
Laura mengisi semua kolom yang tersedia. Untung tadi dia membuat video sehingga bisa dia lihat kapan dia pertama kali mengetahui ada yang tidak beres di butiknya, sesuai kapan dia membuat video itu. Setelah berkas selesai dibuat Adnan mengeluarkan alat-alat pemeriksaan. Dimulai dari handle pintu. Adnan mengoles kuas untuk mengambil data sidik jari. Hal yang sama pun dia lakukan di laci meja, di saklar lampu serta di meja dan di beberapa sketsa yang ada di dalam laci tersebut.
“Tolong videonya di share ke nomor saya ini ya?” pinta Adnan sambil memberikan nomor ponselnya.
Selesai Adnan mengambil data, Toha meminta Laura memanggil satu persatu pegawai butik yang hadir pagi itu. Toha mencatat identitas mereka secara lengkap dan memberi beberapa pertanyaan.
Tentu saja karyawan butik kaget karena mereka tak tahu Laura memanggil polisi. Bahkan mereka tak tahu kejadian yang membuat Laura bertindak seperti itu.
Toha dan Adnan bekerja sangat teliti. Sampai pukul 17.09 baru pemeriksaan selesai. Untung tadi Laura menjeda pemeriksaan untuk makan siang bersama. “Hasilnya akan saya beritahu lusa ya. Dan kita akan memanggil siapa karyawan yang tersangkut,” jelas Toha.
Sebelum pulang Adnan dan Toha memperhatikan kondisi lingkungan sekitar butik.
***
‘Apa ya motif orang itu? Karena tak ada sketsaku yang hilang,’ Laura berpikir tak mengerti. Dia tadi langsung menghubungi polisi yang biasa bekerja sama dengannya di panti. Lalu polisi tersebut memberikan nomor Adnan, yang bekerja di wilayah kejadian perkara. Dari Adnan, Laura mendapat saran jangan masuk lagi ke ruangan agar tak ada barang yang bergeser. Itu sebabnya Laura bekerja di sofa. Lelah pikiran dan lelah badan, sesampai di rumah Laura langsung mandi, makan dan tidur tanpa datang ke panti seperti biasa.
***
Hari ini Nindi libur sehingga Namira tidak mengantar ke sekolah. Tapi nanti dia tetap harus belanja karena banyak bahan baku kue jualannya habis atau hampir habis. Namira masih menunggu Ilham yang belum keluar kamar Ilyas. “Bik, Ilham koq enggak bangun ya?” tanya Nindi.
“Mungkin kecapean nangis Neng. Biar saja. Kalau dia nangis pasti Aden bawa keluar,” bik Iyah mencoba menenangkan Namira.
“Sebenarnya ada apa Neng dan Aden?” bik Iyah bertanya sambil menggoreng kerupuk untuk sarapan. Pagi ini dia membuat nasi goreng.
“Enggak ada apa-apa Bik,” Namira tetap tak mau cerita. “Saya mau belanja, tapi jadi ragu. Maksud saya kalau Ilham sudah keluar dan saya beri ASI, baru saya pergi belanja. Kalau Ilham belum keluar, ‘kan kepikiran.”
“Nanti saja belanjanya, sekalian bibik titip untuk makan, banyak stok dapur yang habis,” jawab bik Iyah.
“Nanti bibik buatkan catatannya ya?” Namira pun ke ruang depan untuk menyapu dan mengepel seperti biasa.
Jam enam pagi baru Ilyas keluar bersama Ilham yang tidak menangis. “Dede mandi dulu dengan Bunda ya, nanti selesai mandi baru ikut Ayah lagi,” Ilyas memberikan Ilham pada Namira yang sedang mempersiapkan baju ganti Nindi.
“Terima kasih Den,” dengan sopan Namira menerima anaknya yang seperti masih enggan ikut dengannya.
Selesai mandi Ilyas keluar kamar membawa dua buah botol sussu kotor. Bik Iyah yang membereskan kamar Ilyas melihat banyak celana Ilham dan juga alas kotor. Rupanya Ilyas mengganti diapers dengan celana dan berkali-kali dia lakukan karena tak ada diapers diluar kamar Namira. ‘Den Ilyas sangat mencintai Ilham seperti anak sendiri.’
“Mana Nindi Bik? Ayok kita sarapan,” ajak Ilyas.
“Itu neng Nindi sudah selesai mandi,” bik Iyah mulai duduk di meja makan.
“Mana Bibi?” tanya bik Iyah pada Nindi.
“Kata Bibi … Bibi sarapan belakangan saja. Dia sedang menyusui dede Ilham. Habis itu bibi mau beberes kamar dulu,” dengan polos Nindi menjawab pertanyaan eninnya.
Ilyas ingat, ketika dirumah sakit saat kakak iparnya datang dia sempat video call dengan tetehnya. Dia mengadukan perasaannya pada Namira. Dia bercerita Namira tak pernah memulai mengajaknya bicara. Dan tadi pagi kembali Ilyas cerita pada Novia kalau Namira menolaknya.
“Kamu harus dapatkan dia. Dia perempuan yang baik,” itu pesan Novia sebelum menutup teleponnya pagi tadi. Novia menyadari, Namira hamil bukan karena kelakuannya yang buruk. Dan dia berada di rumah kakak iparnya untuk mengurus keponakannya. Bahkan sejak kakak ipar dan kakaknya tak ada berita Namira tetap bekerja tanpa kenal lelah, demi makan keponakannya. Padahal dia jelas-jelas sudah disakiti oleh ayah dari si keponakan.
Mendapat dukungan Novia, tentu Ilyas makin percaya diri untuk mengikat Namira. “Bik, mana kunci motor?” tanya Ilyas sehabis sarapan.
“Nindi ikut Ayah yok,” ajak Ilyas. “Kamu minta izin dulu dengan Bunda.”
“Iya Paman,” jawab Nindi antusias.
“Nindi, mulai sekarang kamu harus panggil saya AYAH. Dan panggil Bibi dengan sebutan BUNDA. Inget itu ya?” Ilyas mengultimatum Nindi walau dengan lembut.
“Iya Pam … eh Ayah, Nindi ingat,” terbata Nindi menjawab dan dia segera masuk ke kamar untuk minta izin pada Namira.
“Bunda, aku mau ikut Ayah,” seru Nindi begitu masuk kamar.
“Kenapa panggil Bibi dengan Bunda?” tanya Namira bingung.
“Barusan Paman bilang sejak hari ini Teteh harus panggil Nindi dengan sebutan Bunda dan panggil Paman dengan sebutan Ayah,” jawab Nindi polos.
“Memangnya Paman mau ajak kamu kemana?” tanya Namira, dia tetap menyebut paman untuk panggilan Ilyas.
“Entah, barusan Ayah minta kunci ke Enin,” Nindi mengambil topinya dan bergegas keluar kamar.
Ilyas membawa Nindi ke super market besar yang terdekat dengan rumahnya. Tujuan utamanya adalah membeli diapers dan botol sussu. Dia juga membeli kebutuhan pribadinya yang sudah habis seperti sabun mandi dan shampoo. “Teteh mau beli apa?”
“Shampoo Teteh habis Yah, sama mau lem dan gunting buat prakarya,” jawab Nindi.
“Kamu ambil shampoomu, juga sabun dan cologne ya. Punya dede juga ambilkan,” sengaja Ilyas menyuruh Nindi yang mengambil semua kebutuhannya juga kebutuhan Ilham karena dia takut salah merek. Kalau diapers Ilyas tahu merek dan size nya. Ilyas lupa, mereka pergi dengan motor.
Belanjaannya super banyak. Diapers kemasan yang berisi lima puluh piece sebanyak dua kantong saja sudah sangat besar, ditambah diapers isi sepuluh piece yang akan dia simpan di kamarnya. Dia membeli dua botol sussu tambahan. Karena Ilham hanya punya dua botol. Selama ini kebutuhan botol sussu memang tidak terlalu urgen. Tapi sejak malam tadi sussu botol sangat dia butuhkan karena dia akan sering membawa Ilham tidur dengannya. Belum lagi belanjaan dapur dan yang lainnya. Tentu semua tak bisa dia bawa dengan motor.
Keluar dari super market Ilyas langsung menuju tempat taxi mangkal, dia memasukkan semua belanjaannya ke taxi. “Ikuti saya ya Pak,” perintahnya pada driver taxi.
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Jangan lupa tinggalin komen manisnya
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
YANKTIE INGATKAN SEKARANG HARI SENIN. GUNAKAN VOTE GRATIS DARI NOVELTOON/MANGATOON UNTUK NOVEL INI YAAA