TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
PERMINTAAN MAAF ORANG TUA PELAKU



Hari Senin, jadwal Laura ke butik. Sejak pagi dia melihat bangunan panti yang sedang finishing. Kemarin tukangnya bilang besok pekerjaan akan selesai sehingga lusa bisa ‘serah terima’ dengan Ariano. “Bu, ini hot choconya,” Sukma memberitahu Laura. Pagi ini Laura ikut sarapan di panti. Menunya nasi uduk dengan tahu dan tempe goreng ditambah kerupuk dan irisan dadar telur.


“Terima kasih. Tolong siapkan saya uli bakar dan serundeng pedasnya ya,” Laura meminta bekal untuk dia bawa ke Bandung. Dia minum perlahan coklat sussunya. Setelah minumannya habis, Laura segera berangkat ke butik ya. Tak lupa dia bawa kotak makan berisi uli bakar.


Kemarin Toha bilang berkas perkara pencurian sudah siap untuk disidangkan. Jadi Laura harus bersiap bila diminta jadi saksi korban. Laura tak berpikir gentar. Toh dia tak bersalah. Jadi dia siap saja kapan diminta untuk bersaksi.


“Bu, ada tamu,” lapor Dina saat Laura baru saja sampai parkiran butik.


“Siapa?”


“Uwak saya dan orang tua teteh Rose,” balas Dina.


“Apa mereka janjian?” tanya Laura.


“Sepertinya tidak, mereka baru kenalan saat tadi Uwak saya datang. Orang tua teteh duluan datang. Dan orang tua teteh marah pada uwak saya karena gara-gara anak uwak maka teteh jadi ikut terseret tindak kejahatan,” Dina memberitahu Laura kejadian saat dia datang. Memang orang tua Liliya atau uwaknya Dina datang bersama Dina.


Laura masuk ke butik, dan dia lebih dulu menyimpan tasnya di ruang kerjanya baru menemui tamunya. Di ruang tamu butik ada tiga orang tamu. Dua lelaki dan satu perempuan. Setelah berkenalan Laura baru tahu, Liliya hanya mempunyai seorang ayah karena ibunya sudah meninggal. Dan orang tua Rose lengkap datang pagi ini. “Maaf, sebenarnya apa tujuan Bapak dan Ibu ke kantor saya?” tanya Laura.


“Saya sebagai orang tua Rose mau meminta maaf pada Ibu. Dan kami juga mau minta damai dengan Ibu,” jawab ibunya Rose terbata.


“Lalu maksud Bapak apa?” tanya Laura pada ayahnya Liliya.


“Saya juga sama Bu. Ingin minta agar Ibu mencabut tuntutan Ibu pada anak saya,” jawab ayahnya Liliya.


“Baik, saya sudah mengerti. Jadi pihak Rose dan pihak Lili sama-sama minta maaf?” tanya Laura.


“Iya Bu,” jawab ketiganya hampir bersamaan.


“Dan kedua pihak minta untuk damai dan saya mencabut kasus?” tanya Laura kembali.


“Muhun Bu.”


“Iya Bu.” Dua jawaban itu terdengar oleh Laura dari ketiga mulut tamunya.


“Sebagai manusia saya meMAAFkan,” Laura menekan kata maaf dengan jelas.


“Tapi sebagai hamba hukum saya tidak akan menarik kasus. Karena itu sudah ditangani polisi. Apa Bapak dan Ibu tahu berapa kerugian saya bila design saya berhasil dibuat oleh pencuri?” Laura berhenti dan menatap tajam ketiga pasang mata tamunya.


“Kalau soal uang, mungkin Bapak dan Ibu bisa mengganti, karena namanya uang, berapa pun bisa kita cari. Tapi nama baik saya akan tercoreng karena saya bisa dituduh menjiplak karya Laras! Padahal itu karya saya yang dia curi! Dan kerugian nama baik itu tidak bisa anda ganti dengan uang!” cetus Laura.


“Jadi maaf, berapa pun yang anda tawarkan, tak akan mungkin membuat saya mundur. Bukan saya tak peduli. Tapi saat anak-anak anda mencuri, mereka juga tak peduli pada nasib saya. Sekarang, mengapa saya harus peduli pada mereka?” Laura memutuskan dengan tegas tak akan mencabut kasus ini.


Laura jadi bad mood setelah ketiga tamunya pulang. “Kenapa polisi melepas kamu menjadi tersangka?” tanya Laura pada Dina.


“Sebenarnya dia bagian apa di butik Laras?” tanya Laura.


“Dia enggak kerja di butik. Dia kerja di rumah bu Laras jadi asisten rumah tangga. Udah lama dia mah kerja disana. Enggak tau gimana koq bisa disuruh ama bu Laras buat nyuri. Dia motret bukan pake ponsel dia. Tapi pake ponsel bagus yang dipinjemin sengaja buat bikin poto ( foto ) gambar punya Ibu.” Dina menceritakan yang dia tahu pada Laura. Sebenarnya Dina juga malu pada Laura, karena saudaranya lah pelaku kejahatan.


***


Wulan melangkah masuk ruang kuliahnya dengan rasa bangga. Sebagai anak yatim piatu miskin bisa kuliah tentu kebanggaan tersendiri untuknya. Dia sudah melewati masa perkenalan mahasiswa baru dengan mulus. Sebelum perkenalan, dia memberikan surat keterangan dokter bahwa dia sedang hamil kepada ketua panitia masa orientasi mahasiswa baru. Langkah itu dia tempuh agar tak mendapat tindakan yang tidak dia inginkan yang akan mengganggu kehamilannya. Itu semua adalah saran dari Laura.


“Lan, sini duduk dekat aku,” sapa Kemuning, gadis cantik yang sepertinya dari keluarga mampu.


“Terima kasih,” Julia pun duduk di sebelah Kemuning.


“Kamu tinggal dimana?” tanya Kemuning.


“Di Cimahi, di panti asuhan Kepak Kasih Bunda,” jawab Wulan tanpa ragu apalagi malu. Dia tak mau berbohong sehingga harus terus berbohong untuk menutupi kebohongan pertama. Lebih baik sejak awal selalu jujur sehingga tak perlu mengarang kebohongan selanjutnya.


“Kapan-kapan aku boleh ikut ke panti?” tanya Kemuning tanpa ragu.


“Boleh,” jawab Wulan. Dosen mata kuliah pertama sudah datang. Obrolan mereka terhenti. Seperti saat di SMA. Saat ini Wulan ingin dia mendapat nilai terbaik. Dia juga ingin cepat selesai kuliahnya.


Tiga mata kuliah hari ini berhasil Wulan ikuti dengan baik. Dia ingin segera pulang. Dia tak ingin terlalu lama di luar panti. Walau memang gajinya dihitung setengah dari karyawan lainnya, tapi dia tetap merasa tidak enak. Biar bagaimana pun panti ini yang menyelamatkan dirinya dari tangan kejam sang bibi. Dan perhatian Laura sangat besar. Tak bisa ditukar dengan apa pun.


“Pulang bareng yok, kita searah sampai terminal,” Kemuning mengajak Wulan ikut dengannya sampai terminal. Lumayan, dia hanya tinggal satu kali nyambung angkot agar sampai ke panti asuhan.


“Enggak ganggu kamu?” tanya Wulan.


“Enggak. Aku memang mau langsung pulang koq,” jawab Kemuning. Mereka menuju area parkir mobil. Karena Kemuning memang mengendarai mobil sendiri tanpa sopir.


“Besok kita cari buku yang dosen sudah kasih yok?” ajak Kemuning.


“Asal enggak lama, aku bisa. Besok aku ada dua mata kuliah,” sahut Wulan.


“Kita kayaknya sama deh. Ok besok kita cari buku ya,” Kemuning memastikan rencana untuk esok sepulang kuliah.


\======================================================


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.  Jangan lupa tinggalin komen manisnya  


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta