? Kamu sudah yakin A’a akan makan siang di sini?” goda Bastian. Membuat Julia tersipu.


“Aku bisa menebak pikiranmu, walau tadi dianter mang Dadang sekali pun, A’a pasti akan mampir ‘kan?” tak mau kalah Julia berkilah agar tidak terlalu malu.


“Teteh, makanannya sudah siap,” asisten rumah tangga memberitahu hidangan makan siang sudah tersedia.


“Jangan diejek ya, makanan ala kampungku,” tanpa ragu Julia menarik tangan Bastian untuk menuju meja makan.


“Sedikit lagi,” jawab Bastian.


“Wait, A’a ada alergi atau makanan yang enggak disuka enggak? Maaf lupa nanyain,” Julia ketakutan karena makanan yang terhidang mengandung ikan asin, terasi dan udang. Dia ingat August alergi terasi dan udang.


“A’a enggak punya alergi makanan, bukankan waktu di Jogja kemarin kita makan ikan dan udang bakar saat ke pantai?” Bastian menepis kekhawatiran Julia.


“Mulai hari ini, kita belajar mengenal pasangan ya? Kamu ceritakan apa yang kamu suka dan enggak suka. A’a juga akan menceritakan semuanya, agar kita tidak salah info atau dapat info menyesatkan dari orang lain. A’a yakin, habis ini akan banyak info sampah yang hadir di depan matamu. A’a cuma mohon, trust me. Kamu tanyakan dulu kebenarannya. Jangan kamu salah paham atau kamu telan semua info itu tanpa kamu cerna,” panjang dan gamblang Bastian meminta pengertian Julia.


Bastian tahu masa lalunya buruk, dan pasti akan banyak kerikil yang sengaja ditebar orang untuk menjegalnya.


“Pertanyaan pertama, berapa mantanmu?” tanya Julia sambil menatap Bastian dalam-dalam.


“Yang serius hanya satu dan itu menyakitkanku, selanjutnya yang lain hanya teman tidur tanpa pernah ada perasaan ikut di dalamnya. A’a tidak mau kamu dengar dari orang lain. A’a mantan orang kotor. Tapi sejak melihatmu dua tahun lalu tak pernah sekali pun A’a berbuat lagi. Mungkin kamu bilang A’a berbohong. Tapi itulah kenyataannya. A’a ingin serius denganmu. Dan A’a juga tidak akan marah bila kamu sudah tidak virgin. Yang A’a mau kita menapaki langkah ke depan dengan kejujuran,” tanpa ragu Bastian menyebutkan jati dirinya.


Seperti yang dia bilang, dia tak mau Julia mendengar khabar burung yang tidak jelas kebenarannya.


Julia terperangah mendengar kejujuran dari Bastian. Tapi itu lebih dia hargai, daripada dulu dia mengetahui August sudah pernah hidup bersama dengan mantan kekasihnya selama dua tahun dari orang lain. Sejak awal memang August tak jujur dengannya.


Alasan August saat itu dia takut Julia tak menerimanya bila tahu August pernah hidup bersama dengan pasangan sebelumnya.


”Aku menghargai kejujuran A’a. Aku juga mengapresiasi keberanian A’a mengungkapkan hal itu. Asal A’a tahu, aku paling enggak suka dibohongi. Kedepannya, sekali aja A’a ketahuan bohong, saat itu juga tak perlu ada pembahasan apa pun antara kita.”


“Kita sama-sama tak ingin dibohongi, A’a setuju kita saling terbuka dalam hal apa pun. Lebih baik bicara kebenaran yang menyakitkan daripada bicara manis namun bohong,” Bastian tentu sependapat dengan Julia. Dia sudah merasakan sakit dibohongi. Dia tak ingin merasakan kembali.


“Besok aku libur ya A?” pinta Julia, karena nanggung, esok adalah Jumat, sedang Sabtu dan Minggu dia libur. Rencananya dia ingin pulang ke Bogor.


“Harpitnas?” goda Bastian. Julia hanya menjawab dengan anggukkan dan senyum manis.


“Pengen mudik,” jelas Julia.


“Bawa mobil?” tanya Bastian.


“Iya, sekalian bawa oleh-oleh. Itu kebanyakan buat kami berdua di sini,” Julia akan pulang dengan asisten rumah tangganya.


“A’a jemput hari Minggu ya,” pinta Bastian. Dari Jumat pagi ke hari Minggu dia rasa cukuplah Julia melepas kangen dengan keluarganya.


“Trus A’a bawa mobil? Percuma ‘kan ngejemput?” Julia malah bingung mau apa Batian menyusul ke Bogor sedang Julia ke Bogor sudah bawa kendaraan.


“A’a naik umum atau diantar mang Dadang, nanti kita pulang bareng,” jawab Bastian santai.


================================================================= 


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta