
Tengah malam, August dan crew baru saja selesai mengecek semua kebutuhan alat dan perlengkapan. Mereka tak mau gagal dalam penampilan perdana. Karena habis terbang, August meminta salah seorang staff nya untuk membawakan motornya menuju Cimahi. Dia sendiri akan tidur di mobil bersama para crew. Dia tak ingin tidak sampai di Cimahi karena kecelakaan di jalan akibat mengendarai motor dengan mengantuk. “Kita berangkat sekarang saja. Kita bisa istirahat sampai pukul 03. 45 sebelum persiapan meliput salat subuh berjamaah sebagai kegiatan pertama. Mari kita berdoa dan sesudah itu langsung ke tikum ( titik kumpul ) pertama ya.”
August tentu lebih cepat sampai di Cimahi karena dia lewat jalan tol. Dan team 2 dari crew nya segera mengatur peralatan di panti asuhan milik Laura. Team 1 tentu bertugas sejak persiapan berangkat, salat subuh hingga peliputan di perjalanan hingga ke tempat acara di Cimahi.
“Assalamu’alaykum,” August mengucap salam pada Laura dan pengurus panti yang sedang bersiap. Mereka sedang memperhatikan pengaturan kursi. Acara baru akan dimulai 2 jam lagi. Para undangan pun belum hadir.
“Wa’alaykum salam. Silakan masuk pak August.” balas Laura.
“Maaf, sehabis anak-anak istirahat, kami mau minta ijin mengatur tata letak lampu dan kamera,” August meminta izin atas nama team 2 yang akan bertugas.
“Mangga, silakan ngopi dulu,” rupanya Laura sudah menyiapkan kopi dan paket nasi uduk untuk sarapan pekerja yang telah datang lebih dulu. “Maaf, saya tinggal melihat persiapan yang lain ya Pak.”
“Mommy …,” baru Laura akan masuk, seorang anak lelaki berusia sekitar 8 tahun menyeruak masuk sambil sedikit berlari dan berteriak memanggilnya. Laura berbalik badan dan mengembangkan tangannya sambil merendahkan tubuhnya.
“Hallo jagoannya Mommy, datang sama siapa?” Laura menyapa Fahri, anak ke dua dokter Syahrul. August yang melihatnya sedikit terpana mendengar Laura dipanggil mommy oleh anak sebesar itu. Karena menurut info yang dia tahu, Laura belum menikah dan habis patah hati karena calon suaminya meninggal menjelang pernikahannya.
“Sama pak sopir, Daddy antar kakak lomba renang dulu, nanti baru ke sini,” jawab Fahri yang sangat senang mendapat pelukkan dan ciuman dari Laura.
“Kamu makan dulu di sini ya, ada para bunda. Mommy mau ke rumah. Atau mau ikut ke rumah Mommy?” tawar Laura.
“Enggak, A’i mau di sini aja liat adek-adek,” tolak Fahri. Dia lebih suka di panti melihat para adiknya daripada ke rumah Laura. Rupanya Fahri menyebut dirinya dengan panggilan A’i
“Teh Sukma, temani Fahri ya, tolong perhatikan dia makan dulu sebelum lihat adik-adiknya. Dia kalau sudah lihat adik enggak mau makan,” pesan Laura sebelum meninggalkan Fahri dalam pengawasan Sukma.
“Ayo kak A’i, kalau enggak makan enggak boleh lihat ade,” bujuk Sukma.
“Itu anak siapa?” August bertanya pada satpam yang sedang berdiri dekat dengannya. Dia penasaran.
“Itu teh anak dokter Syahrul. Dokter anak yang ikut membantu di sini,” jawab pak satpam sambil mengambil secangkir kopi panas dari termos yang di sediakan.
“Kirain anak bu Laura, karena memanggil mommy,” pancing August.
“Kan semua bayi dan anak di sini manggil non Laura mah mommy, manggil pegawai lainnya bunda,” jelas pak satpam lagi.
“Owh begitu.”
***
Laura serta para pengasuh di panti berfoto bersama para panitia acara. Setelah sejak tadi berfoto dengan para tamu. Mereka mengucap syukur acara berjalan lancar. Banyak pasangan tamu yang meminta berfoto dengan Laura. Team 2 tentu ikut mengambil foto walau umumnya peminta foto selalu menggunakan ponselnya agar bisa disimpan langsung oleh mereka.
“Mommy, kita belum bikin foto berempat dengan Daddy,” Nazwa meminta Laura berpose dengannya dan Syahrul serta Fahri.
“Ok, ayok kita bikin,” Laura tak menolaknya. Mereka membuat beberapa foto dengan aneka gaya ber empat.
“Mom, please foto berdua denganku,” rengek Nazwa lagi. Kali ini Laura memperlihatkan rasa sayangnya pada gadis remaja itu. Gaya yang mereka buat seakan dia adalah ibu anak perempuan itu.
“A’I juga mau foto dengan mommy, Daddy pakai ponsel Daddy ya,” pinta Fahri yang memang belum diperbolehkan memiliki ponsel oleh Syahrul.
Syahrul mengambil beberapa foto anak lelakinya dengan Laura. “Kalian curang, punya foto berdua dengan Mommy. Daddy malah belum pernah foto berdua,” goda Syahrul sambil membuat foto utuk anak bungsunya itu.
‘Ternyata dia bukan kekasih sang dokter, buktinya dokter itu belum punya foto berdua dengan Laura,” August yang memperhatikan tingkah dua anak dokter itu menyimpulkan apa yang dia lihat.
“Sini, Kakak buatin foto Daddy bertiga A’i dan Mommy lalu foto Daddy berdua Mommy,” Nazwa memutuskan menolong sang ayah mempunyai foto dengan Laura.
“Ih, jangan jauhan gitu dong!”
“Jangan kaku!”
“Koq enggak senyum?”
Banyak arahan yang Nazwa berikan pada Laura dan Syahrul yang membuat kedua orang itu serba salah. Akhirnya setelah beberapa kali diarahkan oleh Nazwa, pasangan itu mempunyai beberapa foto yang bagus. “Nanti dikirim ke aku ya Bang,” bisik Laura. Karena sejak tadi Nazwa menggunakan ponsel daddynya bukan ponsel miliknya.
“Siyaaaaaaaaap,” balas Syahrul sambil memberi kode jempol lalu dia meninggalkan Laura yang masih asyik dengan Nazwa. Syahrul tak ingin ada rumors di panti. Karena di panti para pegawai tahunya Ilyas lah yang mengejar Laura. Dia tak ingin membuat Laura semakin dipojokkan oleh pegawainya.
“Boleh nih saya juga minta foto dengan ibu pemimpin panti,” August meminta Laura untuk foto berdua.
“Mangga Pak, di mana?” tanya Laura. Maksudnya background apa yang diinginkan August.
“Di depan nama panti dan di depan motor besar yang terparkir ya?” August meminta dua tempat itu.
“Kak, Mommy nemani tamu dulu ya,” Laura pamit pada Nazwa yang sedang memperhatikan foto-foto di ponselnya.
“Iya Mom.”
Laura dan August membuat foto menggunakan kamera para crew bukan dari ponsel. “Nanti kirim hasilnya ya Pak,” pinta Laura. Selain August ada beberapa rekannya yang juga ikut meminta foto dengan back ground kumpulan motor gede mereka.
Rombongan motor gede sudah pamit terlebih dahulu. Sekarang tinggal team 2 dan oarang-orang panti termasuk para dokter dan petugas keamanan.
“Mom, kita belum foto bersama lho,” dokter ilyas yang sedang menggendong Yara mengajuk Laura untuk berfoto.
“Hai Yara, makin cantik aja nih anak Mommy. Oke kita bikin foto yok,” Laura hari ini memang mau berfoto dengan siapa pun. Karena jelas terlihat oleh umum. Bukan foto special. Maka ilyas pun memberi ponselnya pada mang Ujang untuk mengambilkan foto mereka bertiga.
“Wah kereeeeeen, kalian terlihat seperti keluarga kecil nan bahagia. Sepertinya pantas direalisasikan nih,” goda Syahrul yang baru kembali dari ruang makan sambil membawa puding untuknya dan semangkok ice cream untuk Fahri.
#########
hayooo kasih komen berupa jawaban pertanyaaan yanktie, ENDINGNYA NANTI LAURA JADIANNYA AMA SIAPA?AUGUST, ILYAS ATAU SYAHRUL?
\===================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta