
“Pakai topi ini Kak,” Laura memberikan topi lebar untuk Nazwa pakai. Dia juga menggunakan topi untuk menutupi wajahnya dari paparan sinar matahari walau sudah menggunakan sun block.
“Ade minta caping di bik Sanah. Kamu harus pakai itu kalau mau ikut ke kebun,” Laura memerintah Fahri. Dia tak punya topi cowboy untuk Fahri gunakan. Dia akan membelinya suatu saat nanti agar bila Fahri ke kebun wajahnya tidak rusak.
“Hari jadwalnya panen kacang panjang dan pare. Kalau kalian mau ikut panen silakan. Kalau mau petik timun dan labu siam untuk dikonsumsi sendiri juga boleh. Sawi hijau dan sawi putih sudah panen dua hari lalu. Lusa akan panen kol dan selada,” Laura menjelaskan pada dua anak yang sangat takjub melihat kebun sayur yang ada dihadapan mereka.
‘Panen,’ Syahrul yang baru tiba di garis finish menerima chat dari Laura berupa foto dan video kedua anaknya sedang memetik labu dan pare.
‘Curang! Anak-anak diajak, Daddynya enggak,’ balas Syahrul. Peserta belum berangkat dari garis start, jadi dia masih bisa berbalas chat.
‘Mereka datang tiba-tiba. Enggak janjian dan enggak ngasih khabar sebelumnya,’ balas Laura.
‘Iya Ra, mereka izin ke Abang sejak semalam. Tapi mereka minta jangan kasih tau kamu. Surprise kata mereka,’ balas Syahrul lagi.
“Abang off dulu ya Ra, peserta sudah sampai tengah. Sebentar lagi mereka sampai finish,’ Syahrul terpaksa menyudahi chat dengan Laura.
“Mom. Ini labu siamnya masih kecil-kecil. Kenapa Mommy nyuruh petik?” tanya Fahri.
“Sedikit aja sayang. Bukan buat dijual tapi buat lalapan sendiri,” sahut Laura. Tadi di video memang Laura meminta Fahri panen labu siam dan ditunjukkan ke camera ponsel miliknya.
“Minggu depan kami boleh kesini lagi?” tanya Nazwa. Dia senang dengan suasana alami seperti ini.
“Boleh. Bagaimana kalau minggu depan kita sarapan di saung?” tanya Laura.
“Bener Mom? Mauuuuuuuuuuu … iya kita bawa bekal ke kebun untuk sarapan ya Mom?” tentu saja Nazwa sangat senang.
“Kalian harus datang lebih pagi dan pakai sepatu seperti sekarang. Kalau ada sepatu boot seperti Mommy,” sahut Laura.
“Iya, kami akan datang lebih pagi untuk sarapan di saung,” sahut Fahri.
***
“Pindah kamar Teh,” bisik Ilyas saat membopong Nindi yang tertidur didepan televisi sehabis makan siang. Rupanya bersepeda pagi tadi membuatnya sangat lelah. Biasanya Nindi sulit tidur siang. Lama bergulang guling dikasurnya baru dia terlelap.
“Bik, Ira kamana ( kemana )?” tanya Ilyas. Dia tak melihat Namira di kamarnya juga di dapur.
“Di belakang, sedang menyetrika,” sahut bik Iyah. Perempuan paruh baya itu baru saja selesai salat dan sedang duduk santai di dapur. Namira memang lebih suka menyetrika baju di teras terbuka di belakang. Dia bilang biar tidak gerah.
“Saya mau bicara dengan Ira ya Bik. Kalau Ilham bangun, Bibik pegang dulu,” pesan Ilyas pada bik Iyah.
“Iya Den,” jawab bik Iyah.
“Honey,” sapa Ilyas. Dia melihat lipatan baju yang belum disetrika, artinya tak ada alasan Namira kabur dari tempat ini.
“Kamu enggak respon panggilanku?” Ilyas kembali berkata. Suaranya pelan karena jarak mereka dekat. Ilyas mencabut colokan setrika.
Namira hanya mematung di kursi yang dia duduki untuk menyetrika. Sementara ilyas menaruh kursi diseberang meja setrika sehingga mereka duduk berhadapan dengan batas meja khusus menyetrika baju itu.
“Ada apa?” akhirnya Namira menjawab. Tapi matanya tetap pada baju yang dia pegang.
“Please, aku ingin kita bicara serius.” Ilyas memegang jemari Namira.
“Look at me,” pinta Ilyas.
“Saya tidak pantas,” jawab Namira.
“Jawab pertanyaanku. Apa kriteria pantas dan tidak pantas?” desak Ilyas. Dia tak mengerti alasan yang digunakan Namira untuk menolaknya.
Lama Namira tak mampu menjawab. “Aku tanya lagi, kamu masih berharap kembali pada Wisnu?” tanya Ilyas.
“Enggak. Enggak mungkin berharap kembali dengannya walau dia menerima keadaan saya,” jawab Namira.
“Artinya, aku terlalu jelek atau menjijikan sehingga kamu tidak mau menerima cintaku?” Ilyas malah berasumsi sendiri. Dia melepas genggamannya. Tapi Namira langsung balik menarik jemari Ilyas dan menggenggamnya.
“Bukan seperti itu!” sanggah Namira. Dia sama sekali tidak menganggap dokter ganteng dan mapan itu jelek apalagi menjijikkan. Hanya dia merasa tak pantas saja.
“Kalau bukan seperti itu, lalu apa alasannya? Sudah aku bilang, aku tahu kamu ibu tanpa menikah. Aku terima kamu dan anakmu. Apalagi alasan tidak pantas yang kamu maksud?” nada bicara Ilyas penuh rasa putus asa.
“Bahkan teh Novia dan kang Kusdi sudah memberi restu untukku,” Ilyas memberitahu Namira soal restu kakak kandungnya. Namira terbelalak tak percaya. Dia pikir dia harus berhadapan dengan penolakan kakak perempuan Ilyas.
Melihat tatapan kaget Namira, Ilyas hanya tersenyum dan memberi anggukkan seperti meyakinkan bahwa semua itu benar. Dia mengambil jemari Namira dan mendekatkan ke bibirnya. “Aku serius.”
Namira tak menarik tangannya saat Ilyas mengecup jemarinya. Ilyas merasa itu tanda kalau perempuan didepannya menerima cinta yang dia berikan.
“Kita bersiap yok, kita ke rumah teh Novia. Kita nginep sekalian nanti Senin kamu urus administrasi nilai kuliah. Biar kamu enggak merasa minder bersanding denganku,” Ilyas yang sudah berdiri disamping Namira menarik tangan perempuan itu untuk berdiri.
“Teteh sekolah … Yank,” jawab Namira pelan. Ada jeda dari kalimat panjangnya ke kata berikut saat menyebut YANK untuk Ilyas.
“Nanti aku kirim surat pada gurunya. Kita titip ke penjaga sekolah sekalian kita berangkat ke Bogor.” Ilyas mendengar dengan jelas Namira malu-malu menyebut yank untuk dirinya.
“Bik, kita nginep di Bogor yok,” ajak Ilyas pada bik Iyah. Dia juga ingin bik Iyah bertemu dengan kakaknya yang bekerja di rumah Novia.
“Bibik ikut?” tanya bik Iyah meyakinkan.
“Iya, bibik ikut, makanya berkemas” sahut Ilyas.
“Honey, bawa botol sussu dan botol ASIP untuk Ilham. Nanti saat kamu tinggal urus nilai Ilham tidak perlu dibawa.” pesan Ilyas
“Kamu ada pesanan kue sampai hari Rabu?” tanya Ilyas lagi.
“Ada hari Senin dan Selasa. Ini sedang aku hubungi mau diantar sebentar lagi. Stock cukup untuk memenuhi pesanan mereka,” sahut Namira yang sedang mengirim chat pada para konsumennya.
“Besok-besok lagi kalau mau pergi tu jangan ngedadak Yah. Kalau enggak siap atau enggak cukup stock kan jadi bingung.” Karena di depan bik Iyah, Namira menyebut Ilyas dengan panggilan YAH.
“Iya Bundaaaa,” sahut Ilyas. Dia pun menuju kamarnya untuk menyiapkan baju ganti yang akan dibawa.
\===============================================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Jangan lupa tinggalin komen manisnya
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta